order for this two weeks : "I WANT TO SEE THE BEAUTIFUL LADY IN THAT HOUSE!!!"
me in silence : can i just put my picture all over there????
26.11.08
24.11.08
untuk yang ga kliatan
Minggu kemarin, pura kecil di padepokan lagi ulang tahun, eh salah istilah, yang benar ‘ulang setengah tahun’. Waktunya untuk upacara kecil per enam bulanannya telah datang. Si pura didandani sedemikian rupa. Yang hari biasa tampak seperti ini.
Di hari khususnya jadi seperti ini. Meriah no!
Apa yang ada dipemujaan itu adalah persembahan (banten). Setelah dipersembahkan kepada Tuhan, makanan boleh diambil lagi untuk dimakan oleh manusia.
Sebenernya saya naksir kue2 kecilnya. Nampak menggiurkan, slurp!!

HUSS, ga boleh makan Okta!!Syirik tau!! Puasa desert deh …..
Di hari khususnya jadi seperti ini. Meriah no!

Apa yang ada dipemujaan itu adalah persembahan (banten). Setelah dipersembahkan kepada Tuhan, makanan boleh diambil lagi untuk dimakan oleh manusia.
Sebenernya saya naksir kue2 kecilnya. Nampak menggiurkan, slurp!!

HUSS, ga boleh makan Okta!!Syirik tau!! Puasa desert deh …..
19.11.08
miring2 bikin miring kepala
Baru saat ini saya merasakan pengaruh resesi ekonomi dunia yang bermula di Amerika Serikat. Sebelumnya, teman2 saya yang bekerja di biro2 besar banyak yang di phk, alhamdulillah saya bertahan. Harga barang2 impor naik karena kurs rupiah menurun, alhamdulillah yang dibutuhkan sudah terbeli sebelumnya. Sampai akhirnya kemarin si resesi itu sampai pula di diri saya.
Desain yang CYK, CiK, dan saya (dan bantuan beberapa orang lainnya) kerjakan selama lebih dari setahun kemarin, yang sudah sampai construction drawing itu, yang penuh kerja keras itu, yang memeras otak sampai kering itu, yang penuh dengan teriakan2 itu, yang sudah menelan korban itu, yang pada akhirnya seluruh orang kantor setuju bahwa desain tersebut paling keren di seluruh dunia :D dan yang akan sangat keren untuk melihatnya terbangun itu, akhirnya DILEDAKKAN juga. KABOOM!
Sang penyandang dana kehilangan banyak uangnya karena resesi. Proyeknya masih ada. Hanya berubah menjadi sesuatu yang lebih bisa dijual dan lebih menguntungkan. Yang membuat desain lama menjadi tidak bisa digunakan lagi.
Saya terdiam. ‘Besok2 tidak usah memakai hati’, nasihat mPri. ‘Life’s unfair’, kata2 menghibur dari CYK. Tiba2 di kepala saya muncul Cik, tertawa-tawa dengan tawa khas yang menyebalkan, menertawakan saya, tapi kemudian imaji saya muncul, saya toyor kepalanya. Rasain! Puff! imaji saya akhirnya meledak juga.
Saya butuh natrium.
Desain yang CYK, CiK, dan saya (dan bantuan beberapa orang lainnya) kerjakan selama lebih dari setahun kemarin, yang sudah sampai construction drawing itu, yang penuh kerja keras itu, yang memeras otak sampai kering itu, yang penuh dengan teriakan2 itu, yang sudah menelan korban itu, yang pada akhirnya seluruh orang kantor setuju bahwa desain tersebut paling keren di seluruh dunia :D dan yang akan sangat keren untuk melihatnya terbangun itu, akhirnya DILEDAKKAN juga. KABOOM!
Sang penyandang dana kehilangan banyak uangnya karena resesi. Proyeknya masih ada. Hanya berubah menjadi sesuatu yang lebih bisa dijual dan lebih menguntungkan. Yang membuat desain lama menjadi tidak bisa digunakan lagi.
Saya terdiam. ‘Besok2 tidak usah memakai hati’, nasihat mPri. ‘Life’s unfair’, kata2 menghibur dari CYK. Tiba2 di kepala saya muncul Cik, tertawa-tawa dengan tawa khas yang menyebalkan, menertawakan saya, tapi kemudian imaji saya muncul, saya toyor kepalanya. Rasain! Puff! imaji saya akhirnya meledak juga.
Saya butuh natrium.
16.11.08
mission's not accomplished but problem's solved
Sudah seminggu ini saya menempati kamar baru, yup KAMAR BARU. Hore….
Masih dikos yang sama, saya pindah ke kamar di lantai atas, ke bekas kamar milik mbak Susi Si Penyelamat yang waktu liburannya di Bali tiba2 habis bersamaan dengan kemalangan saya yang tak kunjung menemukan kos baru. Sebenernya kamar di bawah saya yang lebih sejuk juga kosong, tapi masalahnya juga sama, bocor di kamar mandi (whew!). Jadi sekarang saya ikutan jadi kriminal juga, membocori kamar bawah. Untung ga ada penghuninya. Hehehe
Namanya juga bekerja di industri arsitektur, teteup aja ada komplain tentang kamar atas ini. Puanassnya gilee, kadang kayak dioven…untung angin yang bikin adem selalu bertiup. Buat para arsitek, jangan sekali2 bikin bangunan yang benar2 flat atapnya..ga dilapis pula..kasianilah penghuninya. Pelajaran juga buat saya hahaha
Tapi panas udara ini ada untungnya. Jamur2 di lemari saya tiba2 sudah tidak berani menampakkan kehijauannya lagi. Saya juga agak lebih rajin mandi :D
Dari jendela kamar, saya bisa langsung mengintip taman luas milik bungalow sebelah. Lumayan dapat hijau2an gratis hahaha. Saya kasi liat ya pemandangan dari balkon saya.
Malam hari bulan purnama. Mistis ya?
Pagi hari matahari terbit (jendela saya menghadap timur).
Langit bali yang selalu biru bersih, kecuali saat mendung tentunya :p (Selamat datang di Bali, Okta!)
Pasti banyak yang iri pada kamar baru saya…;)
Ucapan terimakasi banyak saya berikan kepada
+ orang2 yang sudah membantu saya cari kos baru
+ bagong, ngurah dan emmm....ga kenal, yang sudah tulus ikhlas membantu ngangkat lemari saya dari bawah ke atas
+ orang2 yang sudah datang jauh2 dari Denpasar untuk membantu ngangkat sisa barang2 lainnya sehingga acara pindahannya selesai secepat kilat (walau habis itu saya dipalakin juga, ikhlas...!)
+ orang2 yang engga muncul tapi tetap kirim kata2 semangat ... wooo
+ dan orang yang sudah bilang mo ngebantuin tapi malah seharian melarikan motor saya ke Kuta untuk ngejar diskonan baju dan langsung kena batunya dengan kesasar sampe Sukawati hahaha (maaf temans, saya masih tidak bisa berhenti ngikik kalau ingat peristiwamu, hahaha)
Ngomong2, mbak2 yang dulu ngebanjirin kamar saya dengan air kotor sekarang jadi tetangga sebelah saya. Kini jarak lebih dekat untuk balas dendam. Ada sumbangan ide? Mungkin saya colong aja piring2 di balkonnya yak Huss…peace mbak! Paling saya ribut2in suara tipi aja deh. Hehehe.
Masih dikos yang sama, saya pindah ke kamar di lantai atas, ke bekas kamar milik mbak Susi Si Penyelamat yang waktu liburannya di Bali tiba2 habis bersamaan dengan kemalangan saya yang tak kunjung menemukan kos baru. Sebenernya kamar di bawah saya yang lebih sejuk juga kosong, tapi masalahnya juga sama, bocor di kamar mandi (whew!). Jadi sekarang saya ikutan jadi kriminal juga, membocori kamar bawah. Untung ga ada penghuninya. Hehehe
Namanya juga bekerja di industri arsitektur, teteup aja ada komplain tentang kamar atas ini. Puanassnya gilee, kadang kayak dioven…untung angin yang bikin adem selalu bertiup. Buat para arsitek, jangan sekali2 bikin bangunan yang benar2 flat atapnya..ga dilapis pula..kasianilah penghuninya. Pelajaran juga buat saya hahaha
Tapi panas udara ini ada untungnya. Jamur2 di lemari saya tiba2 sudah tidak berani menampakkan kehijauannya lagi. Saya juga agak lebih rajin mandi :D
Dari jendela kamar, saya bisa langsung mengintip taman luas milik bungalow sebelah. Lumayan dapat hijau2an gratis hahaha. Saya kasi liat ya pemandangan dari balkon saya.
Malam hari bulan purnama. Mistis ya?
Pagi hari matahari terbit (jendela saya menghadap timur).
Langit bali yang selalu biru bersih, kecuali saat mendung tentunya :p (Selamat datang di Bali, Okta!)
Pasti banyak yang iri pada kamar baru saya…;)
Ucapan terimakasi banyak saya berikan kepada
+ orang2 yang sudah membantu saya cari kos baru
+ bagong, ngurah dan emmm....ga kenal, yang sudah tulus ikhlas membantu ngangkat lemari saya dari bawah ke atas
+ orang2 yang sudah datang jauh2 dari Denpasar untuk membantu ngangkat sisa barang2 lainnya sehingga acara pindahannya selesai secepat kilat (walau habis itu saya dipalakin juga, ikhlas...!)
+ orang2 yang engga muncul tapi tetap kirim kata2 semangat ... wooo
+ dan orang yang sudah bilang mo ngebantuin tapi malah seharian melarikan motor saya ke Kuta untuk ngejar diskonan baju dan langsung kena batunya dengan kesasar sampe Sukawati hahaha (maaf temans, saya masih tidak bisa berhenti ngikik kalau ingat peristiwamu, hahaha)
Ngomong2, mbak2 yang dulu ngebanjirin kamar saya dengan air kotor sekarang jadi tetangga sebelah saya. Kini jarak lebih dekat untuk balas dendam. Ada sumbangan ide? Mungkin saya colong aja piring2 di balkonnya yak Huss…peace mbak! Paling saya ribut2in suara tipi aja deh. Hehehe.
15.11.08
pamer
Sabtu ini terpaksa saya menghabiskan sebagian besar waktu dikamar saja. Sebabnya adik kecil saya memberi deadline atas janji-asal-saya-iyakan-biar-engga-berisik untuk membuatkannya sebuah desain t-shirt perkumpulan pramuka di sekolahnya. Sebenarnya ini tugasnya untuk membuat sejak 2minggu lalu. Tetapi berhubung saya tahu bahwa walaupun desain saya jelek, pasti desain yang akan dibuatnya lebih jelek dari milik saya (peace, Cil…:p), maka tak sampai hatilah saya untuk tak mengerjakannya.
Saya buatkan gambar di atas untuk ditempelkan ke t-shirtnya. Maksudnya itu adalah segerombolan penggalang sedang berbaris. Dangkal saja, biar ga perlu banyak mikir. Tekniknya pun ga canggih, asal coret pun jadi (mls bgt si?). Kira2 dapat nilai berapa ya saya???
Kabur sebentar (eh lama ding!) ke Tony Raka Gallery, ngeliat lukisan. Memperhatikan satu2 semua yang dipajang disana. Bujubune…teknik saya diatas masih jauuuuuuuh dari mendekati mereka (my favorite one was painted by Yusron Mudakhir. Kolase tersembunyinya Heri Dono juga keren, sayang saya tidak mengerti maksud lukisannya) Terngiang kata2 favorit guru saya :It’s a long long way to go.. . Jadi malu..ihik ihik ihik . Tapi gapapa…tetyep mau saya pamerin disini. Mumpung blog ini bisa jadi galeri gratis untuk karya saya…hehehe
Cilik…ingat! Kamu utang satu traktiran….
14.11.08
In the Quest of Beautiful Lady in Veil
Sore tadi guru saya membuat perumpamaan lagi tentang hasil kerja saya. Diringkas kira2 begini.
Kemarin lusa pekerjaan saya itu seperti satu diantara 10 wanita berambut coklat, mengenakan t-shirt dan celana jeans alias tidak ada bedanya dengan banyak desain asia tenggara yang kerap muncul di majalah dan tidak jelas arahnya. Kemudian desain hari ini dikatakannya seperti seorang wanita berjilbab di antara 9 wanita tersebut. Sudah memiliki identitas katanya. Nah ‘exercise’ berikutnya adalah membuat desain saya itu seperti wanita berjilbab yang cantik, yang mata langsung memandang kepadanya, bahkan ketika dia disejajarkan dengan 9 wanita berjilbab lainnya. Dengan kata lain, sekarang tujuannya adalah mendapatkan ‘wow factor’. (sebenarnya saya agak heran, kenapa beliau selalu menggunakan perumpaan ketika membicarakan arsitektur dengan saya. Mungkin saya memang terlihat telmi didepannya hahaha )
Menurut guru saya, salah satu yang mempunyai ‘wow factor’ didalamnya adalah Kolumba Museum baru milik Peter Zumthor.(btw. Beliau geleng2 kepala ketika saya mengaku tak mengenal Zumthor, tapi kemudian memukul lengan saya ketika saya mengenali spa di Vals yang ternyata salah satu karyanya *dasar guru****..). Malam ini pun saya persembahkan untuk mempelajari Kolumba.

Saya langsung tertegun ketika melihat foto diatas ini. Tiba2 ingin langsung datang ke sana untuk mengalami sendiri rasa ruang yang ada. Saya mencoba menganalisa apa wow factor didalamnya.
Yang pertama menarik perhatian saya adalah cahaya yang digunakan didalam ruangnya. Cahaya alami dan buatan, dari dalam dan luar, statis (lampu) dan dinamis (matahari) , yang keduanya dipecah dalam bentuk cahaya2 kecil dan bermain-main dalam ruang tersebut. Saya selalu menyukai cahaya dan Zumthor memainkannya dengan pandai disini. What a cool ambience!
Berikutnya adalah tekstur dan material yang digunakan. Halus-kasar, beton-kayu-kaca, lurus-diagonal, teratur-berantakan. Semuanya biasa saja tetapi dia padukan menjadi ruang yang kaya (yang kadang kalau tidak hati2 memadukannya kita bisa terjebak pada sebuah keramaian yang berisik) . Zumthor menjadikan semua yang biasa itu jadi sesuatu yang menarik. Brengsek juga orang tua ini, batin saya.
Elemen yang bermain didalamnya pun kaya. Kolom, tembok, screen dan jendela dijadikan satu tanpa menghasilkan sebuah kenorakan berlebihan. Rasa penasaran saya timbul dengan pertanyaan2 semacam mengapa kolom diletakkan disini, dan jendela disana, kenapa dinding disini dan screen disana, apa yang mau dia katakan dengan ini, dan sebagainya. Sampai sekarang pun saya masih belum mendapatkan jawabannya.
Dan yang terakhir adalah apa yang dia perbuat pada bangunan bersejarah yang berdiri di lahan itu. Bukannya direkonstruksi seperti kebanyakan proyek renewal lainnya, dia malah menggunakannya sebagai dasar bangunan baru. Dengan kata lain, bangunan lama dan baru disatukan tanpa batas yang jelas. Dan paduan ini menghasilkan sebuah pameran masa lalu dan masa kini secara bersamaan tanpa mengurangi penghormatan terhadap keduanya.
Zumthor memang orang tua gila yang aneh dan keranjingan detil, begitu kesimpulan saya. Itulah yang membuatnya kalah popular dibanding bintang arsitek yang lain. Tiba2 saya mengidolakannya. My quest of beautiful lady in veil stop by for a while in Cologne.
Kemarin lusa pekerjaan saya itu seperti satu diantara 10 wanita berambut coklat, mengenakan t-shirt dan celana jeans alias tidak ada bedanya dengan banyak desain asia tenggara yang kerap muncul di majalah dan tidak jelas arahnya. Kemudian desain hari ini dikatakannya seperti seorang wanita berjilbab di antara 9 wanita tersebut. Sudah memiliki identitas katanya. Nah ‘exercise’ berikutnya adalah membuat desain saya itu seperti wanita berjilbab yang cantik, yang mata langsung memandang kepadanya, bahkan ketika dia disejajarkan dengan 9 wanita berjilbab lainnya. Dengan kata lain, sekarang tujuannya adalah mendapatkan ‘wow factor’. (sebenarnya saya agak heran, kenapa beliau selalu menggunakan perumpaan ketika membicarakan arsitektur dengan saya. Mungkin saya memang terlihat telmi didepannya hahaha )
Menurut guru saya, salah satu yang mempunyai ‘wow factor’ didalamnya adalah Kolumba Museum baru milik Peter Zumthor.(btw. Beliau geleng2 kepala ketika saya mengaku tak mengenal Zumthor, tapi kemudian memukul lengan saya ketika saya mengenali spa di Vals yang ternyata salah satu karyanya *dasar guru****..). Malam ini pun saya persembahkan untuk mempelajari Kolumba.
Saya langsung tertegun ketika melihat foto diatas ini. Tiba2 ingin langsung datang ke sana untuk mengalami sendiri rasa ruang yang ada. Saya mencoba menganalisa apa wow factor didalamnya.
Yang pertama menarik perhatian saya adalah cahaya yang digunakan didalam ruangnya. Cahaya alami dan buatan, dari dalam dan luar, statis (lampu) dan dinamis (matahari) , yang keduanya dipecah dalam bentuk cahaya2 kecil dan bermain-main dalam ruang tersebut. Saya selalu menyukai cahaya dan Zumthor memainkannya dengan pandai disini. What a cool ambience!
Berikutnya adalah tekstur dan material yang digunakan. Halus-kasar, beton-kayu-kaca, lurus-diagonal, teratur-berantakan. Semuanya biasa saja tetapi dia padukan menjadi ruang yang kaya (yang kadang kalau tidak hati2 memadukannya kita bisa terjebak pada sebuah keramaian yang berisik) . Zumthor menjadikan semua yang biasa itu jadi sesuatu yang menarik. Brengsek juga orang tua ini, batin saya.
Elemen yang bermain didalamnya pun kaya. Kolom, tembok, screen dan jendela dijadikan satu tanpa menghasilkan sebuah kenorakan berlebihan. Rasa penasaran saya timbul dengan pertanyaan2 semacam mengapa kolom diletakkan disini, dan jendela disana, kenapa dinding disini dan screen disana, apa yang mau dia katakan dengan ini, dan sebagainya. Sampai sekarang pun saya masih belum mendapatkan jawabannya.
Dan yang terakhir adalah apa yang dia perbuat pada bangunan bersejarah yang berdiri di lahan itu. Bukannya direkonstruksi seperti kebanyakan proyek renewal lainnya, dia malah menggunakannya sebagai dasar bangunan baru. Dengan kata lain, bangunan lama dan baru disatukan tanpa batas yang jelas. Dan paduan ini menghasilkan sebuah pameran masa lalu dan masa kini secara bersamaan tanpa mengurangi penghormatan terhadap keduanya.Zumthor memang orang tua gila yang aneh dan keranjingan detil, begitu kesimpulan saya. Itulah yang membuatnya kalah popular dibanding bintang arsitek yang lain. Tiba2 saya mengidolakannya. My quest of beautiful lady in veil stop by for a while in Cologne.
Label:
arsitektur|desain|hidup,
padepokan
12.11.08
feel the stuck
Hari ini guru saya kembali muncul di padepokan. Pagi hari pun heboh dengan kuliah2nya. Pelajaran utama yang saya tangkap hari ini : ‘YOU HAVE TO FEEL IT’. Feel the context (untuk saya), feel the language (untuk dua pria yang selalu ribut disebelah saya), feel the tropical modernism (untuk teman muda saya), dan untuk duo TJ: feel the…em…em…hehehe lupa.
Saya memang sudah melangkah satu tahap lagi. Kemarin2 saya diributi oleh urusan masa (mass), bentukan (shape) dan hubungan keduanya dengan tata letak (layout) ruangan. Saya sampai harus bolak-balik mengatur ketiganya untuk memenuhi kesempurnaan konsep yang sebelumnya sudah disepakati untuk dijadikan patokan. Saking seringnya, saya sampai di titik dimana saya mengaku kepada guru saya bahwa saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dan saking emosionalnya, dua kali saya menangis sendiri karena tidak juga menemukan apa yang saya cari. (gile, ternyata saya sangat berdedikasi tinggi pada arsitektur,sampai nangis sagala, *duh bangganya:D )
Ketika urusan masa, bentukan, dan tata letak itu sudah selesai, sampailah di tahap berikutnya:eksterior. Komentar guru saya ketika melihat hasil pekerjaan saya hari ini : ‘You stuck again.’ Sial! (but then I know, I get stuck!)
Sebenarnya, ini adalah proses desain kedua saya untuk proyek ini setelah masa dan bentukan desain sebelumnya (yang sudah dianggap perfect *oh I miss it) dianggap tidak memenuhi permintaan ruang si calon penghuni yang tiba2 berubah. Ingin bersumpah-serapah rasanya. Apalagi mengingat desain pertama itu juga hasil dari bolak-balik mengutak-atik sampai kesal. Pelajaran yang didapat dari guru saya saat desain pertama itu. “YOU HAVE TO UNDERSTAND THE BASIC”.
Intermezzo.Saat proses desain pertama itu, ketika kami sudah mendapatkan desain yang kami anggap sempurna (=everyone’s happy with it) dan sudah mewakili bahwa saya sudah sedikit mengerti basic itu, tiba2 dia menggambarkan saya ini.

Kata2nya diringkas kira2 begini. Desain awal saya itu seperti gambar orang paling kiri itu. Badan miring, kaki di kepala, tangan di kaki, ga jelas dasarnya (basic). Kemudian berkembang jadi seperti gambar orang di sebelahnya. Beberapa sudah di tempat yang benar, satu dua masih salah. Berkembang lagi menjadi seperti gambar orang di sebelah kanannya lagi. Semuanya sudah ada di tempat yang benar, hanya proporsinya saja yang masih tidak sesuai. Lalu pada akhirnya desain saya sudah sempurna. Semuanya ditempat yang sesuai dengan proporsi yang sesuai pula. Tapiiii…katanya kemudian… kadang2 kala sesuatu yang sempurna itu membosankan (saya jadi bangga tidak secantik dan semembosankan seperti Cinta Laura, hahahaha iya kan??).
Saya diminta mengobrak-abrik sedikit desain itu agar lebih fun. Digambarkannya dengan wajah manusia. Perempuan dengan wajah sempurna itu (apapun kriteria cantik yang berkembang di masyarakat) terkadang tidak asik. Tapi kalau tiba2 dia punya bibir tebal mungkin akan lebih menarik. Atau jika dia berkulit coklat terbakar akan lebih eksotis. Kira2 begitu inti yang bisa saya ingat. Pikir saya kala itu:Jadi desain sempurna itu harus diutak-atik lagi??cape deeeeh….
Probably today’s excerpt is : I might understand the basic, but not feeling it yet.
Tiba2 saya merasa kasihan pada guru saya. Kok bisa2nya dia sabar mengajari saya. Mungkin hasil meditasinya berhasil. Hahahaha. Peace….
Saya memang sudah melangkah satu tahap lagi. Kemarin2 saya diributi oleh urusan masa (mass), bentukan (shape) dan hubungan keduanya dengan tata letak (layout) ruangan. Saya sampai harus bolak-balik mengatur ketiganya untuk memenuhi kesempurnaan konsep yang sebelumnya sudah disepakati untuk dijadikan patokan. Saking seringnya, saya sampai di titik dimana saya mengaku kepada guru saya bahwa saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dan saking emosionalnya, dua kali saya menangis sendiri karena tidak juga menemukan apa yang saya cari. (gile, ternyata saya sangat berdedikasi tinggi pada arsitektur,sampai nangis sagala, *duh bangganya:D )
Ketika urusan masa, bentukan, dan tata letak itu sudah selesai, sampailah di tahap berikutnya:eksterior. Komentar guru saya ketika melihat hasil pekerjaan saya hari ini : ‘You stuck again.’ Sial! (but then I know, I get stuck!)
Sebenarnya, ini adalah proses desain kedua saya untuk proyek ini setelah masa dan bentukan desain sebelumnya (yang sudah dianggap perfect *oh I miss it) dianggap tidak memenuhi permintaan ruang si calon penghuni yang tiba2 berubah. Ingin bersumpah-serapah rasanya. Apalagi mengingat desain pertama itu juga hasil dari bolak-balik mengutak-atik sampai kesal. Pelajaran yang didapat dari guru saya saat desain pertama itu. “YOU HAVE TO UNDERSTAND THE BASIC”.
Intermezzo.Saat proses desain pertama itu, ketika kami sudah mendapatkan desain yang kami anggap sempurna (=everyone’s happy with it) dan sudah mewakili bahwa saya sudah sedikit mengerti basic itu, tiba2 dia menggambarkan saya ini.

Kata2nya diringkas kira2 begini. Desain awal saya itu seperti gambar orang paling kiri itu. Badan miring, kaki di kepala, tangan di kaki, ga jelas dasarnya (basic). Kemudian berkembang jadi seperti gambar orang di sebelahnya. Beberapa sudah di tempat yang benar, satu dua masih salah. Berkembang lagi menjadi seperti gambar orang di sebelah kanannya lagi. Semuanya sudah ada di tempat yang benar, hanya proporsinya saja yang masih tidak sesuai. Lalu pada akhirnya desain saya sudah sempurna. Semuanya ditempat yang sesuai dengan proporsi yang sesuai pula. Tapiiii…katanya kemudian… kadang2 kala sesuatu yang sempurna itu membosankan (saya jadi bangga tidak secantik dan semembosankan seperti Cinta Laura, hahahaha iya kan??).
Saya diminta mengobrak-abrik sedikit desain itu agar lebih fun. Digambarkannya dengan wajah manusia. Perempuan dengan wajah sempurna itu (apapun kriteria cantik yang berkembang di masyarakat) terkadang tidak asik. Tapi kalau tiba2 dia punya bibir tebal mungkin akan lebih menarik. Atau jika dia berkulit coklat terbakar akan lebih eksotis. Kira2 begitu inti yang bisa saya ingat. Pikir saya kala itu:Jadi desain sempurna itu harus diutak-atik lagi??cape deeeeh….
Probably today’s excerpt is : I might understand the basic, but not feeling it yet.
Tiba2 saya merasa kasihan pada guru saya. Kok bisa2nya dia sabar mengajari saya. Mungkin hasil meditasinya berhasil. Hahahaha. Peace….
Label:
arsitektur|desain|hidup,
padepokan
Langganan:
Postingan (Atom)
