31.7.11

colour

Semua orang yang pernah menghuni padepokan pasti tahu warna-warna saya. Yup, yang saya maksud adalah 'warna' dalam arti harafiah. My colour palette. Dan tentu saja, semua akan menjawab saya identik dengan warna 'n g e j r e n g'. Gonjreng kalau istilahnya Intan. I would prefer to say it BOLD colour to ngejreng, ya sodara-sodara.

Sebenarnya gak ada yang salah dengan pilihan warna seseorang. Namanya juga hak asasi manusia, to? But hey, what can I say. I'm an architect who spend my daily life in the office full of architect. And if you, readers, are happen not taking architect as a profession, please do read this copy by Springer titled 'Why Do Achitects Wear Black?' (Yeap, we even have a book on this matters!) to give you better picture of colour preference in architect's world. (And owh, please leave Karim Rashid out of it;) )

So yeah, pilihan warna saya memang sudah menjadi topik pembicaraan sendiri di padepokan. Saya sudah termasyhur dalam sejarah padepokan ketika warna jilbab saya mampu menyelamatkan rekan-rekan yang terpisah dalam rombongan ketika berada diantara ribuan orang yang berjejalan di lapangan Tiananmen. Waktu itu saya pakai jilbab warna pink, sementara bendera si pemandu adalah hijau lusuh.

Juga, ketika guru saya pulang dari Pakistan sambil membawa sebuah tas yang berwarna kuning dengan rajutan benang warna-warni lalu berkata "Waktu aku lihat tas ini, aku langsung ingat Okta!" Memang, tasnya lucu sih. Sebenarnya waktu itu saya sebenernya naksir tas yang lain. Tapi berhubung saya sudah dibelikan secara khusus, saya gak bisa tukeran. hiks hiks

So yeah, kadang-kadang saya merengut klo warna pekerjaan saya dibilang terlalu merah atau terlalu kuning oleh guru saya. Atau warna baju harian saya yang dilabelin berdasarkan warnanya oleh teman saya. Hari ini pepaya, besok stroberi, kemarin bata. Untungnya saya muka badak. Ih suka-suka eike mau pakai baju aja. Weeekkk :p

Untungnya semua orang mahfum pada palet warna saya tersebut. Apalagi saat semua orang tahu saya buta warna parsial (Untung saya gak punya cita-cita jadi dokter!). Tapi belakangan itu juga jadi ledekan tersendiri. Huh huh.

Architects, please give a little colour in your life laaaa. Put a little machacha samba brazillia to a complete Zen Den static space of yours. Don't you love the bright colours orange's fruit coming from the leaves? And I can tell you how i love take a peek on eggplant tree that grows next to outdoor stair at our office. Saya berencana memakai tema terong suatu hari. Cuma saya belum menemukan tshirt ungu dan celana hijau yang cucok, hihihi.

Anyway, why am I mumbling about this stuff? Well, nonetheless because my younger sister send me picture below.

One corner on my front house yard. My sweetest dad in the world painted it couple days ago. Adik saya mengadu pada saya. Gak matching abis katanya. Hihihi. Ayah saya kocak abis deh! I think i inherit the palette from him. Seneng deh tahu bahwa saya benar-benar anak beliau. I guess I can't stop laughing today. Hihihi

Ps. Dengar2, Jay Subiakto juga buta warna. Makanya warna video clip karyanya selalu aduhai begitu

4 komentar:

kamal berkata mengatakan...

Aku nggak setuju >,<

mardaris mengatakan...

suka warna item jg ya? :P

asty mengatakan...

item, putih, ijo, kuning, jingga.. :D beberapa warna yg aku seneng liat.. :D

beberapa karena semacam fanatisme.. (2 yg terakhir) :D

dian mengatakan...

aku juga bosen liat warna-warna baju perempuan sini. hitam, putih, krem, abu-abu, warna-warna pastel...kurang ngejreng!