25.10.08

syukur

Tema hari sabtu lalu adalah haru biru dan rasa malu.

Saya datang ke dua buah sesi Ubud Writer and Reader Festival. Tamu-tamu kehormatannya adalah Aldo Rei, Triyanto Triwikromo, Andrea Hirata, Camilla Gibb, dan Lily Yulianti Farid. Coba saya simpulkan satu-satu cerita hidup yang mengantarkan mereka sampai duduk di (mirip) podium depan saya sabtu itu.

Naldo Rei. Mempunyai masa kecil suram, hidup bergerilya di hutan di awal usianya, hidup dengan keganasan tentara kopassus setelahnya, kehilangan orang tuanya dan teman2 seumurnya, mempunyai banyak kisah pahit yang sebagian kecil diceritakan pada kami siang itu tetapi sesungguhnya tidak ingin saya simpan dalam kepala karena sedihnya. Dia menuliskan semuanya dalam Resistance:a Childhood Fighting for East Timor. Triyanto Triwikromo. Menghabiskan masa kecil di lingkungan penuh kekerasan, prostitusi, dan ketidakpedulian umat berbagai agama terhadapnya. Masa kecil yang sangat membekas. Dia memilih untuk menuliskannya dalam cerita fiksi sarat makna dibandingkan sebuah memoar. Salah satunya adalah “Anak-anak Mengasah Pisau” (tersirat dalam judulnya kan?)Andrea Hirata. Menghabiskan masa kecil (di pulau yang kaya raya) dengan penuh keterbatasan dan ketidakadilan. Dia dan teman-temannya tetap disemangati oleh seorang guru untuk terus belajar hingga nasib membawanya mendapatkan pendidikan dan penghidupan lebih baik baik. Dia menuliskannya dalam novel laris berjudul laskar pelangi.Camilla Gibb. Bercerita tentang novel penuh penghargaan miliknya, Mouthing The Words. Dia membacakan sedikit bagian dari novelnya. Bagian dimana si anak itu bercerita usaha ibunya untuk menggugurkan dirinya ketika tahu dirinya ada, dan cerita usaha ayahnya untuk mengajaknya beraktifitas seksual.Lily Yulianti Farid. Jurnalis ini menceritakan banyak pengalaman di dunia nyatanya ke dalam cerita2 pendek nan lucu. Tidak menyangka, si ibu anggun yang berbicara lemah lembut ini ternyata punya cerita yang garang. Salah satu bagian yang diceritakannya adalah tentang remaja yang sepertinya melampiaskan kekecewaan dengan melempari rumah istri muda ayahnya. Diceritakan dengan jenaka, dan sangat membumi (setting tempat: Sulawesi). You should read it yourself.
Jadi pada intinya, mereka berlima membawa cerita-cerita sedih milik manusia kecil yang kurang beruntung dalam nasib awal hidupnya. Masing2 tokoh memiliki cara sendiri2 untuk keluar dalam kubangan itu.

Saya lalu melihat pada diri sendiri. Puh, malunya saya. Banyak mengeluh, banyak protes, kurang bersyukur. Padahal hidup saya, sejelek apapun itu, masih jauuuuh lebih baik lagi daripada si anak-anak ini. Saya tidak pernah melihat kematian orang2 terdekat saya, tak perlu melalui perang, tak perlu hidup dalam exploitasi perempuan, tak pernah mengalami kekerasan fisik, mendapat pendidikan yang cukup, mendapat orang tua yang perhatian (sampai sekarang☺), dan mempunyai keluarga yang adem ayem aja tanpa konflik berarti.

Jadi apalagi yang harus saya keluhkan. Lebih banyak yang harus disyukuri. Lupa itu manusiawi, tapi lupa bersyukur pada Allah adalah keterlaluan!

Tidak ada komentar: