31.10.08

MISSION'S NOT ACCOMPLISHED (yet!)

Perhatian! JANGAN SEKALI-KALI MEMBUANG BENDA PADAT BERBENTUK APAPUN DAN SEKECIL APAPUN KE SALURAN PEMBUANGAN KAMAR MANDI! *sambil lirik-lirik penghuni atas kamar saya

Ceritanya saiya lagi cari kamar kos baru. Gara2nya, kamar saya habis kebanjiran air kotor yang meluap dari floor drain kamar mandi saya. Sepertinya saluran pembuangan bersama kamar mandi kami (kamar saya dan kamar atas saya) tersumbat. Akibatnya seluruh air pembuangan kamar mandi atas dan seluruh kotoran yang terkandung di dalamnya, bukannya mengalir keluar bangunan, eeeh malah meluap ke kamar mandi saya dan menerus hingga membanjiri kamar saya. Peristiwanya terjadi selama saya berada di jogja. Dan setelah 2minggu, ketika tengah malam kehujanan saya menginjakkan kaki lagi di Ubud, taraaaa….kamar saya penuh jamur, bau, basah…. Saat itu saya -yang merasa tidak pernah membuang rambut sekalipun ke dalam saluran air- sudah tidak punya energi lagi untuk sekedar bersumpah-serapah…

Dan dua minggu yang lalu, tepat ketika saya bangun tidur di hari senin pagi, wuaaaa kamar mandi saya bocor! (what a great thing to start the week) Tepat ditengah-tengah , air menetes lewat lubang kabel lampu. Gile..tiba2 kebayang saya mati kesetrum saat lagi mandi. Naudzubillahi min dzalik. Langsung saya protes ke yang tuan tanah. Dan yang dilakukan beberapa hari kemudian hanyalah memindah lokasi fitting lampu, airnya masih menetes. Cape deeeh… protes lagi dan lagi dan lagi… Akhirnya beliau mengaku kepada saya bahwa ia tak punya ide apa yang harus dilakukan pada kamar mandi saya. Lokasi septic tank aja ia tidak tahu karena gambar bangunannya ia tak punya. Jadi apakah air yang menetes itu air kotor atau air bersih? Only God knows.

Karena itu, sudah 2 minggu ini saya punya misi untuk mendapatkan kos baru. Kagak ada yang cocok. Ada yang belum jadi (dan sepertinya kalau sudah jadi saya gakuat bayar karena mewah banget kamar mandinya), kamar sudah penuh, piara anjing super ganas, ga ada jendela (whew!), sudah jadi tinggal pintunya belum terpasang (tapi entah masangnya kapan), dan baru saja keliling-keliling hasil ngrampok Lenny dari bayinya, enggaa dapet juga. Nongkrong ngeliatin ibu kosnya bince melukis pun engga membantu. Padahal itu harapan trakhir. *sigh

Kembali ke kamar saya. Hujan-hujan. Sendirian. (tapi engga galau, yeee!) Berpikir, kok bisa kemalangan tentang kos-an ini berlanjut (btw ini kos kedua saya di Bali-dan memikirkannya membuat saya ingin mengutuk klien ‘princess’ saya yang entah-rumah-keberapanya seluas 1500meter persegi sedang jadi bisul di hari-hari kerja saya). Bahkan harapan untuk mendapatkan keberuntungan di hari ulang tahun saya pun tak terbukti. Mission’s not yet accomplished. Selamat Ulang Tahun aja deh buat saya.

25.10.08

syukur

Tema hari sabtu lalu adalah haru biru dan rasa malu.

Saya datang ke dua buah sesi Ubud Writer and Reader Festival. Tamu-tamu kehormatannya adalah Aldo Rei, Triyanto Triwikromo, Andrea Hirata, Camilla Gibb, dan Lily Yulianti Farid. Coba saya simpulkan satu-satu cerita hidup yang mengantarkan mereka sampai duduk di (mirip) podium depan saya sabtu itu.

Naldo Rei. Mempunyai masa kecil suram, hidup bergerilya di hutan di awal usianya, hidup dengan keganasan tentara kopassus setelahnya, kehilangan orang tuanya dan teman2 seumurnya, mempunyai banyak kisah pahit yang sebagian kecil diceritakan pada kami siang itu tetapi sesungguhnya tidak ingin saya simpan dalam kepala karena sedihnya. Dia menuliskan semuanya dalam Resistance:a Childhood Fighting for East Timor. Triyanto Triwikromo. Menghabiskan masa kecil di lingkungan penuh kekerasan, prostitusi, dan ketidakpedulian umat berbagai agama terhadapnya. Masa kecil yang sangat membekas. Dia memilih untuk menuliskannya dalam cerita fiksi sarat makna dibandingkan sebuah memoar. Salah satunya adalah “Anak-anak Mengasah Pisau” (tersirat dalam judulnya kan?)Andrea Hirata. Menghabiskan masa kecil (di pulau yang kaya raya) dengan penuh keterbatasan dan ketidakadilan. Dia dan teman-temannya tetap disemangati oleh seorang guru untuk terus belajar hingga nasib membawanya mendapatkan pendidikan dan penghidupan lebih baik baik. Dia menuliskannya dalam novel laris berjudul laskar pelangi.Camilla Gibb. Bercerita tentang novel penuh penghargaan miliknya, Mouthing The Words. Dia membacakan sedikit bagian dari novelnya. Bagian dimana si anak itu bercerita usaha ibunya untuk menggugurkan dirinya ketika tahu dirinya ada, dan cerita usaha ayahnya untuk mengajaknya beraktifitas seksual.Lily Yulianti Farid. Jurnalis ini menceritakan banyak pengalaman di dunia nyatanya ke dalam cerita2 pendek nan lucu. Tidak menyangka, si ibu anggun yang berbicara lemah lembut ini ternyata punya cerita yang garang. Salah satu bagian yang diceritakannya adalah tentang remaja yang sepertinya melampiaskan kekecewaan dengan melempari rumah istri muda ayahnya. Diceritakan dengan jenaka, dan sangat membumi (setting tempat: Sulawesi). You should read it yourself.
Jadi pada intinya, mereka berlima membawa cerita-cerita sedih milik manusia kecil yang kurang beruntung dalam nasib awal hidupnya. Masing2 tokoh memiliki cara sendiri2 untuk keluar dalam kubangan itu.

Saya lalu melihat pada diri sendiri. Puh, malunya saya. Banyak mengeluh, banyak protes, kurang bersyukur. Padahal hidup saya, sejelek apapun itu, masih jauuuuh lebih baik lagi daripada si anak-anak ini. Saya tidak pernah melihat kematian orang2 terdekat saya, tak perlu melalui perang, tak perlu hidup dalam exploitasi perempuan, tak pernah mengalami kekerasan fisik, mendapat pendidikan yang cukup, mendapat orang tua yang perhatian (sampai sekarang☺), dan mempunyai keluarga yang adem ayem aja tanpa konflik berarti.

Jadi apalagi yang harus saya keluhkan. Lebih banyak yang harus disyukuri. Lupa itu manusiawi, tapi lupa bersyukur pada Allah adalah keterlaluan!

18.10.08

te-je

Di jogja lagi ada mainan baru, namanya TJ (baca te-je, bukan ti-je) alias TransJogja. TJ adalah sistem transpor baru untuk mobile seputaran jogja dengan moda bus. Nah berhubung jarang2 pulang jogja, dan sebagai mantan pengguna bus kota sejati, nyobain TJ kali ini khusus diagendakan dalam acara pengisi waktu liburan. Ditengah agenda liburan yang sedemikian padat dengan acara bermalas-malasan, akhirnya ditemukanlah suatu siang dimana tidak ada yang sempat menjemput saya setelah paginya saya harus berada di tengah kota untuk bersenang-senang.

Ternyata naik TJ itu bisa menyenangkan juga loh. Banyak hal yang menarik dan berbeda jika dibandingkan pengalaman naik sistem serupa seperti busway atau translink. Beberapa hal yang dicatat selama perjalanan saya berdasar urutan waktu (maap, lupa jalurnya yang saya tempuh)

Satu, bisa buat ngecengin cowok cakep nan keren. Kesimpulan ini diambil setelah di halte pertama saya datang mas nan keren yang bercakap-cakap dengan si penjaga halte. Si penjaga bertanya kenapa si mas jarang keliatan. “habis pulang kampung”, kata si mas. Nah saya menyimpulkan bahwa si mas nan keren ini emang sering naik dari halte ini (apalagi tj punya halte tetap dan penumpang g bisa naik turun seenak perut). Kalau saya sering-sering naik dari halte ini, saya bisa sering2 dunk ketemu masnya. Jadi peluang saya untuk ditaksir masnya kan jadi lebih besar (halah!)

Kedua, bisa sksd sama yang jual tiket atau penjaga pintu. Namanya juga orang jogja, mas/mbak penjaga ini juga suka ngobrol, termasuk kepada orang yang ga dikenal sebelumnya. Apalagi kalau misal saya sudah langganan di halte tersebut. Jadi lumayan kan kalau misal lagi bokek gapunya duit, bisa ngrayu naik gratisan (bukan saya looooh:p) atau misal lagi lupa bawa bacaan buat nunggu bis yang lumayan lama-walau pasti datang- kan jadi ada pilihan manusia lain untuk ngobrol (pengalaman menunggu bis di halte fak.hukum ugm yang krik krik krik nan sunyi).

Yang ketiga lebih pada sebuah peringatan. Naik bus di jogja pun ada unggah-ungguhnya. Jangan lupa kalau bis sedang penuh, berikanlah tempat pada yang lebih tua. Hohoho.. (hasil menguping-eh engga menguping, mereka saja yang berbicara terlalu keras-segerombolan abg berlogat Jakarta yang sepertinya baru saja dimarahi oleh penumpang lain karena rebutan kursi dengan orang tua)

Hal yang menarik berikutnya adalah perabot yang dipasang. Kalau desain tiap halte yang berbeda itu sih wajar, tapi ini perabot tambahan yang diletakkan di dalamnya yang sepertinya bukan bagian dari desain halte pada awalnya. Menarik karena fasilitas umum bisa dipersonalisasi sedemikian rupa dan menarik karena menunjukkan kelokalan walau dalam skala sempit. Misal ada halte sepi yang cuma dipasangi kursi kayu jelek, ada dengan kursi bambu khas jogja alias lincak, ada juga dengan kursi dipolis lebih halus. Halte di perempatan ringroad-jakal dilengkapi meja kursi metal cantik, sepertinya sumbangan took furniture terkenal di belakangnya. Ada yang dilengkapi dengan tanaman (setelah tengok kanan-kiri memang didekat situ ada yang berjual tanaman). Ada halte yang memutar radio local (sepertinya si mbak petugas ga mau ketinggalan berita hihihi). Apapunlah yang membuat halte itu nyaman. Mungkin juga agar penumpang ga ngomel kalau bus terlambat.

Sudah yang kelima ya? Nah, kalau bis sedang penuh, si petugas tidak akan menaikkan penumpang-bahkan kalau penumpangnya ngotot ingin naik. Lain dengan bis kota jalur 5. Udah kaya dendeng keasinan kali. Mau banyak yang tiba2 jadi kernet dadakan (alias bergelantungan di pintu) mah teteup aja di masuk2in. Lain juga dengan translink. Karena ga ada yang ngatur, mo desak2an ya monggo, mo nunggu bis berikutnya ya sumonggo. Ga ada yang peduli.

Oh oh ada yang lucu. Sebagai seseorang yang belajar berarsitektur di kota jogja, saya super malu. Lihatlah gambar di bawah ini. Hayo, apa yang salah??

Mana ada orang bisa menggunakan ramnya kalau langsung terhadang pot pohon selebar rs.sardjito? Sepertinya kalau malem si pohon suka numpang tidur di halte biar ga kedinginan. Berhubung si pohon ga punya kaki, jadi ngesot aja deh dia pakai ram yang tersedia :p Wow pecinta pohon sekali tuh yang ngedesain. Green banget!!

Sambil memperhatikan si pak supir yang buka semua kancing baju seragamnya, memakai sarung, dan kipas2 pakai kipas sate ala engkong2 betawi nongkrong di bale2 akibat jogja yang super gerah akhir-akhir itu, saya berujar dalam hati. : This is a great improvement for my beloved hometown, but don’t take back and relax, because it’s not perfect enough yet.

lomba

iseng2 googling nama saya sendiri gara2 gabisa tidur habis makan chicken wing berbumbu sambal thailand di luar jam normal makan. Eeeeehh...nemuin bahwa ada yang ngereview karya kami bertahun2 lalu. (bang cana dan mr ochie, rindu sesi2 eksplorasi bersama kalian, terimakasih atas kerjasamanya). It's always exciting to have unexpected stranger saying good things about your work. see the page here.

Semenjak memasuki dunia kerja saya emang sudah tidak aktif nge-lomba lagi. Capeklah, ga ada waktulah, ga punya sumber dayalah, ga punya fasilitaslah, banyak alasannya, lebih tepat dibilang excuse karena pada dasarnya saya memang jadi malas berpikir. Kenapa malas berpikir? Karena di tempat kerja saya, saya punya kecenderungan untuk berpikir desain ala guru saya dibanding mengembangkan pemikiran saya sendiri. Padahal seharusnya, otak guru saya itu dijadikan referensi saja, bukan dogma. Walau hasil akhirnya bisa jadi bukan keputusan saya sepenuhnya, toh itu sah-sah saja. Lha wong memang bukan saya kok prinsipalnya. tapi tetap sebagai murid, untuk meningkatkan percaya diri, harus tetap merasa : "what would he do without me?" hehehe

Nah sebenarnya, mengerjakan lomba itu bisa dibilang latihan untuk mengembangkan pemikiran dan kemampuan diri sendiri. Lebih bebas berekspresi dan berpikir (eh berekspresi dulu baru berpikir atau sebaliknyakah?). Tapi dasar udah keseringan dikekang, jadi deh otak ini berpikir terlalu santai alias lambat. Huh! Bang krip2 dan mr.bazgu, maapkeun :p

Okeh!jadi sekarang ayo kita rajin lagi! (tapi kok udah ngantuk yak?!halah!)

5.10.08

jeruk nipis vs deterjen

Cara tradisional memang masih ampuh mengatasi masalah2 yang engga bisa diselesaikan oleh hal2 berbau teknologi terbaru.

Ceritanya begini. Tshirt baru saya kelunturan warna baju lain. Belum ketahuan sih yang mana tersangkanya, yang jelas warna abu2 polosnya bertambah pola loreng-loreng kemerahan. Haduh, bete beribu bete deh ya. Belum terpakai sama sekali, masa sudah harus dikandangkan. Dikucek-kucek pakai tangan engga berhasil. Dicolak-colek pakai sabun colek, eh tetep ada juga. Direndem ulang pake deterjen, engga mantap. Huh, rugi bandar dah aye.

Adek saya tiba2 kasi saran. Dipersingkat ke intinya: Digosok pakai jeruk nipis aja. Emang bisa? Iya, coba aja. Udah pernah nyobain? Hehehe belum..temenku yang nyobain. Baju kuningnya kelunturan celana item. Berhasil ga? Ya lumayan agak ilang. (saya meratakan alis-mode ga percaya) Siapa yang bilang ke temenmu? Ibunya.

Akhirnya saya ikuti saran ibu teman adik saya itu. Nothing too lose lah. Ditambah embel-embel harus dilakukan sesegera mungkin, membuat saya langsung cabut berkeliling kota (huh, ga green banget sih!) mencari jeruk nipis yang tiba-tiba menjadi langka. Sepertinya banyak orang yang bajunya sedang kelunturan dan mendapatkan saran untuk menggosoknya dengan jeruk nipis juga :p. Puter-puter, dapet juga di pusat kota. Akhirnya… (sampai rumah ibu saya berkomentar:ngapain beli, bukannya di lemari es ada??gdubrak!!oh oh saya…)

Potong-potong, gosok-gosok, bilas-bilas, potong-potong, tarik napas, gosok-gosok, bilas-bilas, potong-potong, gosok-gosok, wuaaah loreng-lorengnya sudah memudar, bilas-bilas, jemuuuuur…. Sebenernya masih ada sedikit bekas lunturnya. Cuma kalau ada yang bisa melihatnya, berarti dia ngefans banget sama saya. Sebegitunya banget siiiiy melototin baju saya:p

Back to nature. And the winner is… jeruk nipis.

2.10.08

overpizzas


Saya paling senang melihat orang ketawa. Rasanya cuma ada energi positif saja di udara. Apalagi ketawa-ketiwinya barengan orang-orang lama dalam hidup saya, orang-orang yang bersama mereka saya sudah melalui satu babak dalam hidup saya.
Kembali ke jogja. Hari terakhir di bulan ramadhan. Chat over pizzas (Indonesian pizzas without extra permesan, precisely). What a perfect end of day.