27.1.13

evaluasi

Saya sebenernya sih lagi cari-cari alasan biar bisa ongkang-ongkang nonton tipi di rumah, trus jadi ibu rumah tangga yang pinter memasak, trus rajin beberes biar rumah selalu rapi jali, trus jadi working at home mom biar bisa memantau perkembangan El, sambil bantuin bisnis suami. Sungguh cita-cita mulia.

Tapi yaaaaa, hasil dari long weekend tiga hari berturut-turut di rumah adalah
Satu. Acara tipi siang ga ada yang bagus. Aseli! Semuanya acara kesukaan Tini semua. Yang saya inget cuma sinetron yang landscapenya bunga-bunga krisan yang tumbuh di semak-semak te-tean. Ampun dah!
Dua. Dibutuhkan mood berhari-hari untuk saya mulai memasak. Cita-cita mau masak kue pun kandas, padahal udah beli bahannya. Jadinya hari ini cuman ngemil kacang ijo+monte+gula jawa buatannya Tini.
Tiga. Dua hari pertama malas-malasan. Hari ketiga terpaksa ngegosok patio belakang rumah (patio=halaman yang disemen buat jemur-jemur baju-red-huek) karena hampir kepeleset karena lumut. Diikuti dengan menata isi rak di dapur dan meja sebelah kulkas, ganti sprei lalu cuci baju. Setelah itu tepar sesorean. Kapan tiap sudut rumahnya bisa cling-cling kalo gini caranya ya? Padahal nyucinya juga pake mesin. Selain itu Tini juga ikut bantu. Huh hah huh hah
Empat. Pengennya main mulu ama El. Prosentase laptop disentuh tidak sebanding dengan prosentase main sama El. Disclaimer: tiap nyalain leptop, El mendekat lalu pukul-pukul. Kalo nyalain di meja kerja, El nangis ga mau ditinggal. Hihihi
Lima. Kemarin diminta suami untuk sekalian bawain mp3 player yang ketinggalan di rumah, berhubung saya mau ke renon dan suami lagi event di robinson. Yang akhirnya saya beri ke dia apa dong jadinya? CD tiga biji. Omaigot, selain pelupa mungkin saya juga suka berhalusinasi.

Kyaaaa......Canggah wang ganti bos dooooongggg.....

Atau jangan-jangan saya emang butuh yang galak-galak buat mengawasi. Hiyaaaaaa kebayang deh Ridho Sinto Mardaris lagi teriak-teriak, sambil melotot dan gebrak-gebrak meja. Ga maoooooo....


26.1.13

Memori

Pesan yang terbang dari tumpukan kertas diatas kulkas, pada larut malam minggu saat dia belum pulang. Sepertinya akan gantian. Saya yang akan sering ditinggal pulang malam.

Huahuahua...El..bangun dong..


11.1.13

Being a mother

Apa bagian tersulit dari menjadi ibu?

Kesimpulan saya sepanjang pengalaman seumur jagung saya jadi ibu, bagian yang tersulit bukanlah menahan sakit kontraksi pada proses bersalin yang diikuti malam-malam begadang karena jam biologis El belum terbentuk. Bukan nemenin main sambil menahan kantuk saat El belum mau tidur atau bangun tengah malam untuk ganti celana El yang basah karena ompol. Bukan juga kewajiban untuk belajar lagi ilmu parenting atau mau gak mau menahan diri untuk tidak nonton tivi saat pengen leyeh-leyeh pasif (maksutnya biar El ga terbiasa nonton gitchu, maklum anak umur segini kemampuan mencontoh dan menyerapnya cepat abis).

Let me tell you this. The hardest thing of being a mother is having a BIG heart to LET your little one doing what it seems impossible for him. Artinya, bagian paling sulit dari jadi ibu adalah menjadi R A T U  T E G A, membiarkan anak bersusah payah dalam proses belajarnya untuk mengenal dunia. Maklum ya, saya ibu berhati selembut sutra. Haisss..

Contoh paling anyar adalah kejadian El yang pengen turun dari kasur per setinggi 30cm tadi malam. Seperti biasa, dia merangkak ke pinggir kasur,laluuu..menurunkan kedua tangannya ke lantai dengan dua kaki masih di kasur! Ampun deh, itu posisi udah sebelas duabelas dengan 'hampir kejlungup'(hampir jatuh). Spontan dong, saya mendekati lalu memegang badannya.
Hampir saya angkat anak itu ketika suami saya berkata, "udah biarin aja".
"nanti kalau jatuh gimana?" jawab saya agak sewot. Maklum ya, 9 bulan di perut, 7 bulan ditimang-timang...
"dia udah tau kok caranya turun" jawabnya lagi.
Saya menatapnya. Suami saya ini yah, klo bicara kadang susah masuk akal, tapiiii sering benarnya *heran. Jadi deh saya lepaskan pegangan saya dari El. Tapi teteup, posisi tangan cuma beda 1cm dari badannya.

Eeeeeh benar dong! Si El putar badan, menurunkan kaki kanannya, menggeser pantatnya, lalu menurunkan kaki kirinya. Dalam sekejap, dia sudah duduk di lantai. Oh my..antara kaget dan lega. My little baby udah bisa turun sendiri! Walau dengan gerakan yang aneh. Hohoho
Dulu pernah saya ajari dia gerakan yang lebih aman untuk turun dari kasur. Putar badan,turunkan kaki, bersandar, kemudian tangan. Tampaknya ajaran saya belum berhasil.

Kemajuan keterampilan El memang lebih banyak ditemukan oleh suami. Belajar merangkak, belajar berdiri, merambat rak buku,dll. Emaknya suka ga tegaan. Maklum, anaknya masih kecil, kakinya 'mungkin' belum kuat. Rasa akan sekitar 'mungkin' belum tajam, bisa jatuh, trus kejeduk.


Hmmm..

Ibu Okta, klo tidak dibiarkan mencoba, mana mungkin anak akan mampu. Jatuh, menangis, dan mencoba lagi. Begitulah proses belajar bayi-bayi.
Tapi gimana yaaaa.. . Mungkin memang disini peran lelaki dalam pendidikan anak. Untuk jadi Raja Tega. Hihihi