12.4.11

the will to live

Dua pekan yang lalu, seorang teman lama mengirimkan pesan pendek, bertanya apakah saya sudah menonton film 127hours. "Cocok ama Okta loh", begitu iklannya. Saya baru menontonnya malam ini walaupun saya sudah mendapatkan keping dvdnya sejak akhir pekan itu juga. Dan dia benar, saya menyukainya!

Edit, saya menyukai bagian awalnya saja, terutama di bagian terjun ke air di antara celah canyon, hihihi. (Mauuuuuu!) Soalnya saya gak suka bagian (spoiler alert) potong tangan diakhir ceritanya. Sedih! T_T

Saya harus setuju dengan Danny Boyle. There is no more powerful force than a will to live. Seberapapun jauhnya dihempaskan kehidupan, dalamnya kesulitan, ataupun tingginya tantangan, selama masih ada keinginan untuk melanjutkan hidup, hendaklah semua dikerjakan dengan seratus persen.

Iya. saya tahu. Siapa sih saya? Sok teu. Kayak pernah dihadapkan dengan situasi yang sama saja. Saya benar2 tak punya bayangan apa yang bisa saya lakukan tanpa tangan kanan saya.

*tarik napas dalam-dalam

Memangnya, kalau dihadapkan di situasi yang sama, kamu bisa survive, nona?

*tarik napas lebih dalam


Sekarang, kena susah dikit aja masih hobi nangis-nangis. Payah.

*minum air

...

Saya tahu saya tak mampu. Maka saya berdoa semoga saya tak harus mengalami ujian seberat itu.

Doakan saya yaaa....


Ps. Hei kamu! I'm proud of you for still standing up today. Semangat ya^^. Lots of love from me.

11.4.11

Sudah saatnya.

Sudah saatnya jadi dewasa, nona kecil.

:)




Note.
Nobody's gonna help you. There's no such as Lucky Luke. But, it's okay. Cause it's just a life. And you're on your own.

1.4.11

Wah Hari Jumat!

inhale
exhale


Ya ya...terserah kamu aja deh.





Kali ini es cendolnya buat saya keknya XD

27.3.11

Barakallah



W = F . s

Dan aku bahkan tak yakin kau memang berniat akan meletakkan nilai dalam F.




Yes, i'm brokenhearted.



*image is a gift.

26.3.11

...


I left alone, I left the world.
I was running, to be by your side.
I was dying, alone by your side.
I was flying.*

*Crystal Fighters. At Home. 2011

16.3.11

:)

Dan ketika engkau membutuhkan pertolongan, hanya Allah-lah satu satunya yang mampu menolongmu.

9.3.11

berlibur di saat Nyepi

Nyepi tahun ini saya lewatkan di Bali. Saya merasa tidak perlu kabur keluar pulau. Toh memang cuma sehari, pikir saya. Dan memang benar, saya gak perlu kabur keluar pulau karena tahun ini hari Raya Nyepi tak ada bedanya dengan acara berlibur di rumah nenek!

Nona Vebri bersedia menampung saya di kamar kosnya yang notabene adalah kos yang dulu juga saya tempati pada sembilan bulan pertama saya di Bali, yang disanalah juga saya pernah melewatkan Nyepi pertama saya. Lokasinya di Payangan, yang udaranya lebih dingin dari Ubud.

Di depan kamar terbentang areal sawah yang luas, jadi angin berhembus langsung ke dalam kamar. Sebenarnya, tempatnya ajip! Tenang dan viewnya ciamik! Cuman waktu itu saya gak tahan dingin, serta gelap dan sepinya pada malam hari. Maklum, saya penakut:D

Jadi cocok deh! Udara dingin, semilir angin, plus terpaksa harus ikutan catur brata yang salah satunya adalah dilarang bepergian. Seharian diisi dengan bangun siang, malas2an, masak2an, rumpi2an, glundhang glundhung, hehehe. Liat tuh... si Pilo aja malas2an!

Nah yang ini lebih mengherankan. Ternyata, kami masih diperbolehkan jalan-jalan di sekeliling banjar! Berhubung sebelum-sebelumnya saya cuma mengurung diri di dalam kamar, maka saya pun merayu orang-orang untuk menemani jalan-jalan. Sayangnya yang termakan rayuan saya cuma Vebri dan Pilo.

Begini nih keadaan jalan raya Payangan di waktu Nyepi. Yang biasanya penuh truk besar karena merupakan jalur utama yang menghubungkan Denpasar dan Kintamani, hari itu jadi sepi dan dipenuhi pejalan kaki. Banyak juga yang berkumpul, ngobrol di tengah jalan. Kata Kadek yang menemani kami, kalau sore hari lebih banyak dipenuhi orang pacaran hihihi.

Saya jadi bisa deh memfoto belokan jalan ini! Salah satu penggalan jalan favorite saya selama tiga tahun terakhir! Saya melewatinya tiap pulang dan pergi ke kantor. Kalau hari cerah, saya bisa melihat kumpulan Batukaru sebagai latarbelakangnya.

Malam harinya, kami masih bisa menyalakan lampu. Jadi gak seseram kalau menghabiskan Nyepi di kota, dimana pecalang hilir mudik setiap saat. hihihi

Hari berikutnya, saya bangun pagi-pagi. And i found this never forgotten view! View depan kamar kala matahari masih sembunyi-sembunyi. Hanya ada kabut dan beberapa suara motor yang sudah mulai memenuhi jalanan saja. Saya baru bisa memfotonya sekarang, berhubung sewaktu tinggal disini saya masih belum punya kamera.

Sekalian sesi rutin 'membawa Pilo berjalan-jalan', saya mengajak Vebri dan Yesha untuk berjalan-jalan lewat sawah di seberang jalan, ke arah barat lewat sawah, sampai ke kantor lama. Sebenarnya, agak merasa bersalah sih ketika mereka kesulitan melewati jalan yang 'tak biasa'. Tapi semua hepi kaaaaaan :D?

Sebenarnya kami cuma ingin sampai ke Begawan lewat persawahan saja. Tapi ternyata, kami ditunjukkan jalan yang harus melewati sungai. Mana gak keliatan pula yang mana jalan yang benar. Salah satu petunjuk dari petani yang ditemui di sawah adalah "Ikuti pohon kelapa lalu turun". Buset dah...disini memang adanya pohon kelapa semuaaaa...>.< . Begitu kami berada di seberang sungai dari hotel Como Shambala, yang benar2 terasa in the middle of nowhere, saya sudah hampir menyerah. Rasanya udah ingin pulang balik aja lewat jalan yang sama. Gemericik airnya terdengar deras dan dalam. Tidak tampak ada cara kami bisa menyeberangi sungai yang tebingnya bebatuan tinggi itu. Phew!

Untung akhirnya Non Yesha menemukan batu pijakan yang jaraknya dekat! Jadilah, cita-cita untuk membuat rute loop bisa tercapai.

Dan masuklah kami ke private area nya hotel lewat area dalam yang biasa mereka pakai untuk yoga. Untung sepi! hihihi. Ngomong-ngomong, saya baru sekali ini loh masuk ke masterpiece hasil desain guru saya ini. Agak memalukan sih memang, berhubung selama tiga setengah tahun, saya bekerja hanya 500m dari pintu gerbangnya. Huff...males2an sih @__@. Oke lain kali kita sempatkan untuk jalan2 ke lingkungan hotelnya! Kali ini, cuma numpang keluar lewat pintu depan ajah. Hohoho

Keluar dari hotel, menyempatkan mampir dulu ke kantor lama dan rumah Bu Wayan. Sayangnya warung depan sedang kehabisan gerry chocolatos. Padahal sudah kangen beli Gerry sebungkus dengan harga lima ratus rupiah saja *toyor2supermarket Bintang. Keadaan pedesaan di Bali umumnya terlihat seperti foto di atas. Masih terasa skala manusianya kan?

Oh ya, edisi berlibur kali ini saya sempat masak loh. Salah satunya seperti yang dibawah ini. Cantik kaaaannn? *colekTiko

Ps. Malam sebelum Nyepi, disebut Pengrupukan. Orang Bali akan mengarak Ogoh-ogoh (boneka besar lambang kejahatan) dan memainkannya beramai-ramai di tengah desa/banjar. Tahun ini saya absen menonton. Kemalasan di detik terakhir. hihihi. Foto di bawah ini diambil dari Pengrupukan tahun 2010 kemarin.