Beneran loh. Saya engga bohong. Melihat bumi dari perspektif yang berbeda itu sangat menyegarkan. Makanya, waktu beberapa waktu yang lalu mbak Indah mengajak saya main ke Agung lewat rute Pasar Agung yang belum pernah saya lewati, saya pun langsung hore2. Bertiga bersama mas Ari yang jauh-jauh datang dari ibukota, kami pun naik pada tengah malam, pada cuaca yang Subhanallah cerah sekali. Malam berbintang, tanpa hujan padahal dalam musim penghujan, angin berhembus pelan, tanpa acara menggigil pula.
Sayangnya persiapan saya pribadi sangat kurang. Baru diberikabar dua hari sebelum jadwal pergi, pas saya lagi padat kerjaan di kantor, plus saya skip olahraga pagi selama seminggu sebelumnya *ketok Okta. Dan yang paling buruk adalah, saya lupa bahwa Agung itu gunung yang tinggi! Agak-agak nggaya gitu deh. Secara sebelumnya pernah sampai puncak lewat jalur Besakih yang lebih parah. Hahaha. Jadilah saya yang paling lambreta lamborgindang. "Hadoh, itu lampu Pura Pasar Agung (tempat kami memulai perjalanan) kok ya masih kelihatan terus sih " batin saya setiap kali menengok ke belakang.
Sempat muntah di awal perjalanan. Kaki kram melulu, padahal sebelumnya gak pernah. Freezing for no reason (oh how i miss my red jacket that i forgot i have it). Pusingpusing gak jelas. Sandal putus talinya. Pokoknya menderita deh. Sampai-sampai saya bikin janji, bakal telpon ayah ibu untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang sudah pernah saya perbuat *nguk. Untungnya mbak Indah dan mas Ari sabar sekali. Permintaan saya untuk ditinggalkan saja pun tidak dikabulkan. hihihi.
Sewaktu berhenti beristirahat, ketika mbak Indah membuat minuman, saya pun tertidur. Saya merasa bersalah, soalnya tidur lumayan lama, hampir satu jam. Begitu bangun, saya pun jadi segar dan bisa jalan agak lebih cepat. Woalah ternyata penyebabnya karena saya kurang tidur saja *pentung Okta. Pelajaran berharga, baik ketika menyetir ataupun naik gunung, jangan dalam keadaan mengantuk! Hehehe
Pagi hampir menjelang. Solat subuh di bebatuan rasanya menyenangkan sekali. Begitu selesai, salam ke kanan melihat langit, salam ke kiri melihat jurang. Waaaa, rasanya jadi beriman dalam seketika :D.
Ketika hari mulai terang, it's a wow view again.
Pura Pasar Agung nya mulai terlihat mengecil,
puncaknya mulai kelihatan.
Oh wait, saya salah. Setiap bebatuan yang tampaknya adalah puncak ternyata bukan puncak. Karena setelah didekati ternyata masih ada tempat yang lebih tinggi yang sebelumnya tak terlihat dari bawah. Hos hos hos. Untungnya saya menikmati merayap di bebatuan. Ditemani sinar matahari pagi, bikin ketagihan.
Apa yang disebut puncak di Pura Pasar Agung ternyata sempit sekali. Kalau kami datang bersepuluh, sudah dijamin gak ada bedanya dengan metromini dah! See, it's already fully occupied by two person sleeping under the sun! :)
Puncak dari jalur Besakih yang terlihat dari sini.
The cloud is on my eye level!
Jempol ane ijin nampang sebentar dulu ya sodara-sodara. Sekalian kenang2an buat sandal yang udah almarhum.So, emang cantik kan di atas sana (ignore my toes, please:D) ? Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Alhamdulillah.
Thanks to this two! Dua orang yang berbahasa Jawa melulu sepanjang perjalanan. Logat Jawa saya pun disebutnya tidak mirip seperti orang Jawa. Kok iso to yo.... Tak njipuk kursus boso Jowo wae po yo?Ps. Waktu sesudahnya saya beneran nelpon untuk meminta maaf, Ayah saya malah jadi bertanya-tanya curiga. "Lha ngopo to, nduk?" Saya jawab aja gakpapa. Kalau saya bilang saya ngos-ngosan di gunung, saya pasti langsung dilarang pergi lagi. Hahaha. Sssstt...

1 komentar:
wakakakakak ketawan!
Posting Komentar