Deeekkk, mirip mama aja yah. klo bulu mata, boleh deh mirip papa. Hahahaha
*ampuuunn :D
Maklum, kita gak ada prewed2 an, so saya buatin kartun tersebut aja. Untungnya groomnya juga suka. Iya, iya saya tahu emang agak agak bau India. Tinggi rambutnya juga agak lebay kayaknya yah. Tapi yang saya gak terima adalah, masa dia bilang disitu dia terlihat cool dan saya yang terlihat genit. Semua setuju kan bahwa itu tidak benar? *asahpisau


Oh ya, buat semua, dapet salam dari kodoknya Lotus! Hahaha *Halaaaaaaah
Masih dalam episode cerita jalan-jalan makan-makan bersama Neng Vebri. Huhuhu I'm gonna miss her. Last week was her farewell party. Hope she'll get better life out there! Good luck Miss!
Secara keseluruhan, saya menyukai ambiencenya. Warnanya biru ke turquoise-an. Enak di mata. Banyak cahaya masuk.
Bahkan disediakan tempat duduk di balkonnya sehingga bisa makan sambil melihat lalu lalang orang di bawah sana. Hanya, saya engga tahu pasti apakah nyaman untuk duduk di sana, berhubung balkonnya super sempit.
Saya naksir hood lampu gantungnya yang terbuat dari caping petani Vietnam! Lebih halus daripada caping2 yang biasa saya temukan disini. Tolong, ingatkan saya untuk membawa pulang satu jika lain kali saya ada kesempatan buat jalan2 ke Vietnam ya!
Saya juga naksir tanaman dalam toples ini! Cuma berupa selembar dua lembar daun, namun di ujungnya tumbuh akar langsung. Waktu saya tanya, mereka mendatangkannya langsung dari Vietnam. Huuuuh rasanya pengen ngantongin satu, trus bawa pulang deh *toyorOkta
Truuuss, saya naksir alas meja saya. Kolase keramik warna. Bukan barang baru sih. Tetapi saya suka perpaduan warnanya. Potongan-potongannya juga terlihat lebih 'mikir' dibanding bagaimana penjual di Tegalalang biasa membuat produknya.
Pesanan Veb datang duluan. A bog bowl of something. Slurp slurp.
Taraaaa, akhirnya makanan saya yang judulnya dalam bahasa aneh yang sudah tidak saya ingat pun datang! Dan reaksi saya adalah "Hah, cuma begini doang??". Hahaha. Maklum, laper abis plus nunggu lamak! So, ketika yang datang adalah bihun beras plus lumpia udang ala Vietnam maka saya pun jadi pengen pingsan *nguk.
dililitkan ke tusuk sate yang lebar...
lalu dibakar di atas arang deh!
Biasanya, saya cuma beli utuk bungkus bawa pulang. Tetapi, kali ini, ditemani tipat, kami pun makan di pinggir jalan, duduk di belakang ibu penjualnya sambil ngobrol ngalor ngidul.
Selain sate, si ibu pun menjual pepes ikan, plecing kangkung, dan nasi sela. Nasi sela adalah nasi yang dicampur dengan ketela. Peninggalan jaman jebot ketika harga nasi masih mahal. Jadi, terhitung lumayan beragam pilihan menu dari penjual jalanan semacam mereka.
Pura Pasar Agung nya mulai terlihat mengecil,
puncaknya mulai kelihatan.
Oh wait, saya salah. Setiap bebatuan yang tampaknya adalah puncak ternyata bukan puncak. Karena setelah didekati ternyata masih ada tempat yang lebih tinggi yang sebelumnya tak terlihat dari bawah. Hos hos hos. Untungnya saya menikmati merayap di bebatuan. Ditemani sinar matahari pagi, bikin ketagihan.
Apa yang disebut puncak di Pura Pasar Agung ternyata sempit sekali. Kalau kami datang bersepuluh, sudah dijamin gak ada bedanya dengan metromini dah! See, it's already fully occupied by two person sleeping under the sun! :)
Puncak dari jalur Besakih yang terlihat dari sini.
The cloud is on my eye level!
Jempol ane ijin nampang sebentar dulu ya sodara-sodara. Sekalian kenang2an buat sandal yang udah almarhum.
Thanks to this two! Dua orang yang berbahasa Jawa melulu sepanjang perjalanan. Logat Jawa saya pun disebutnya tidak mirip seperti orang Jawa. Kok iso to yo.... Tak njipuk kursus boso Jowo wae po yo?
Secara spasial, taman ini menyenangkan. Banyak sekali ruang terbuka yang luas. Secara proporsi, jauh lebih luas dibanding pura2 besar terkenal lainnya di Bali. Kolam yang diikuti dengan halaman hijau di bagian depan.
Kompleks pura nya sendiri terletak di bagian tengah yang dikelilingi dengan kolam teratai.
Pengunjung, kecuali berniat untuk berdoa, tidak diperbolehkan memasuki kompleks pura dalam karena disucikan oleh umat Hindu. Sebagai gantinya, dibuatkan jalan setapak yang mengelilinginya agar bisa mengintip bangunan pura dari luar pagar.
Ukirannya pun menurut saya cantik.
Dibagian belakang kompleks terdapat taman luas yang dipenuhi pepohonan. Rindang, namun terasa spooky. Beberapa bale dibiarkan tak terurus. Kolam kelilingnya, or should i say 'selokan', dipenuhi lumut. Padahal potensial untuk dijadikan taman tempat bercengkrama. Apalagi kompleks ini diapit dua sungai besar yang membuatnya jadi terasa sejuk.
Oya, peserta jalan-jalan lainnya adalah Becks dan Krip2. Tuh liat gayanya masing2. Krip2 tetap dengan cube kesayangannya, sedangkan Becks, hadoh, dikau menenteng-nenteng apaan siiih.
Jadi cocok deh! Udara dingin, semilir angin, plus terpaksa harus ikutan catur brata yang salah satunya adalah dilarang bepergian. Seharian diisi dengan bangun siang, malas2an, masak2an, rumpi2an, glundhang glundhung, hehehe. Liat tuh... si Pilo aja malas2an!
Begini nih keadaan jalan raya Payangan di waktu Nyepi. Yang biasanya penuh truk besar karena merupakan jalur utama yang menghubungkan Denpasar dan Kintamani, hari itu jadi sepi dan dipenuhi pejalan kaki. Banyak juga yang berkumpul, ngobrol di tengah jalan. Kata Kadek yang menemani kami, kalau sore hari lebih banyak dipenuhi orang pacaran hihihi.
Saya jadi bisa deh memfoto belokan jalan ini! Salah satu penggalan jalan favorite saya selama tiga tahun terakhir! Saya melewatinya tiap pulang dan pergi ke kantor. Kalau hari cerah, saya bisa melihat kumpulan Batukaru sebagai latarbelakangnya.
Hari berikutnya, saya bangun pagi-pagi. And i found this never forgotten view! View depan kamar kala matahari masih sembunyi-sembunyi. Hanya ada kabut dan beberapa suara motor yang sudah mulai memenuhi jalanan saja. Saya baru bisa memfotonya sekarang, berhubung sewaktu tinggal disini saya masih belum punya kamera.
Sekalian sesi rutin 'membawa Pilo berjalan-jalan', saya mengajak Vebri dan Yesha untuk berjalan-jalan lewat sawah di seberang jalan, ke arah barat lewat sawah, sampai ke kantor lama. Sebenarnya, agak merasa bersalah sih ketika mereka kesulitan melewati jalan yang 'tak biasa'. Tapi semua hepi kaaaaaan :D?
Untung akhirnya Non Yesha menemukan batu pijakan yang jaraknya dekat! Jadilah, cita-cita untuk membuat rute loop bisa tercapai.
Dan masuklah kami ke private area nya hotel lewat area dalam yang biasa mereka pakai untuk yoga. Untung sepi! hihihi. Ngomong-ngomong, saya baru sekali ini loh masuk ke masterpiece hasil desain guru saya ini. Agak memalukan sih memang, berhubung selama tiga setengah tahun, saya bekerja hanya 500m dari pintu gerbangnya. Huff...males2an sih @__@. Oke lain kali kita sempatkan untuk jalan2 ke lingkungan hotelnya! Kali ini, cuma numpang keluar lewat pintu depan ajah. Hohoho
Keluar dari hotel, menyempatkan mampir dulu ke kantor lama dan rumah Bu Wayan. Sayangnya warung depan sedang kehabisan gerry chocolatos. Padahal sudah kangen beli Gerry sebungkus dengan harga lima ratus rupiah saja *toyor2supermarket Bintang. Keadaan pedesaan di Bali umumnya terlihat seperti foto di atas. Masih terasa skala manusianya kan?
Namanya juga arsitek. Kemana lagi jalan-jalan kalau bukan melihat 'karya arsitektur'. Dan yang jadi sasaran saya, Vebri dan Japa kali ini adalah PotatoHead. Sebuah beach club baru di kawasan Seminyak. Tempat ini sudah ada dalam daftar kunjung saya semenjak saya tahu bahwa interiornya dikerjakan oleh desainer yang sama yang (pernah) mengerjakan bangunan yang sedang saya kerjakan di kantor.
Saya jatuh cinta dengan bangunan ini pada pandangan pertama. Kulit bangunannya terbuat dari jendela bekas (atau tampak bekas?) berbagai ukuran yang ditata dengan rapi jali! Saya membayangkan betapa pusingnya mengumpulkan jendela2 dengan gaya yang sama (fix louver yang klasik) sebanyak itu, lalu menata dan menyambungnya satu persatu.
Apa yang sukai selanjutnya adalah sekuens sirkulasi yang dibentuknya. Ruang sempit untuk satu pejalan kaki. Yang pertama adalah ketika masih diluar bangunan. Overflow air di atas dinding semen ternyata bisa menciptakan refleksi yang cantik.
Yang kedua, ketika menuju meja concierge. Lorong kurvanya terasa menyenangkan. Sesuatu yang berbeda dengan apa yang biasa saya kerjakan sehari-hari.
Sebenarnya saya agak kecewa ketika di ujung lorong kurvanya. Tidak ada suatu kejutan yang berarti selain halaman yang luas dengan laut di ujung pandangan. Entah kenapa ruang disitu tidak terbangun dengan sempurna. Endingnya kurang 'meledak'!
Tempat yang menurut saya adalah tempat utama, digunakan untuk bar, yang menurut saya menjadi kurang maksimal karena di tempat tersebut pengunjung bisa menikmati sunset yang paling indah.
Ada bar kedua yang menurut saya lebih pas. Ditempatkan di sayap kanan bangunan, tetap dengan view lautnya.
Secara umum, saya lebih suka sekuens awal bangunan ini dibanding ruang2 untuk fungsi utamanya. Meskipun begitu, saya menyukai sentuhan2 kecil seperti lampu di atas.
Juga dinding tanaman di ujung kolam ini. Efeknya seperti 2D, padahal aslinya mempunyai kedalaman.
Oh ya, teman saya memesan ini. Lucu ya tampaknya. Sayang saya gak boleh ngicip karena ada alkoholnya :(.
Dan yang lebih menyenangkan adalah, ada si lucu Syahran yang sedang hobi berjalan yang bergabung di sore itu. Errr....maksudnya yang sebelah kiri yak! Untung hari masih sore. Tapi tolong yaaa, jangan bawa balita Anda waktu tengah malam. Kadang2 ada ajep2nya sih :D.