Kali ini, beliau memarkir mobilnya di kos saya setelah di beberapa kesempatan berikutnya urung membeli sate karena tidak menemukan tempat parkir di dekat tukang sate tersebut. Dari kos, kami cuma perlu berjalan kaki sekitar sepuluh menit saja*. Dan nampaknya, sepuluh menit berjalan kaki sudah cukup membuat saya lebih lapar. Huaaa

Mereka menjual dua macam sate. Sate lilit dan sate tusuk. Favorit saya adalah sate lilitnya. Menurut saya, ini sate lilit terenak yang pernah saya rasakan seantero Bali. Lebih banyak bumbu yang terlibat dan lebih tercampur. Adonan ikan yang sudah digiling bersama parutan kelapa dan bumbu-bumbu khas Bali lainnya....
dililitkan ke tusuk sate yang lebar...
lalu dibakar di atas arang deh!
Biasanya, saya cuma beli utuk bungkus bawa pulang. Tetapi, kali ini, ditemani tipat, kami pun makan di pinggir jalan, duduk di belakang ibu penjualnya sambil ngobrol ngalor ngidul.
Selain sate, si ibu pun menjual pepes ikan, plecing kangkung, dan nasi sela. Nasi sela adalah nasi yang dicampur dengan ketela. Peninggalan jaman jebot ketika harga nasi masih mahal. Jadi, terhitung lumayan beragam pilihan menu dari penjual jalanan semacam mereka.Nyamnyam. Tambah minta bungkus buat di rumah aah. Kali-kali, energinya nanti habis setelah dipakai untuk jalan kaki pulang ke rumah. Hahaha.
* Tau gak sih? Ternyata dengan berjalan kaki saya menemukan banyak sudut yang baru saya lihat di sekitar tempat tinggal saya, padahal saya sudah tinggal di lingkungan ini lebih dari tiga tahun!

3 komentar:
gitu ya, ga pernah ajak2 kesitu :P
Situ sapa yak??
Ha ha ha
lali opo nglali? ;(
Posting Komentar