30.3.10

connected

Saya sedang terkagum-kagum pada Tuhan saya. Betapa Dia menciptakan pertemuan dan perpisahan dan meletakkannya dalam skenario yang tak dikira.

Dua orang ini. Yang duduk di depan saya semalam ditemani sepiring piza, langit cerah berbintang dan deru lalu lalang kendaraan. Saya jelas akan merindukan mereka berdua dan semua kebersamaan yang pernah ada.

Saya merasa lega.

Setidaknya saya tahu bahwa bukan hanya saya saja yang mempunyai selera pria yang aneh bin ajaib. Ahahaha. Like it feels so fantastic to finally met these girl who have exactly the same kind of man preference with me. Opps... tenang-tenang. Saya gak berminat pada Subleki dan Sujaki kok, sumpah! huehehehe.

Atau bukan cuma kepala saya yang keras (keras kepala maksudnyah--sumpah, saya gak bangga kok jadi orang yang keras kepala). Juga merasa lega bahwa ada yang lebih bandel daripada saya (jadinya saya jelas bukan orang yang paling bandel sedunia:D).

Ah. Saya berterima kasih pada arsitektur sudah mengenalkan saya pada mereka. Betapa saya makin mencintai profesi saya karena sudah mempertemukan saya pada orang-orang hebat. Yang berani menatap hari dengan kepala tegak. Terbenam namun dengan cepat bangkit lagi. Such an interesting way to learn how to life.

Saya tidak tahu kemana Tuhan akan membawa saya, juga tak tahu apakah saya bisa bertemu mereka lagi. Tetapi, ketika nanti saya tak mampu menatap mentari dengan tubuh tegak, saya jelas akan mengingat mereka.

Tiba-tiba teringat kutipan dari kenalan saya yang juga arsitek. "We are rare breeds!". Ahahaha *miris

ps. Jadi, piza kita berikutnya, mau dibakar pakai bensin atau spiritus nih?
ps2. pic by gita. driven by kadek. Piza Cepat. Jl Teuku Umar, Bali.

25.3.10

the dog loves me

LICK by OZ







It's been on my sketch book for I don't remember how long. I've just had time to scan and upload it after my office hour. Let's say this is how i pay my guilty feeling to Pilo for kicking his nose intentionally after he tried to attack me couple days ago. He stops coming after me ever since. This please me a bit, by the way. I don't hate dog. I just....don't like them :D.

I still have several storyboards about him in my head, though not sure whether I'll have time to put it on paper. Am excited about what I'm doing in the office recently, sadly it takes most of my energy, left only several empty spaces in my brain.

Let me hear what you think :)

24.3.10

serba salah

Contoh komentar yang didapat kala keseringan onlen : "Pacarmu beda kota ya Ta?"
Contoh komentar yang didapat kala jarang onlen : "Kamu sih Ta, pacaran melulu."

Ahahaha.

Bagus. Setidaknya saya masih tampak normal.

18.3.10

byuhbyuh

"gmana bs km yg tinggal di kota hectic itu bs punya hdp yg slow dan ak yg hdp in the middle of nowhere selalu punya hari2 hectic. sungguh tak adil," begitu balasan bernada setengah protes saya melalui pesan pendek kepada teman saya yang tinggal di kota sangat besar dan sebelumnya mengirimkan pemberitahuan bahwa beliau sedang glundang-glundung saja.

Rasanya saat ini saya sedang ingin berdoa semoga kutub magnet bumi bergeser dari poros bumi sehingga bumi berotasi menjadi 25 jam sehari. Atau berharap supermarket menjual alat pengeklon diri. Atau juga otaaaaaaaaaaaak! dimana saya harus membeli otak tambahan?

Haduh. Ide, tulung kunjungi saya :'( *sambil melirik daftar dedlen. Saya sudah mau meledak inih *berlebihan.

Mungkin juga solusinya sebenarnya sederhana. Kurangi makan msg! (Richese nabati kan enaaak:D) rajin olahraga dan berkonsentrasilah. *fufufu Nona Okta, you're too slow. Hop! Hop!

Ah saya ingin mengaku dosa. Sebenernya kehectican hidup saya itu lebih karena saya hobi menunda hal-hal penting dan malah melakukan hal-hal tidak penting. " I'm telling you guys, negligence is a big problem" begitu kata guru saya. Ha..ha.. *cynical laugh. Look who's talking!

14.3.10

pilo(n)


Owh, anyway, everybody, please meet Pilo, Vebri's pet. He grows into completely hyperactive dog nowadays. His first week picture's uploaded here just to celebrate the fact that he was cute. Isn't it the same fact that you have to face with human babies? They're all cute, well, until they're no longer cute anymore.

Mammal..>.< .

12.3.10

hujan

"Eh si Okta lagi hepi yah? Kayak Pilo aja, banyak tingkah!"
*huh! Awas ya elu...!>.<


Entah kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang berkomentar senada. Maksudnya bukan tentang saya yang mirip Pilo tetapi tentang saya yang sepertinya sedang hepi. Masa sih? Sebegitu kelihatannya? Rasanya saya seperti biasanya saja ah!

Mungkin. Saya juga engga tahu kenapa. Padahal saya sedang mengalami banyak hal yang sulit.

Satu. Kerjaan saya makin numpuk. Harus begini, harus begitu. Belum lagi ancaman kulit menghitam karena bakal sering ketemu matahari ditambah penggembulan perut akibat nangkring kebanyakan di depan komputer. Mana gaji gak naik2 lagi. Huuu :'(

Dua. Habis patah hati lagi. Duh Eric***, kok udah kawin duluan siiih. Kita kan belum kenalan. :'( *senggol Japa*Halah*

Tiga. Lingkaran nyaman saya sebentar lagi habis. Kemungkinan besar saya akan jadi antisosial karena engga ada lagi yang akan menarik saya keluar ketika saya sedang autis. Jadi jangan heran ketika suatu saat foto saya jadi headline surat kabar Bali dalam berita profil seorang psikopat. *nguknguk


Tuhan, terimakasih untuk menjadikan saya seorang yang berbahagia atas hal-hal sederhana. Termasuk untuk siang yang diwarnai hujan lebat yang turun dibalik jendela kerja saya. Nyaman sekali. Tanpa teh hangat, rasanya tetap seperti rumah.

:)


***Eric Changchutters maksudnya:D

11.3.10

nomor sembilan lima


Kayaknya sih ya, inilah yang terlintas di pikiran si ibu penjaga toko.

"Ya ampun, ini orang-orang kampung. Norak sekali. Baru pertama kali datang ke Bali, sepertinya. Memangnya, mentang-mentang di Bali, lalu semua tempat layak untuk dijadikan tempat untuk berfoto apa? Kalau mau berfoto, backgroundnya harus bagus lah. Ke Kuta aja sana..ckckck"

Hihihi!

Hi fam! How are you all? How's home?^^

6.3.10

Nge-jus katamuwh?

Hari Sabtu menjelang sore. Nona Vebri datang ke kos saya, mengajak keluar makan dengan agak tergesa. Sudah lapar berat sepertinya. Bahkan diakuinya bahwa Pilo, anjing kecilnya, ditinggalkannya menangis begitu saja. Humm.. lapar akut.

Pertama, saya mengusulkan untuk mencoba tempat makan baru, di Warungnya Perpustakaan Pondok Pekak. Setelah diwarnai drama salah jalan yang diperparah dengan macetnya Ubud kala akhir pekan tiba, sampailah kami di tengah kota. Setelah parkir mobil, kamipun berjalan-kaki menyusuri alun-alun untuk kemudian pada akhirnya menemukan bahwa warungnya sedang di renovasi. Hukss! Semakin lemaslah kami. Kalau sudah ditengah kota begini, mana bisa menemukan makanan murah. Terpaksa alokasi dana untuk makan diperbesar :((.

Kamipun reroute ke Juice Ja yang berselang beberapa toko saja dari alun-alun. Harga masih terjangkau, dan dijamin sehat. Selain itu, saya suka sekali duduk lesehan di depan restoran kecil ini sambil duduk memandangi orang-orang yang lalu lalang.

Sayangnya, sesampainya di sana saya menemukan bahwa Juice Ja penuh sekali. Lesehan kesayangan saya pun sudah ditempati sekelompok orang. Terpaksa kami mencari tempat agak ke dalam.

Ah, saya terkejut! Ternyata restoran ini pun memiliki area makan di galeri kecil di sebelahnya. Pada beberapa kunjungan saya sebelumnya yang bisa dihitung jari itu, area galeri ini tidak pernah dibuka. Kemungkinan besar karena saya selalu datang saat pengunjung sedikit (yaitu seperti saat Ubud sedang kebagian mati lampu atau saat orang-orang lebih memilih menonton ogoh-ogoh daripada makan. Ah!Yaiyalah!) sehingga area makan tambahan ini tak perlu dibuka.


Kami menemukan kursi kosong di pojok ruangan. Huaa.. i love sitting here. I can look closely to all of pretty little things they sell! Accessories, potteries, and jeweleries. Walau begitu, payung yang saya bawa sempat membuat saya khawatir ketika jatuh menyenggol vas dan membuat kegaduhan di seantero ruangan. Lha wong memecahkan berarti membeli jeh! Bisa bangkrut saya kalau vas itu benar-benar pecah, mengingat semua yang ada disitu harganya mahal semua. Untuuuuung... *mengelus dada.



Kali ini saya memesan nasi campur yang rasa tempe bumbu ricanya mengalahkan nasi campurnya sari organik, serta wheat-grass juice. Sewaktu jus wheatgrass itu datang dalam porsi sangat sedikit (satu sloki saja), perasaan saya jadi engga enak. "Biasanya kalo porsinya kecil begini, pasti deh rasanya gak karuan," batin saya sambil teringat jus campuran bit, wortel, seledri dan lemon yang terakhir kali saya pesan dari restoran ini. Uuugh.

Ternyata wheat-grass juice memang engga enak. Berasa benar-benar rumput. Terserah deh! Mau dibilang minuman sehat sehat tujuh turunan, tetap saya engga akan meminumnya setiap hari (emm...kecuali kalau gratis tentu saja). Kayak gini kok diberi nama jus sih? Lebih mirip jamu :((. Untung disajikan bersama jeruk lemon. Rasa rumputnya jadi lebih tawar, membuat saya bisa sedikit jaim ketika meminumnya.

Setelah meminum si jus hijau kecil itu, saya buru-buru meminum air putih berteguk-teguk. Cukup untuk membuat piring berisi nasi campur saya yang harganya merogoh kocek dalam-dalam itu belum begitu kosong ketika saya sudah merasa kenyang. Huaaa...!!

Nasi Ayam Super Mahal

Semenjak kenalan saya yang datang dari Jakarta itu mengaku bahwa setiap kali dia datang ke Bali dia akan selalu mengunjunginya, Warung Satria yang satu ini sudah ada di daftar kunjung saya. Akan tetapi, seperti biasa, setiap kali datang waktu makan, daftar semua warung yang ingin diicip selalu menghilang dari ingatan. Untungnya kali ini ada yang tiba-tiba mengusulkan makan di sana. Cita-cita akhirnya tercapai juga. Bah cita-cita macam apa pula inih?


Si warung rupanya memang terbukti sudah terkenal dari dahulu kala. Buktinya, interiornya jadul abis! Kursinya masih berupa kursi besi dengan sandaran dan dudukan dari vinyl warna merah. Dindingnya dipasangi keramik putih, ditambah foto pejabat yang berkunjung terpasang di dinding, etalase aluminum, serta pelayan yang berseragam batik. So old days.


Warung Satria menjual nasi ayam, mirip dengan nasi Kedewatan. Terdiri dari nasi, sate lilit, ayam suwir, lalapan, dan kacang. Bedanya, disini ditambah telur bumbu dan sup batang pisang campur ayam. Saya sedikit terkejut karena baru kali ini saya makan batang pisang di Bali. Bu Wayan yang sering sekali masak masakan lokal pun tidak pernah menggunakan batang pisang sebagai bahan masakannya. Karena itu saya jadi tidak familiar dengannya.


Menurut saya masakannya enak. Ada beberapa item yang lebih enak dari Nasi Kedewatan. Tuh lihat, si Gita saja menghabiskannya sampai bulir nasi terakhir (Oh, telur dan sate lilit itu memang disisakan untuk saat-sat terakhir. Kebiasaan.) Walau begitu, saya agak terheran-heran, karena sepi sekali. Hanya ada satu dua pembeli datang ketika kami makan. Warung terkenal dan masakannya enak begini kok bisa sepi sih?

Ternyata saudara-saudara. Jawabannya ada pada saat membayar. Buseeeet satu porsi nasi aja harganya sembilan belas ribu. Ckckck pantas tidak seramai warung nasi ayam kebanyakan. Hihihi

Ps. Thanx for the talk, Gita. I miss you already :)

melimpah ruah

Saya suka sekali membawa tamu-tamu saya ke Sari Organik, sebuah warung makan di pinggiran Ubud. Letaknya kurang lebih 1km keluar dari Jalan Raya Ubud, melalui jalan setapak yang tidak bisa dilewati mobil. Sebenarnya motor pun bisa lewat, tetapi saya selalu mengajak atau lebih tepatnya memaksa untuk berjalan kaki karena udaranya yang segar dan pemandangannya yang indah. Paling-paling resikonya adalah mendapat gerutuan dari tamu-tamu saya yang jarang berjalan kaki, "Duuuuh masih jauh ya Ta? Udah kelihatan belum?" Hihihi

Sepanjang perjalanan memang akan disuguhi pemandangan khas Ubud. Lebih menyenangkan lagi ketika berkunjung saat udara cerah. Teras sawah, bebek-bebek, pohon kelapa, petani, langit biru, burung-burung kokokan, semua yang saya suka dah! Akan lebih indah lagi ketika menjelang musim panen tiba dengan padi yang menguning di mana-mana. Bersyukur sekali Indonesia ini kaya raya :)


Warungnya sendiri terletak di bangunan dua lantai. Lantai atas difungsikan sebagai area makan, lantai bawah digunakan untuk dapur. Dari area makan, kita bisa melihat pemandangan hijau khas Ubud seluas 360derajat. Di dekat warung ini memang belum berdiri bangunan. Lantainya yang tidak memiliki dinding pun membuat angin bebas keluar masuk. Saya yang selalu memilih duduk di bale-bale pun tergoda untuk merem. Hehehe


Yang lebih saya sukai dari warung ini adalah semua bahan makanannya yang segar. Ditanam dan dirawat secara organik, tanpa bahan kimia. Di sebelah warung terdapat pusat pembibitannya. Ibu Nila, si pemilik, menanam sendiri hampir semua bahan makanannya. Mulai dari tomat, selada, terong, kacang panjang sampai bayam. Beberapa tanaman yang kurang cocok dengan udara Ubud, beliau tanam di Kintamani. Untuk padi, beliau bekerjasama dengan petani untuk menanam spesies padi Bali yang hampir punah tanpa menggunakan rabuk. Pupuk yang digunakan pun pupuk alami. Beliau mengaku membuat sendiri dari campuran daun gamal, kotoran sapi, kencing sapi yang difermentasi. Beliau bahkan memelihara sapi yang akan memakan semua sampah organik dari warung. Limbah pun terkurangi.

Saya penasaran dengan mangga yang disajikan oleh Sari Organik. Selalu manis. Benar-benar manis dan lembut. Padahal saya juga tidak melihat keberadaan pohon mangga disekitar warung. Ternyata, beliau mengaku berkeliling, 'mengetuk' satu-satu pemilik pohon mangga dan membeli buah yang memang matang di pohon. Pilihan untuk membeli di pasar pun sudah ditutup karena kebanyakan buah matang yang dijual di pasar merupakan hasil karbitan.

Kalau dipikir-pikir, memang ribet untuk mencari bahan2 makanan yang memang masih segar, jauh dari bahan kimia. Tetapi hasilnya sepadan. Sejauh ini, masakan ibu Nila memang makanan paling segar dan lezat yang pernah saya rasakan (Sorry to say,Mum :D). Slow food is the best.

Contohnya ini. Judulnya sih biasa saja. Nasi campur. Pertama kali melihat masakannya datang ke meja, langsung menyesal. "Yah kok sedikit sih!". Setelah makan, wuah perut penuh sekali. Porsi nasi merah yang berbulir besar beserta lauknya memang sudah diukur tepat di perut. Ditambah lalapan segar, plus pepes tahu, tuna, kering tempe dan sambal matah. Daun yang digunakan untuk membungkus pepes tahu itu adalah daun bayam, bukan daun pisang seperti normalnya. Selain karena daun pisang sulit dicari, si ibu mencoba membuat semua yang dihidangkan di atas piring bisa dimakan. Dan masakannya memang enak...
Atau juga lihat hidangan yang ini. Tuna panggang. Saya suka campuran terongnya. Memangggangnya pun pas, jadi sayurannya masih terasa kesegarannya. Nyam nyam...


Jus buahnya pun mantap. Rasanya lebih jelas. Campuran daging buahnya lebih banyak daripada airnya. Ceritanya, beliau bisa menggunakan seperempat kilo strawberi untuk membuat satu gelas jus strawberi. Pantas mantap. Ngomong-omong, Sari Organik menggunakan sedotan dari bambu untuk menggantikan sedotan dari plastik. Saya jadi bertanya-tanya, itu sedotan sehabis dipakai apakah langsung dibuang atau digunakan kembali ya? Oh oh...


Ini hidangan penutup yang pernah saya pesan. Campuran antara mangga manis dengan es krim. Seharusnya tidak cocok kalau saya sebut es krim, karena saya yakin tidak menggunakan susu. Tidak juga bisa digolongkan dalam jenis sorbet. Teksturnya sedikit kasar, namun lembut dilidah.


What a nice concept of restaurant, isn't it? Si ibu memang cihuy dah! Teman-teman, jangan lupa berkunjung lagi yah!



Ps. Image 2, 4, 5 belong to Kunyit.