Tampilkan postingan dengan label bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bali. Tampilkan semua postingan

5.6.11

Pizza

Setelah seminggu anjrot-anjrotan ngerjain proyeknya yang super duper luas, Neng Vebri pun mengajak saya makan siang di Ubud. Saya ditraktir, cihuiiiii! Katanya soalnya saya sempat bantuin sampai lembur-lembur sagala. Padahal saya kan bantuin emang karena permintaan pak bos. hihihi

Mau makan apa kita?
Aku pengen makan pizza nih!
Dimana? Pizza Bagus?
Ah bosen.
Trus, mau makan dimana?
Kemarin makan di pizza enak banget di Hindus. Tapi mahal banget.
Mau di Sari Organik?
Atau di Bunute?
Ada juga sih di Flava. Tapi gatau mereka masih sedia atau engga.
dan percakapan yang biasa terjadi setiap mau makan ini pun terus berlanjut. hihihi

Setelah muterin Ubud dan melewati Lotus Cafe di Jalan Monkey Forest,

"Naaah Veb! Cobain makan disini aja yuk! Harusnya enak pizzanya!"


Lotus Cafe terhitung restoran tua di Pulau Bali dan sudah tersebar di beberapa bagian pulau. Di Ubud sendiri ada dua cabang.


Ternyata kami datang di saat mereka baru saja buka. Maklum, hari itu ada Perayaan Kuningan. Jadi restoran buka di tengah hari. Sebenarnya mereka hanya membuka tempat makan bagian depan, tetapi mereka berbaik hati kepada kami yang ingin duduk di belakang, di dekat kolam lotusnya yang tenang. Hihihi.


Dan pizza Diavolo plus garden salad kami pun datang. Enak. Alhamdulillah, cepat habis! Hehehe

Oh ya, buat semua, dapet salam dari kodoknya Lotus! Hahaha *Halaaaaaaah

Makasih buat traktirannya ya Veb!

Ps. Buat yang janji nraktir Pizza Nanamia dari tahun lalu. Mana yaaaa traktirannya... ??

Ala Vietnam

Masih dalam episode cerita jalan-jalan makan-makan bersama Neng Vebri. Huhuhu I'm gonna miss her. Last week was her farewell party. Hope she'll get better life out there! Good luck Miss!

Kali ini mengunjungi sebuah restoran Vietnam di atas Bintang Supermarket Ubud. Sewaktu kami mengunjunginya, tempat ini baru dibuka sehari sebelumnya. Jadi, servisnya belum seratus persen oke. Kami yang lagi super duper lapar, waktu itu harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan pesanan kami. Sempat juga pengunjung yang datang belakangan malah mendapat makanannya duluan. Hiks-hiks. Mulai deh, saat-saat menunggu dipakai untuk lirik2 interior restoran kecil ini.

Secara keseluruhan, saya menyukai ambiencenya. Warnanya biru ke turquoise-an. Enak di mata. Banyak cahaya masuk.

Bahkan disediakan tempat duduk di balkonnya sehingga bisa makan sambil melihat lalu lalang orang di bawah sana. Hanya, saya engga tahu pasti apakah nyaman untuk duduk di sana, berhubung balkonnya super sempit.

Saya naksir hood lampu gantungnya yang terbuat dari caping petani Vietnam! Lebih halus daripada caping2 yang biasa saya temukan disini. Tolong, ingatkan saya untuk membawa pulang satu jika lain kali saya ada kesempatan buat jalan2 ke Vietnam ya!

Saya juga naksir tanaman dalam toples ini! Cuma berupa selembar dua lembar daun, namun di ujungnya tumbuh akar langsung. Waktu saya tanya, mereka mendatangkannya langsung dari Vietnam. Huuuuh rasanya pengen ngantongin satu, trus bawa pulang deh *toyorOkta
Oh ya, saya juga naksir finishing kursi di background itu. Let's bookmark it!

Truuuss, saya naksir alas meja saya. Kolase keramik warna. Bukan barang baru sih. Tetapi saya suka perpaduan warnanya. Potongan-potongannya juga terlihat lebih 'mikir' dibanding bagaimana penjual di Tegalalang biasa membuat produknya.

Pesanan Veb datang duluan. A bog bowl of something. Slurp slurp.

Mana nih punya saya?

Taraaaa, akhirnya makanan saya yang judulnya dalam bahasa aneh yang sudah tidak saya ingat pun datang! Dan reaksi saya adalah "Hah, cuma begini doang??". Hahaha. Maklum, laper abis plus nunggu lamak! So, ketika yang datang adalah bihun beras plus lumpia udang ala Vietnam maka saya pun jadi pengen pingsan *nguk.

Tapi, tetep enak kok, Bu! Suer! (hihihi, antisipasi kali2 ibu pemilik restonya mampir ke halaman ini. biar saya gak dituntut:D) Rasanya sedikit berbeda. Agak asam. Mungkin, masakan Vietnam memang begitu kali ya. Cuman.... kurang buanyak! Yaaah ga sebanding lah sama harganya. FYI, saya menghabiskan sekitar 50rb untuk makan siang saya kali ini.

Tapi serius deh. Memang kurang banyak! Buktinya, bule yang tadinya duduk makan di belakang kursi saya sewaktu di dalam restoran, saya dapati dia tengah makan lagi di warung nasi campur yang juga ada di kompleks supermarket. Buahahaha...

sate lilit

Di pertigaan dekat tempat tinggal saya, tepatnya di belokan tajam menuju Panestanan di sebelah Museum Blanco, ada penjual sate yang satenya enyaaaak banget deh. Sewaktu kantor saya masih di Payangan, yang notabene saya akan melewati pertigaan ini, saya sering kehabisan. Promosi gak berlebihan kok. Cobain aja sendiri klo gak percaya! Seperti si non Vebri ini.

Kali ini, beliau memarkir mobilnya di kos saya setelah di beberapa kesempatan berikutnya urung membeli sate karena tidak menemukan tempat parkir di dekat tukang sate tersebut. Dari kos, kami cuma perlu berjalan kaki sekitar sepuluh menit saja*. Dan nampaknya, sepuluh menit berjalan kaki sudah cukup membuat saya lebih lapar. Huaaa


Mereka menjual dua macam sate. Sate lilit dan sate tusuk. Favorit saya adalah sate lilitnya. Menurut saya, ini sate lilit terenak yang pernah saya rasakan seantero Bali. Lebih banyak bumbu yang terlibat dan lebih tercampur. Adonan ikan yang sudah digiling bersama parutan kelapa dan bumbu-bumbu khas Bali lainnya....
dililitkan ke tusuk sate yang lebar...
lalu dibakar di atas arang deh!
Biasanya, saya cuma beli utuk bungkus bawa pulang. Tetapi, kali ini, ditemani tipat, kami pun makan di pinggir jalan, duduk di belakang ibu penjualnya sambil ngobrol ngalor ngidul. Selain sate, si ibu pun menjual pepes ikan, plecing kangkung, dan nasi sela. Nasi sela adalah nasi yang dicampur dengan ketela. Peninggalan jaman jebot ketika harga nasi masih mahal. Jadi, terhitung lumayan beragam pilihan menu dari penjual jalanan semacam mereka.

Nyamnyam. Tambah minta bungkus buat di rumah aah. Kali-kali, energinya nanti habis setelah dipakai untuk jalan kaki pulang ke rumah. Hahaha.


* Tau gak sih? Ternyata dengan berjalan kaki saya menemukan banyak sudut yang baru saya lihat di sekitar tempat tinggal saya, padahal saya sudah tinggal di lingkungan ini lebih dari tiga tahun!

9.5.11

ke Agung lagi!

Kata teman saya, orang yang suka pergi ke gunung itu orang yang galau. "Ah, masa sih?" jawab saya kemudian. Padahal, saya pergi ke gunung itu itu murni karena tergoda pemandangan yang cantik di atas sana.

Beneran loh. Saya engga bohong. Melihat bumi dari perspektif yang berbeda itu sangat menyegarkan. Makanya, waktu beberapa waktu yang lalu mbak Indah mengajak saya main ke Agung lewat rute Pasar Agung yang belum pernah saya lewati, saya pun langsung hore2. Bertiga bersama mas Ari yang jauh-jauh datang dari ibukota, kami pun naik pada tengah malam, pada cuaca yang Subhanallah cerah sekali. Malam berbintang, tanpa hujan padahal dalam musim penghujan, angin berhembus pelan, tanpa acara menggigil pula.

Sayangnya persiapan saya pribadi sangat kurang. Baru diberikabar dua hari sebelum jadwal pergi, pas saya lagi padat kerjaan di kantor, plus saya skip olahraga pagi selama seminggu sebelumnya *ketok Okta. Dan yang paling buruk adalah, saya lupa bahwa Agung itu gunung yang tinggi! Agak-agak nggaya gitu deh. Secara sebelumnya pernah sampai puncak lewat jalur Besakih yang lebih parah. Hahaha. Jadilah saya yang paling lambreta lamborgindang. "Hadoh, itu lampu Pura Pasar Agung (tempat kami memulai perjalanan) kok ya masih kelihatan terus sih " batin saya setiap kali menengok ke belakang.

Sempat muntah di awal perjalanan. Kaki kram melulu, padahal sebelumnya gak pernah. Freezing for no reason (oh how i miss my red jacket that i forgot i have it). Pusingpusing gak jelas. Sandal putus talinya. Pokoknya menderita deh. Sampai-sampai saya bikin janji, bakal telpon ayah ibu untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang sudah pernah saya perbuat *nguk. Untungnya mbak Indah dan mas Ari sabar sekali. Permintaan saya untuk ditinggalkan saja pun tidak dikabulkan. hihihi.

Sewaktu berhenti beristirahat, ketika mbak Indah membuat minuman, saya pun tertidur. Saya merasa bersalah, soalnya tidur lumayan lama, hampir satu jam. Begitu bangun, saya pun jadi segar dan bisa jalan agak lebih cepat. Woalah ternyata penyebabnya karena saya kurang tidur saja *pentung Okta. Pelajaran berharga, baik ketika menyetir ataupun naik gunung, jangan dalam keadaan mengantuk! Hehehe

Pagi hampir menjelang. Solat subuh di bebatuan rasanya menyenangkan sekali. Begitu selesai, salam ke kanan melihat langit, salam ke kiri melihat jurang. Waaaa, rasanya jadi beriman dalam seketika :D.

Ketika hari mulai terang, it's a wow view again.

Pura Pasar Agung nya mulai terlihat mengecil,

puncaknya mulai kelihatan.

Oh wait, saya salah. Setiap bebatuan yang tampaknya adalah puncak ternyata bukan puncak. Karena setelah didekati ternyata masih ada tempat yang lebih tinggi yang sebelumnya tak terlihat dari bawah. Hos hos hos. Untungnya saya menikmati merayap di bebatuan. Ditemani sinar matahari pagi, bikin ketagihan.

Apa yang disebut puncak di Pura Pasar Agung ternyata sempit sekali. Kalau kami datang bersepuluh, sudah dijamin gak ada bedanya dengan metromini dah! See, it's already fully occupied by two person sleeping under the sun! :)

Puncak dari jalur Besakih yang terlihat dari sini.

The cloud is on my eye level!

Jempol ane ijin nampang sebentar dulu ya sodara-sodara. Sekalian kenang2an buat sandal yang udah almarhum.

So, emang cantik kan di atas sana (ignore my toes, please:D) ? Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Alhamdulillah.

Thanks to this two! Dua orang yang berbahasa Jawa melulu sepanjang perjalanan. Logat Jawa saya pun disebutnya tidak mirip seperti orang Jawa. Kok iso to yo.... Tak njipuk kursus boso Jowo wae po yo?

Ps. Waktu sesudahnya saya beneran nelpon untuk meminta maaf, Ayah saya malah jadi bertanya-tanya curiga. "Lha ngopo to, nduk?" Saya jawab aja gakpapa. Kalau saya bilang saya ngos-ngosan di gunung, saya pasti langsung dilarang pergi lagi. Hahaha. Sssstt...

8.5.11

Catatan Ketinggalan: Taman Ayun

Pertengahan tahun lalu, JengKadek sempat berkunjung Bali. Seperti biasa, setelah menyelesaikan urusannya beliau pun menyempatkan diri untuk , of course, jalan-jalan. Dan sebagai seksi penggembira hura-hura paling berpengalaman, saya pun diajak. Horeeee! Segera saja saya kompori untuk mengunjungi Pura Taman Ayun, di Mengwi Tabanan. Sebagai mantan mahasiswa arsitektur, ga afdol rasanya kalau belum mengunjungi objek arsitektur yang satu ini. Maklum, fotonya terpampang sebagai cover buku Introduction to Balinese Architecture keluaran Periplus. *halah :D

Secara spasial, taman ini menyenangkan. Banyak sekali ruang terbuka yang luas. Secara proporsi, jauh lebih luas dibanding pura2 besar terkenal lainnya di Bali. Kolam yang diikuti dengan halaman hijau di bagian depan.

Kompleks pura nya sendiri terletak di bagian tengah yang dikelilingi dengan kolam teratai.

Pengunjung, kecuali berniat untuk berdoa, tidak diperbolehkan memasuki kompleks pura dalam karena disucikan oleh umat Hindu. Sebagai gantinya, dibuatkan jalan setapak yang mengelilinginya agar bisa mengintip bangunan pura dari luar pagar.

Ukirannya pun menurut saya cantik.

Dibagian belakang kompleks terdapat taman luas yang dipenuhi pepohonan. Rindang, namun terasa spooky. Beberapa bale dibiarkan tak terurus. Kolam kelilingnya, or should i say 'selokan', dipenuhi lumut. Padahal potensial untuk dijadikan taman tempat bercengkrama. Apalagi kompleks ini diapit dua sungai besar yang membuatnya jadi terasa sejuk.

Sayangnya, di taman ini tidak tersedia informasi yang menjelaskan tentang sejarah pura. Saya yang gak ngerti apa-apa tentang sejarah Bali jadi cuma bisa bengong deh. Padahal masuk kompleksnya bayar loh@_@ . Menurut buku contekan saya ini, kata Ayun sendiri berarti "a huge open space" (oooowh...pantes luas...) dan pernah sekali waktu menjadi pura resmi kerajaan Mengwi setelah pusat kerajaan dipindah dari Kapal ke desa Mengwi (oooowh...pantes detilnya bagus).

Oya, peserta jalan-jalan lainnya adalah Becks dan Krip2. Tuh liat gayanya masing2. Krip2 tetap dengan cube kesayangannya, sedangkan Becks, hadoh, dikau menenteng-nenteng apaan siiih.

Dari Taman Ayun perjalanan berlanjut ke utara. Tapi cerita lanjutannya jangan dipublish disini ah. Yang jelas, saya mau deh untuk ntraktir mereka berdua naik speedboat! Hihihi.

9.3.11

berlibur di saat Nyepi

Nyepi tahun ini saya lewatkan di Bali. Saya merasa tidak perlu kabur keluar pulau. Toh memang cuma sehari, pikir saya. Dan memang benar, saya gak perlu kabur keluar pulau karena tahun ini hari Raya Nyepi tak ada bedanya dengan acara berlibur di rumah nenek!

Nona Vebri bersedia menampung saya di kamar kosnya yang notabene adalah kos yang dulu juga saya tempati pada sembilan bulan pertama saya di Bali, yang disanalah juga saya pernah melewatkan Nyepi pertama saya. Lokasinya di Payangan, yang udaranya lebih dingin dari Ubud.

Di depan kamar terbentang areal sawah yang luas, jadi angin berhembus langsung ke dalam kamar. Sebenarnya, tempatnya ajip! Tenang dan viewnya ciamik! Cuman waktu itu saya gak tahan dingin, serta gelap dan sepinya pada malam hari. Maklum, saya penakut:D

Jadi cocok deh! Udara dingin, semilir angin, plus terpaksa harus ikutan catur brata yang salah satunya adalah dilarang bepergian. Seharian diisi dengan bangun siang, malas2an, masak2an, rumpi2an, glundhang glundhung, hehehe. Liat tuh... si Pilo aja malas2an!

Nah yang ini lebih mengherankan. Ternyata, kami masih diperbolehkan jalan-jalan di sekeliling banjar! Berhubung sebelum-sebelumnya saya cuma mengurung diri di dalam kamar, maka saya pun merayu orang-orang untuk menemani jalan-jalan. Sayangnya yang termakan rayuan saya cuma Vebri dan Pilo.

Begini nih keadaan jalan raya Payangan di waktu Nyepi. Yang biasanya penuh truk besar karena merupakan jalur utama yang menghubungkan Denpasar dan Kintamani, hari itu jadi sepi dan dipenuhi pejalan kaki. Banyak juga yang berkumpul, ngobrol di tengah jalan. Kata Kadek yang menemani kami, kalau sore hari lebih banyak dipenuhi orang pacaran hihihi.

Saya jadi bisa deh memfoto belokan jalan ini! Salah satu penggalan jalan favorite saya selama tiga tahun terakhir! Saya melewatinya tiap pulang dan pergi ke kantor. Kalau hari cerah, saya bisa melihat kumpulan Batukaru sebagai latarbelakangnya.

Malam harinya, kami masih bisa menyalakan lampu. Jadi gak seseram kalau menghabiskan Nyepi di kota, dimana pecalang hilir mudik setiap saat. hihihi

Hari berikutnya, saya bangun pagi-pagi. And i found this never forgotten view! View depan kamar kala matahari masih sembunyi-sembunyi. Hanya ada kabut dan beberapa suara motor yang sudah mulai memenuhi jalanan saja. Saya baru bisa memfotonya sekarang, berhubung sewaktu tinggal disini saya masih belum punya kamera.

Sekalian sesi rutin 'membawa Pilo berjalan-jalan', saya mengajak Vebri dan Yesha untuk berjalan-jalan lewat sawah di seberang jalan, ke arah barat lewat sawah, sampai ke kantor lama. Sebenarnya, agak merasa bersalah sih ketika mereka kesulitan melewati jalan yang 'tak biasa'. Tapi semua hepi kaaaaaan :D?

Sebenarnya kami cuma ingin sampai ke Begawan lewat persawahan saja. Tapi ternyata, kami ditunjukkan jalan yang harus melewati sungai. Mana gak keliatan pula yang mana jalan yang benar. Salah satu petunjuk dari petani yang ditemui di sawah adalah "Ikuti pohon kelapa lalu turun". Buset dah...disini memang adanya pohon kelapa semuaaaa...>.< . Begitu kami berada di seberang sungai dari hotel Como Shambala, yang benar2 terasa in the middle of nowhere, saya sudah hampir menyerah. Rasanya udah ingin pulang balik aja lewat jalan yang sama. Gemericik airnya terdengar deras dan dalam. Tidak tampak ada cara kami bisa menyeberangi sungai yang tebingnya bebatuan tinggi itu. Phew!

Untung akhirnya Non Yesha menemukan batu pijakan yang jaraknya dekat! Jadilah, cita-cita untuk membuat rute loop bisa tercapai.

Dan masuklah kami ke private area nya hotel lewat area dalam yang biasa mereka pakai untuk yoga. Untung sepi! hihihi. Ngomong-ngomong, saya baru sekali ini loh masuk ke masterpiece hasil desain guru saya ini. Agak memalukan sih memang, berhubung selama tiga setengah tahun, saya bekerja hanya 500m dari pintu gerbangnya. Huff...males2an sih @__@. Oke lain kali kita sempatkan untuk jalan2 ke lingkungan hotelnya! Kali ini, cuma numpang keluar lewat pintu depan ajah. Hohoho

Keluar dari hotel, menyempatkan mampir dulu ke kantor lama dan rumah Bu Wayan. Sayangnya warung depan sedang kehabisan gerry chocolatos. Padahal sudah kangen beli Gerry sebungkus dengan harga lima ratus rupiah saja *toyor2supermarket Bintang. Keadaan pedesaan di Bali umumnya terlihat seperti foto di atas. Masih terasa skala manusianya kan?

Oh ya, edisi berlibur kali ini saya sempat masak loh. Salah satunya seperti yang dibawah ini. Cantik kaaaannn? *colekTiko

Ps. Malam sebelum Nyepi, disebut Pengrupukan. Orang Bali akan mengarak Ogoh-ogoh (boneka besar lambang kejahatan) dan memainkannya beramai-ramai di tengah desa/banjar. Tahun ini saya absen menonton. Kemalasan di detik terakhir. hihihi. Foto di bawah ini diambil dari Pengrupukan tahun 2010 kemarin.

6.2.11

kepalakentang

Namanya juga arsitek. Kemana lagi jalan-jalan kalau bukan melihat 'karya arsitektur'. Dan yang jadi sasaran saya, Vebri dan Japa kali ini adalah PotatoHead. Sebuah beach club baru di kawasan Seminyak. Tempat ini sudah ada dalam daftar kunjung saya semenjak saya tahu bahwa interiornya dikerjakan oleh desainer yang sama yang (pernah) mengerjakan bangunan yang sedang saya kerjakan di kantor.

Saya jatuh cinta dengan bangunan ini pada pandangan pertama. Kulit bangunannya terbuat dari jendela bekas (atau tampak bekas?) berbagai ukuran yang ditata dengan rapi jali! Saya membayangkan betapa pusingnya mengumpulkan jendela2 dengan gaya yang sama (fix louver yang klasik) sebanyak itu, lalu menata dan menyambungnya satu persatu.

Apa yang sukai selanjutnya adalah sekuens sirkulasi yang dibentuknya. Ruang sempit untuk satu pejalan kaki. Yang pertama adalah ketika masih diluar bangunan. Overflow air di atas dinding semen ternyata bisa menciptakan refleksi yang cantik.

Yang kedua, ketika menuju meja concierge. Lorong kurvanya terasa menyenangkan. Sesuatu yang berbeda dengan apa yang biasa saya kerjakan sehari-hari.

Sebenarnya saya agak kecewa ketika di ujung lorong kurvanya. Tidak ada suatu kejutan yang berarti selain halaman yang luas dengan laut di ujung pandangan. Entah kenapa ruang disitu tidak terbangun dengan sempurna. Endingnya kurang 'meledak'!

Tempat yang menurut saya adalah tempat utama, digunakan untuk bar, yang menurut saya menjadi kurang maksimal karena di tempat tersebut pengunjung bisa menikmati sunset yang paling indah.

Ada bar kedua yang menurut saya lebih pas. Ditempatkan di sayap kanan bangunan, tetap dengan view lautnya.

Secara umum, saya lebih suka sekuens awal bangunan ini dibanding ruang2 untuk fungsi utamanya. Meskipun begitu, saya menyukai sentuhan2 kecil seperti lampu di atas.

Juga dinding tanaman di ujung kolam ini. Efeknya seperti 2D, padahal aslinya mempunyai kedalaman.

Oh ya, teman saya memesan ini. Lucu ya tampaknya. Sayang saya gak boleh ngicip karena ada alkoholnya :(.


Dan yang lebih menyenangkan adalah, ada si lucu Syahran yang sedang hobi berjalan yang bergabung di sore itu. Errr....maksudnya yang sebelah kiri yak! Untung hari masih sore. Tapi tolong yaaa, jangan bawa balita Anda waktu tengah malam. Kadang2 ada ajep2nya sih :D.

Ngomong-ngomong, kepala kentangnya sebelah mana sih??! :D