So yeah..Saya a k h i r n y a resigndari kantor saya yang hectic itu tiga bulan yang lalu. Getting lost from industrial architecture (for a while??) . Sejak itu berpraktek arsitektur secara pasif. Menghabiskan waktu lebih banyak di rumah bersama El yang sekarang sudah hampir setahun umurnya. Having simple life, lagipula masih ada Tini yang beking saya untuk urusan bersih-bersih rumah dan urus El (She truly is a holiday maker!).
Berkebun kecil-kecilan walau sering bosan soalnya banyak yang mati. Bikin kolam ikan tapi masih belum bisa dipakai intensif soalnya ada bocor halus. Beberapa resep masih nganggur di catatan henpon ataupun di dinding kulkas (Tapi hosting pengajian kemarin jadi prestasi lah yaaa soalnya kuekuenya dibilang enak XD). Storyboard buat El belum dieksekusi sampai hari ini. De el el
Then I found that doing nothing is actually a fast learnable skill. Damn. Tau gak sih kenapa aktivitas nonton tivi itu banyak peminatnya? Ya karena yang perlu kamu lakukan cuma duduk di depannya dan pencet remote. Then all you know next time has flies. Gampang. mikir juga cuma dikit. Gak perlu imajinasi sebanyak pas kita baca buku misalnya.
I used to detest tivi, mostly because i don't like sinetron. Tapi nonton sinetron sambil mencaci maki akting pesinetron yang buruk, dandanan yang diluar konteks, setting yang aneh, dst bisa jadi hiburan tersendiri. Belum lagi sekarang ada k*mpastivi yang acaranya lebih layak ditonton walau gaya penyajiannya masih mirip mirip tipi eropa. Kalau pas teringat fakta bahwa saya tidak bisa mengingat isi acara tivi yang tayang seminggu yang lalu, pengen saya potong aja tuh kabel tivi biar susah nyala lagi. Lagian tivi di ruang tengah itu kan saya yang beli jaman masih perawan. Tapi berhubung masih ada cadangan tivi satu lagi yang blm dipasang, rasanya bakal gak berguna juga. Paling dua pertiga penghuni rumah akan menukar si tivi saja.
Mengalahkan diri sendiri itu memang susah. Apalagi kalau sudah terjebak dalam 'the art of doing nothing, real nothing'. Lingkungannya mendukung pulak. Maksutnya, saya gak tinggal di Suriah yang gampang kena bom. Gak pula tinggal di Jerman yang bayar ART sangatlah gak mungkin. Masih ada orangtua yang kalau akhirnya saya bokek beneran bisa numpang tinggal disana. Apalagi ada El, mainan baru yang siap sedia setiap saat buat diajak main. Hehehe..halo sayang!
Duh jadi malu saya. I have to end this sooner. Before my son realized that there's nothing he can be proud of upon his mom!
Ps. Ya Allah sembuhkanlah pilek ini. Maaf saya skip yoga tadi pagi. Amiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar