5.10.11

my recent news

Hola! apa kabar? lama tak jumpa! Berhubung minggu lalu saya sudah dikomplain monsterbuaya karena blog saya gak apdet, maka mari kita gunakan waktu menuggu dijemput pulang kerja oleh suami ini untuk menulis. Maklum, udah pusing seharian mikirin balok, kolom, slab dan teman-temannya...

Woooooppppssss apa itu tadi Ta? rasanya ada yang aneh!
Apanya yang aneh? saya kan arsitek, wajar dong ngurusin balok, kolom, slab, purlin, trekstang, balok kantilever, retaining wall, floor structure level .....
Bukaaaaannnnn, bukan yang itu. Kok ada bagian yang menyebut-nyebut kata suami!
Loh saya kan memang punya suami.
Sejak kapan punya suami?
Emmmm...sejakbertahun-tahun lalu rasanya....

Yoi! akhirnya ada yang dengan khilaf mau menikah dengan saya! Atau mungkin juga sudah insaf hidup menjomblo makanya mau sama saya *ampun:D. Dan yang benar adalah saya baru aja sebulan lalu menikah, tapi rasanya udah dari bertahun-tahun lalu saya kenal dan hidup bareng dia. Padahal kenalnya juga diujung jalan itu setahun kemarin *nyanyi lagu Kahitna. Bukan sok romantis loh iniii....tapi fakta.

Oh ya, rasanya gak banyak yang mau saya critain dari acara pernikahan saya. Selain dari jam tujuh pagi di hari-H saya dimarahin ibu tetangga karena sejam sebelum acara dimulai saya masih juga belum berangkat mandi. Dan juga karikatur buatan saya di bawah ini.

Maklum, kita gak ada prewed2 an, so saya buatin kartun tersebut aja. Untungnya groomnya juga suka. Iya, iya saya tahu emang agak agak bau India. Tinggi rambutnya juga agak lebay kayaknya yah. Tapi yang saya gak terima adalah, masa dia bilang disitu dia terlihat cool dan saya yang terlihat genit. Semua setuju kan bahwa itu tidak benar? *asahpisau

So, buat teman-teman saya yang sudah menikah, akan menikah, berencana menikah tetapi belum bertemu pasangannya, ketar-ketir mau melamar calon istri ato minta dilamar calon suami, bingung mau nikah tapi belum punya modal (terutama modal duit, sama kok:D),saya cuma mau bilang : Have a great marriage life for you all! May your togetherness always filled with happinnes :)

31.7.11

colour

Semua orang yang pernah menghuni padepokan pasti tahu warna-warna saya. Yup, yang saya maksud adalah 'warna' dalam arti harafiah. My colour palette. Dan tentu saja, semua akan menjawab saya identik dengan warna 'n g e j r e n g'. Gonjreng kalau istilahnya Intan. I would prefer to say it BOLD colour to ngejreng, ya sodara-sodara.

Sebenarnya gak ada yang salah dengan pilihan warna seseorang. Namanya juga hak asasi manusia, to? But hey, what can I say. I'm an architect who spend my daily life in the office full of architect. And if you, readers, are happen not taking architect as a profession, please do read this copy by Springer titled 'Why Do Achitects Wear Black?' (Yeap, we even have a book on this matters!) to give you better picture of colour preference in architect's world. (And owh, please leave Karim Rashid out of it;) )

So yeah, pilihan warna saya memang sudah menjadi topik pembicaraan sendiri di padepokan. Saya sudah termasyhur dalam sejarah padepokan ketika warna jilbab saya mampu menyelamatkan rekan-rekan yang terpisah dalam rombongan ketika berada diantara ribuan orang yang berjejalan di lapangan Tiananmen. Waktu itu saya pakai jilbab warna pink, sementara bendera si pemandu adalah hijau lusuh.

Juga, ketika guru saya pulang dari Pakistan sambil membawa sebuah tas yang berwarna kuning dengan rajutan benang warna-warni lalu berkata "Waktu aku lihat tas ini, aku langsung ingat Okta!" Memang, tasnya lucu sih. Sebenarnya waktu itu saya sebenernya naksir tas yang lain. Tapi berhubung saya sudah dibelikan secara khusus, saya gak bisa tukeran. hiks hiks

So yeah, kadang-kadang saya merengut klo warna pekerjaan saya dibilang terlalu merah atau terlalu kuning oleh guru saya. Atau warna baju harian saya yang dilabelin berdasarkan warnanya oleh teman saya. Hari ini pepaya, besok stroberi, kemarin bata. Untungnya saya muka badak. Ih suka-suka eike mau pakai baju aja. Weeekkk :p

Untungnya semua orang mahfum pada palet warna saya tersebut. Apalagi saat semua orang tahu saya buta warna parsial (Untung saya gak punya cita-cita jadi dokter!). Tapi belakangan itu juga jadi ledekan tersendiri. Huh huh.

Architects, please give a little colour in your life laaaa. Put a little machacha samba brazillia to a complete Zen Den static space of yours. Don't you love the bright colours orange's fruit coming from the leaves? And I can tell you how i love take a peek on eggplant tree that grows next to outdoor stair at our office. Saya berencana memakai tema terong suatu hari. Cuma saya belum menemukan tshirt ungu dan celana hijau yang cucok, hihihi.

Anyway, why am I mumbling about this stuff? Well, nonetheless because my younger sister send me picture below.

One corner on my front house yard. My sweetest dad in the world painted it couple days ago. Adik saya mengadu pada saya. Gak matching abis katanya. Hihihi. Ayah saya kocak abis deh! I think i inherit the palette from him. Seneng deh tahu bahwa saya benar-benar anak beliau. I guess I can't stop laughing today. Hihihi

Ps. Dengar2, Jay Subiakto juga buta warna. Makanya warna video clip karyanya selalu aduhai begitu

29.7.11

:(

Yeaahhhh it's happening.

*ngitungbintang

24.7.11

mengkeret

Rasanya, kalau saya mengikuti 'master chef- master chef-an' di bidang desain. Mungkin saya akan mendapat penilaian seperti ini dari 'master seperti Juna'

Komposisi : payah
Presentasi : belum selesai
Ide : busuk
Inovasi : tidak ada
Konsep : datar
Otak : tidak kreatif
Taste : tidak ada

Huhuhuhu

*ngringkel di pojokan
**Starck pernah mengalami saat seperti ini gak ya?

4.7.11

sabar

Gobind Vashdev pernah berkata pada manusia-manusia yang suatu siang duduk di pinggiran sebuah sungai di Payangan, saya salah seorang di antaranya, yang intinya kira-kira begini.

Ada dua macam guru dalam kehidupan setiap manusia. Satu adalah guru yang mengajarkan kebajikan, dan kedua adalah guru yang memberikan kesempatan untuk mempraktekkan kebajikan.

Kali ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada guru-guru dalam kehidupan saya yang memberikan kesempatan kepada saya untuk mempraktekkan kesabaran.

:)

18.6.11

ampun dj

Saya pikir, hubungan antara orangtua dan anak adalah seperti kisah saya dengan siapapun yang membonceng motor saya akhir-akhir ini.

Jadi, akhir-akhir ini, semua pemakai motor saya, kecuali saya, mengeluh bermasalah dengan rem. Pertamanya rem belakang saja, belakangan rem depan juga ikut dikeluhkan. Blong, gak pakem, gak makan, apapun itu istilahnya.

Saya sendiri merasa tidak ada yang salah. Lha wong saya ngerasa tiap ngebengkel saya menggarisbawahi urusan rem pada mekaniknya. Kampas rem saja barusan diganti. Kalau kata kecengan saya, itu karena saya sudah terbiasa menggunakannya sehari-hari. Jadi sayalah yang sudah menyesuaikan dengan stelan rem motor saya. Hmmm jadi teringat kuliah teori dasar arsitektur yang pernah menyebut-nyebut bahwa 'kalau bukan bendanya yang diubah, ya manusianya yang berubah'. Yup, so it does.

Mpri : Rem mu kayaknya bermasalah deh
Okta : Ah masa sih?

William : Okta, rem mu gak makan. Tadi yang ibunya sebelah bilang "eeee...eeee" itu hampir nabrak dia
Okta : Ah masa sih?

Kamalia : Mbak rem-mu ra makan tenan
Okta : Ho oh po?

Setelah banyak sesi yang berbau ngeyel itu (ada Sm*sh di belakang nyanyi-nyanyi "you know me so weeeeelll"), saya pun mulai percaya bahwa rem saya memang bermasalah. Tapi ya, namanya juga saya. Sok sibuk. Ke bengkel selalu ntar-ntar atau last minute. Sudah begitu selalu malas lama2 nangkring disana. Walhasil, motor saya tetep begitu-begitu aja. Ckckck

Terakhir saya tidak berani membiarkan adik saya memboncengkan saya menggunakan motor saya itu. Tepos abis deh pantat saya ngeboncengin dia selama 3jam x 2. Komentar dia adalah, "mbak kamu kok berani banget sih. Ngeboncengin orang, jalan jauh, kelok-kelok, rame, remnya gak makan pula". Tapi nyampe kaaaaaaan? It's all about skill hehehe *sombong

Tetapi, waktu dia memboncengkan saya dengan motornya yang masih sehat walafiat, malah jadi saya yang dag dig dug. Berkali-kali mengingatkan supaya pelan-pelan saja. Padahal kalau dipikir-pikir, gaya mengemudinya baik-baik saja. Sumpah deh, saya jadi keinget orangtua saya yang cerewetnya minta ampun kalau lagi diboncengkan. Ada motor lain mendekat sedikit saja langsung panik. Ternyata saya sama aja (atau jangan-jangan saya yang sudah mulai menua??)

Intisari ceritanya adalah, kalau saya yang duduk di depan, semua diterabas habis gak pake mikir2 (mikir ding-tapi dikit :D). Kalau saya yang duduk di belakang, saya akan penuh kekhawatiran akan keselamatan.

Rumusnya : duduk didepan = anak. duduk dibelakang = orang tua.

Iya kan?


---

Atau cuma berlaku untuk saya dan orang tua saya saja? *nguk

5.6.11

Pizza

Setelah seminggu anjrot-anjrotan ngerjain proyeknya yang super duper luas, Neng Vebri pun mengajak saya makan siang di Ubud. Saya ditraktir, cihuiiiii! Katanya soalnya saya sempat bantuin sampai lembur-lembur sagala. Padahal saya kan bantuin emang karena permintaan pak bos. hihihi

Mau makan apa kita?
Aku pengen makan pizza nih!
Dimana? Pizza Bagus?
Ah bosen.
Trus, mau makan dimana?
Kemarin makan di pizza enak banget di Hindus. Tapi mahal banget.
Mau di Sari Organik?
Atau di Bunute?
Ada juga sih di Flava. Tapi gatau mereka masih sedia atau engga.
dan percakapan yang biasa terjadi setiap mau makan ini pun terus berlanjut. hihihi

Setelah muterin Ubud dan melewati Lotus Cafe di Jalan Monkey Forest,

"Naaah Veb! Cobain makan disini aja yuk! Harusnya enak pizzanya!"


Lotus Cafe terhitung restoran tua di Pulau Bali dan sudah tersebar di beberapa bagian pulau. Di Ubud sendiri ada dua cabang.


Ternyata kami datang di saat mereka baru saja buka. Maklum, hari itu ada Perayaan Kuningan. Jadi restoran buka di tengah hari. Sebenarnya mereka hanya membuka tempat makan bagian depan, tetapi mereka berbaik hati kepada kami yang ingin duduk di belakang, di dekat kolam lotusnya yang tenang. Hihihi.


Dan pizza Diavolo plus garden salad kami pun datang. Enak. Alhamdulillah, cepat habis! Hehehe

Oh ya, buat semua, dapet salam dari kodoknya Lotus! Hahaha *Halaaaaaaah

Makasih buat traktirannya ya Veb!

Ps. Buat yang janji nraktir Pizza Nanamia dari tahun lalu. Mana yaaaa traktirannya... ??