15.5.09

tumben

Akhir-akhir ini saya mendapatkan banyak kata ‘tumben’ dari orang-orang di sekitar saya.

“Tumben bawa bekal melulu….” komentar Steve melihat selalu ada biskuit, atau wortel atau sekedar gerry chocolatos keluar dari tas saya
“Tumben kamu gaya gitu, ga biasanya…” komentar Agatha ketika tahu saya benar-benar di kamar saja sepanjang weekend
“Tumben penyakitnya banyak amat… Biasanya cuma capek doang…” komentar Agatha lagi
“Tumben Ta!” komentar Gita ketika saya muncul di Gatsu IV malam-malam di hari kerja
“Tumben udah turun. Biasanya aku buka pintu kamar, sampeyan masih di atas…” kata Siwe tetangga saya ketika bertemu saya di halaman depan sebelum berangkat kerja
“Tumben nganggur!” komentar Steve ketika tahu apa yang saya lakukan hari ini hanyalah mencetak gambar…. dan filing…. dan mengisi time sheet (yang pada akhirnya tetap belum juga saya selesaikan)…

Iya juga ya? Tumben saya begitu… Tumben-tumbennya saya tahan mendengar pidato politik SBY padahal nama saya jelas-jelas tidak tercantum dalam DPT. Juga tumben-tumbennya saya minta disumbang pulsa ke ayah saya padahal yang perlu saya lakukan hanyalah mampir di jalan pulang untuk membelinya sendiri.

Tapi, menyitir kalimat SBY, saya hanya manusia, bukan superman.

Manusia kan aslinya memang punya kecenderungan untuk tiba-tiba melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Kalau Superman, kan tidak boleh tumben-tumbenan menolak menyelamatkan orang dari dikejar-kejar anjing, misalnya…

Saya bukan superman. I'm just an ordinary girl.

Tidak ada komentar: