
Saya suka sekali membawa tamu-tamu saya ke Sari Organik, sebuah warung makan di pinggiran Ubud. Letaknya kurang lebih 1km keluar dari Jalan Raya Ubud, melalui jalan setapak yang tidak bisa dilewati mobil. Sebenarnya motor pun bisa lewat, tetapi saya selalu mengajak atau lebih tepatnya memaksa untuk berjalan kaki karena udaranya yang segar dan pemandangannya yang indah. Paling-paling resikonya adalah mendapat gerutuan dari tamu-tamu saya yang jarang berjalan kaki, "
Duuuuh masih jauh ya Ta? Udah kelihatan belum?" Hihihi

Sepanjang perjalanan memang akan disuguhi pemandangan khas Ubud. Lebih menyenangkan lagi ketika berkunjung saat udara cerah. Teras sawah, bebek-bebek, pohon kelapa, petani, langit biru, burung-burung kokokan, semua yang saya suka dah! Akan lebih indah lagi ketika menjelang musim panen tiba dengan padi yang menguning di mana-mana. Bersyukur sekali Indonesia ini kaya raya :)

Warungnya sendiri terletak di bangunan dua lantai. Lantai atas difungsikan sebagai area makan, lantai bawah digunakan untuk dapur. Dari area makan, kita bisa melihat pemandangan hijau khas Ubud seluas 360derajat. Di dekat warung ini memang belum berdiri bangunan. Lantainya yang tidak memiliki dinding pun membuat angin bebas keluar masuk. Saya yang selalu memilih duduk di bale-bale pun tergoda untuk merem. Hehehe

Yang lebih saya sukai dari warung ini adalah semua bahan makanannya yang segar. Ditanam dan dirawat secara organik, tanpa bahan kimia. Di sebelah warung terdapat pusat pembibitannya. Ibu Nila, si pemilik, menanam sendiri hampir semua bahan makanannya. Mulai dari tomat, selada, terong, kacang panjang sampai bayam. Beberapa tanaman yang kurang cocok dengan udara Ubud, beliau tanam di Kintamani. Untuk padi, beliau bekerjasama dengan petani untuk menanam spesies padi Bali yang hampir punah tanpa menggunakan rabuk. Pupuk yang digunakan pun pupuk alami. Beliau mengaku membuat sendiri dari campuran daun gamal, kotoran sapi, kencing sapi yang difermentasi. Beliau bahkan memelihara sapi yang akan memakan semua sampah organik dari warung. Limbah pun terkurangi.

Saya penasaran dengan mangga yang disajikan oleh Sari Organik. Selalu manis. Benar-benar manis dan lembut. Padahal saya juga tidak melihat keberadaan pohon mangga disekitar warung. Ternyata, beliau mengaku berkeliling, 'mengetuk' satu-satu pemilik pohon mangga dan membeli buah yang memang matang di pohon. Pilihan untuk membeli di pasar pun sudah ditutup karena kebanyakan buah matang yang dijual di pasar merupakan hasil karbitan.
Kalau dipikir-pikir, memang ribet untuk mencari bahan2 makanan yang memang masih segar, jauh dari bahan kimia. Tetapi hasilnya sepadan. Sejauh ini, masakan ibu Nila memang makanan paling segar dan lezat yang pernah saya rasakan (
Sorry to say,Mum :D).
Slow food is the best.Contohnya ini. Judulnya sih biasa saja. Nasi campur. Pertama kali melihat masakannya datang ke meja, langsung menyesal. "Yah kok sedikit sih!". Setelah makan, wuah perut penuh sekali. Porsi nasi merah yang berbulir besar beserta lauknya memang sudah diukur tepat di perut. Ditambah lalapan segar, plus pepes tahu, tuna, kering tempe dan sambal matah. Daun yang digunakan untuk membungkus pepes tahu itu adalah daun bayam, bukan daun pisang seperti normalnya. Selain karena daun pisang sulit dicari, si ibu mencoba membuat semua yang dihidangkan di atas piring bisa dimakan. Dan masakannya memang enak...

Atau juga lihat hidangan yang ini. Tuna panggang. Saya suka campuran terongnya. Memangggangnya pun pas, jadi sayurannya masih terasa kesegarannya. Nyam nyam...

Jus buahnya pun mantap. Rasanya lebih jelas. Campuran daging buahnya lebih banyak daripada airnya. Ceritanya, beliau bisa menggunakan seperempat kilo strawberi untuk membuat satu gelas jus strawberi. Pantas mantap. Ngomong-omong, Sari Organik menggunakan sedotan dari bambu untuk menggantikan sedotan dari plastik. Saya jadi bertanya-tanya, itu sedotan sehabis dipakai apakah langsung dibuang atau digunakan kembali ya? Oh oh...

Ini hidangan penutup yang pernah saya pesan. Campuran antara mangga manis dengan es krim. Seharusnya tidak cocok kalau saya sebut es krim, karena saya yakin tidak menggunakan susu. Tidak juga bisa digolongkan dalam jenis sorbet. Teksturnya sedikit kasar, namun lembut dilidah.
What a nice concept of restaurant, isn't it? Si ibu memang cihuy dah! Teman-teman, jangan lupa berkunjung lagi yah!
Ps. Image 2, 4, 5 belong to Kunyit.