Saya memutuskan untuk menjauh sebentar dari dunia arsitektur ketika saya resign 1,5 tahun yg lalu. Lebih tepatnya menjauh dari dunia arsitektur yg terlalu industrialis, melakukannya semi pasif. Mencoba mengambil nafas sejenak sambil mencoba memahami apa yg sebenarnya ingin saya kemukakan lewat bahasa arsitektur. Yap, arsitektur saya untuk dijadikan alat dan bukan tujuan akhir.
Saya bukan sok idealis. Pada akhirnya akan selalu ada klien yang harus dipenuhi kebutuhannya, bumi yg harus selalu dirawat, budaya yg harus dipelihara, begitu juga dengan tagihan yg harus dibayar, waktu yg selalu mepet, daftar panjang gambar yang harus dikerjakan. Itu fakta ha ha -_-.
Dan sekarang ini ketika dihadapkan dengan klien, atau penghubung klien, yang terbiasa bekerja dengan arsitek yang gambarnya bisa selesai dikerjakan dalam semalam-atau dua (imagine how much design work you can do in only short time shot of production), saya bertanya-tanya. Apakah memang ada tempat bagi saya untuk mempraktekkan arsitektur non-industrial (atau bolehlah dikatakan non-kapitalisme).
Mungkin saya yg terlalu lambat? Atau standar kerja saya ketinggian? Atau orang-orang memang sudah tidak peduli pada good design?
Saya tidak mau menyalahkan sistem. Dimana ada kebutuhan, selalu akan ada bagian dari supplier yg memenuhi. Di pulau ini, arsitek yg dibayar 5000 rupiah per meter persegi bisa ditemukan, pun yang bayarannya 5000 USD/m2. Tapi lalu solusinya apa? Lama-kelamaan gak akan ada penghargaan profesi, ruang-ruang kota yang hopeless juga semakin banyak.
Ah saya ini ya...lagak sok-sok an desainnya paling bagus sedunia. Makanan bisa dinilai oleh lidah, musik dinilai oleh telinga, lalu arsitektur parameternya apa?
Saya ini sebenarnya sudah pengen resign selamanya dr arsitektur. Alat yg satu ini cukup membuat pusing kepala selama ini. Tapi y gimana ya..kok mbalik terus pada akhirnya. Kadang saya merasa sedang dikutuk.
Baiklah, mgkn saya belum diijinkan berhenti. Masih harus mewujudkan cita-cita saya utk mendesain museum. (Setiap museum pasti punya cerita menarik, hal itu selalu menggoda saya.) Atau saya memang ditakdirkan mendesain ulang tempat-tempat wisata di Indonesia. (Nyebelin banget gak sih ketika mau datang ke suatu tempat wisata karena fotonya bagus tapi ketika sampai disana kamu merasa ingin bertanya 'udah gini aja?'-tempatnya ga terkonsep beud *gatel pengen ganti desain lanskap tamannya pura danau beratan yg ordebaru abisssss). Aamiin *pedeajah
Untuk kasus sekarang...ya sudah..anggap aja says ketemu karakter klien yg salah aja..
*bobok dulu ah,,lanjut tiga jam lagi ketika matahari sudah terbit insyaallah*
