Kemarin lusa pekerjaan saya itu seperti satu diantara 10 wanita berambut coklat, mengenakan t-shirt dan celana jeans alias tidak ada bedanya dengan banyak desain asia tenggara yang kerap muncul di majalah dan tidak jelas arahnya. Kemudian desain hari ini dikatakannya seperti seorang wanita berjilbab di antara 9 wanita tersebut. Sudah memiliki identitas katanya. Nah ‘exercise’ berikutnya adalah membuat desain saya itu seperti wanita berjilbab yang cantik, yang mata langsung memandang kepadanya, bahkan ketika dia disejajarkan dengan 9 wanita berjilbab lainnya. Dengan kata lain, sekarang tujuannya adalah mendapatkan ‘wow factor’. (sebenarnya saya agak heran, kenapa beliau selalu menggunakan perumpaan ketika membicarakan arsitektur dengan saya. Mungkin saya memang terlihat telmi didepannya hahaha )
Menurut guru saya, salah satu yang mempunyai ‘wow factor’ didalamnya adalah Kolumba Museum baru milik Peter Zumthor.(btw. Beliau geleng2 kepala ketika saya mengaku tak mengenal Zumthor, tapi kemudian memukul lengan saya ketika saya mengenali spa di Vals yang ternyata salah satu karyanya *dasar guru****..). Malam ini pun saya persembahkan untuk mempelajari Kolumba.
Saya langsung tertegun ketika melihat foto diatas ini. Tiba2 ingin langsung datang ke sana untuk mengalami sendiri rasa ruang yang ada. Saya mencoba menganalisa apa wow factor didalamnya.
Yang pertama menarik perhatian saya adalah cahaya yang digunakan didalam ruangnya. Cahaya alami dan buatan, dari dalam dan luar, statis (lampu) dan dinamis (matahari) , yang keduanya dipecah dalam bentuk cahaya2 kecil dan bermain-main dalam ruang tersebut. Saya selalu menyukai cahaya dan Zumthor memainkannya dengan pandai disini. What a cool ambience!
Berikutnya adalah tekstur dan material yang digunakan. Halus-kasar, beton-kayu-kaca, lurus-diagonal, teratur-berantakan. Semuanya biasa saja tetapi dia padukan menjadi ruang yang kaya (yang kadang kalau tidak hati2 memadukannya kita bisa terjebak pada sebuah keramaian yang berisik) . Zumthor menjadikan semua yang biasa itu jadi sesuatu yang menarik. Brengsek juga orang tua ini, batin saya.
Elemen yang bermain didalamnya pun kaya. Kolom, tembok, screen dan jendela dijadikan satu tanpa menghasilkan sebuah kenorakan berlebihan. Rasa penasaran saya timbul dengan pertanyaan2 semacam mengapa kolom diletakkan disini, dan jendela disana, kenapa dinding disini dan screen disana, apa yang mau dia katakan dengan ini, dan sebagainya. Sampai sekarang pun saya masih belum mendapatkan jawabannya.
Dan yang terakhir adalah apa yang dia perbuat pada bangunan bersejarah yang berdiri di lahan itu. Bukannya direkonstruksi seperti kebanyakan proyek renewal lainnya, dia malah menggunakannya sebagai dasar bangunan baru. Dengan kata lain, bangunan lama dan baru disatukan tanpa batas yang jelas. Dan paduan ini menghasilkan sebuah pameran masa lalu dan masa kini secara bersamaan tanpa mengurangi penghormatan terhadap keduanya.Zumthor memang orang tua gila yang aneh dan keranjingan detil, begitu kesimpulan saya. Itulah yang membuatnya kalah popular dibanding bintang arsitek yang lain. Tiba2 saya mengidolakannya. My quest of beautiful lady in veil stop by for a while in Cologne.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar