9.5.11

komunikasi

Saya sedang berpikir, kenapa yah ilmu komunikasi sampai perlu dibuat subjek pembelajaran sendiri di universitas (Cheers untuk adik kecil saya, yang ternyata sudah besar, yang sedang mencoba masuk ke ke Jurusan Ilmu komunikasi).

Pada awalnya memang sesederhana menyampaikan isi kepala saja, seperti bercerita. Lalu berkembang dengan menjadi argumentatif, berbagi opini. Lalu berkembang untuk tujuan yang lebih persuasif. Seperti membuat orang mengambilkan barang untukmu, sampai membuat produkmu terjual keras di seluruh dunia. Dari sekedar berbahasa isyarat, hingga serumit berkomunikasi dengan media.

Urusan sesederhana menyampaikan isi kepala ternyata ada to do-not to do rules nya. Kalau tidak, buku Larry King tentu tidak akan menjadi best seller, Hermawan Kertajaya akan jadi wajah yang terlupakan ketika berpapasan di jalanan dan universitas di dunia tidak akan mengeluarkan subjek Komunikasi.

Dan tujuan utama dari semuanya adalah bagaimana caranya berkomunikasi tanpa menghasilkan konflik, bukan begitu?

Kalau semua orang bisa berkomunikasi dengan baik, tentu tidak akan ada pertentangan berarti antara tiga aliran terbesar dunia yang sama-sama mengimani Ibrahim aka Abram aka Abraham yang bermuara pada kekacauan dunia.

Pula tidak akan ada pertengkaran "Kenapa kamu tak pernah berusaha merebut aku dari Komang Suyasa?" yang dijawab dengan "Memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk melawan kehendak ayahmu. Kamu kira aku bisa hidup bahagia dengan gadis yang aku cintai sementara keluarganya menderita?" pada sebuah percakapan FTV di siang bolong.

Pula saya tidak akan mendengar teriakan-teriakan dari tetangga saya kepada anak perempuan ciliknya. Sekali waktu saya pernah diberitahu arti kalimat yang terucap yang membuat saya bersyukur saya tak mengerti bahasa Bali. (Please, please daddy. Don't shout to your daughter!)

Sebenarnya, saya tak pernah tertarik untuk mempelajari ilmu komunikasi lebih lanjut. Maksud saya, buat apa belajar menjadi seseorang yang bukan dirimu? It's like doing faking things. Tapi sepertinya, saya harus merubah cara berpikir saya. Mungkin, jika sekecil-kecilnya saya paham bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, saya akan mengurangi jumlah konflik dalam hidup saya, dan itu berarti akan berkurang pula energi dan waktu saya yang terbuang sia-sia.

Dan untuk seseorang yang pernah mendapat nilai kepribadian sosial setengah dari nilai IQ nya, saya benar2 membutuhkannya. Bukan begitu, nona?

Setidaknya saya tidak akan mendapat pertanyaan keras "Why are you so stubborn?" yang kemungkinan akan saya jawab dengan "Why are so pushy?" kalau saya tidak ingat itu keluar dari mulut orang yang menggaji saya.

Oh, hari ini belajar hal penting dalam sukses berkomunikasi. Kuncinya adalah, put yourself in his/her/its shoe aka masuklah ke dalam sudut pandang orang yang kau ajak berkomunikasi. Objek percobaannya adalah kucing yang berseliweran di balkon belakang saya. Kucing adalah makhluk yang tidak bisa diajak berbicara. Jadi untuk mengkomunikasikan keinginan saya agar dia tidak masuk ke dalam kamar adalah dengan bersuara keras, beradu pandang mata dengan mata tanpa berkedip sama sekali. Just show him that you're are the dominant alpha male on this place. Jadi, ketika kemudian saya mendapati dia tengah mencoba-coba masuk ke kamar saya, yang perlu saya lakukan adalah menaikkan volume suara saya atau berjalan mendekat. Dia pun akan segera berlari sambil memasang muka bersalah. Tanpa sapu ataupun pemukul temporer lainnya, maksudpun tersampaikan.

Again, I am just mumbling,need to get distracted against this back pain. You may not taking this post seriously.

ke Agung lagi!

Kata teman saya, orang yang suka pergi ke gunung itu orang yang galau. "Ah, masa sih?" jawab saya kemudian. Padahal, saya pergi ke gunung itu itu murni karena tergoda pemandangan yang cantik di atas sana.

Beneran loh. Saya engga bohong. Melihat bumi dari perspektif yang berbeda itu sangat menyegarkan. Makanya, waktu beberapa waktu yang lalu mbak Indah mengajak saya main ke Agung lewat rute Pasar Agung yang belum pernah saya lewati, saya pun langsung hore2. Bertiga bersama mas Ari yang jauh-jauh datang dari ibukota, kami pun naik pada tengah malam, pada cuaca yang Subhanallah cerah sekali. Malam berbintang, tanpa hujan padahal dalam musim penghujan, angin berhembus pelan, tanpa acara menggigil pula.

Sayangnya persiapan saya pribadi sangat kurang. Baru diberikabar dua hari sebelum jadwal pergi, pas saya lagi padat kerjaan di kantor, plus saya skip olahraga pagi selama seminggu sebelumnya *ketok Okta. Dan yang paling buruk adalah, saya lupa bahwa Agung itu gunung yang tinggi! Agak-agak nggaya gitu deh. Secara sebelumnya pernah sampai puncak lewat jalur Besakih yang lebih parah. Hahaha. Jadilah saya yang paling lambreta lamborgindang. "Hadoh, itu lampu Pura Pasar Agung (tempat kami memulai perjalanan) kok ya masih kelihatan terus sih " batin saya setiap kali menengok ke belakang.

Sempat muntah di awal perjalanan. Kaki kram melulu, padahal sebelumnya gak pernah. Freezing for no reason (oh how i miss my red jacket that i forgot i have it). Pusingpusing gak jelas. Sandal putus talinya. Pokoknya menderita deh. Sampai-sampai saya bikin janji, bakal telpon ayah ibu untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang sudah pernah saya perbuat *nguk. Untungnya mbak Indah dan mas Ari sabar sekali. Permintaan saya untuk ditinggalkan saja pun tidak dikabulkan. hihihi.

Sewaktu berhenti beristirahat, ketika mbak Indah membuat minuman, saya pun tertidur. Saya merasa bersalah, soalnya tidur lumayan lama, hampir satu jam. Begitu bangun, saya pun jadi segar dan bisa jalan agak lebih cepat. Woalah ternyata penyebabnya karena saya kurang tidur saja *pentung Okta. Pelajaran berharga, baik ketika menyetir ataupun naik gunung, jangan dalam keadaan mengantuk! Hehehe

Pagi hampir menjelang. Solat subuh di bebatuan rasanya menyenangkan sekali. Begitu selesai, salam ke kanan melihat langit, salam ke kiri melihat jurang. Waaaa, rasanya jadi beriman dalam seketika :D.

Ketika hari mulai terang, it's a wow view again.

Pura Pasar Agung nya mulai terlihat mengecil,

puncaknya mulai kelihatan.

Oh wait, saya salah. Setiap bebatuan yang tampaknya adalah puncak ternyata bukan puncak. Karena setelah didekati ternyata masih ada tempat yang lebih tinggi yang sebelumnya tak terlihat dari bawah. Hos hos hos. Untungnya saya menikmati merayap di bebatuan. Ditemani sinar matahari pagi, bikin ketagihan.

Apa yang disebut puncak di Pura Pasar Agung ternyata sempit sekali. Kalau kami datang bersepuluh, sudah dijamin gak ada bedanya dengan metromini dah! See, it's already fully occupied by two person sleeping under the sun! :)

Puncak dari jalur Besakih yang terlihat dari sini.

The cloud is on my eye level!

Jempol ane ijin nampang sebentar dulu ya sodara-sodara. Sekalian kenang2an buat sandal yang udah almarhum.

So, emang cantik kan di atas sana (ignore my toes, please:D) ? Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Alhamdulillah.

Thanks to this two! Dua orang yang berbahasa Jawa melulu sepanjang perjalanan. Logat Jawa saya pun disebutnya tidak mirip seperti orang Jawa. Kok iso to yo.... Tak njipuk kursus boso Jowo wae po yo?

Ps. Waktu sesudahnya saya beneran nelpon untuk meminta maaf, Ayah saya malah jadi bertanya-tanya curiga. "Lha ngopo to, nduk?" Saya jawab aja gakpapa. Kalau saya bilang saya ngos-ngosan di gunung, saya pasti langsung dilarang pergi lagi. Hahaha. Sssstt...

8.5.11

Catatan Ketinggalan: Taman Ayun

Pertengahan tahun lalu, JengKadek sempat berkunjung Bali. Seperti biasa, setelah menyelesaikan urusannya beliau pun menyempatkan diri untuk , of course, jalan-jalan. Dan sebagai seksi penggembira hura-hura paling berpengalaman, saya pun diajak. Horeeee! Segera saja saya kompori untuk mengunjungi Pura Taman Ayun, di Mengwi Tabanan. Sebagai mantan mahasiswa arsitektur, ga afdol rasanya kalau belum mengunjungi objek arsitektur yang satu ini. Maklum, fotonya terpampang sebagai cover buku Introduction to Balinese Architecture keluaran Periplus. *halah :D

Secara spasial, taman ini menyenangkan. Banyak sekali ruang terbuka yang luas. Secara proporsi, jauh lebih luas dibanding pura2 besar terkenal lainnya di Bali. Kolam yang diikuti dengan halaman hijau di bagian depan.

Kompleks pura nya sendiri terletak di bagian tengah yang dikelilingi dengan kolam teratai.

Pengunjung, kecuali berniat untuk berdoa, tidak diperbolehkan memasuki kompleks pura dalam karena disucikan oleh umat Hindu. Sebagai gantinya, dibuatkan jalan setapak yang mengelilinginya agar bisa mengintip bangunan pura dari luar pagar.

Ukirannya pun menurut saya cantik.

Dibagian belakang kompleks terdapat taman luas yang dipenuhi pepohonan. Rindang, namun terasa spooky. Beberapa bale dibiarkan tak terurus. Kolam kelilingnya, or should i say 'selokan', dipenuhi lumut. Padahal potensial untuk dijadikan taman tempat bercengkrama. Apalagi kompleks ini diapit dua sungai besar yang membuatnya jadi terasa sejuk.

Sayangnya, di taman ini tidak tersedia informasi yang menjelaskan tentang sejarah pura. Saya yang gak ngerti apa-apa tentang sejarah Bali jadi cuma bisa bengong deh. Padahal masuk kompleksnya bayar loh@_@ . Menurut buku contekan saya ini, kata Ayun sendiri berarti "a huge open space" (oooowh...pantes luas...) dan pernah sekali waktu menjadi pura resmi kerajaan Mengwi setelah pusat kerajaan dipindah dari Kapal ke desa Mengwi (oooowh...pantes detilnya bagus).

Oya, peserta jalan-jalan lainnya adalah Becks dan Krip2. Tuh liat gayanya masing2. Krip2 tetap dengan cube kesayangannya, sedangkan Becks, hadoh, dikau menenteng-nenteng apaan siiih.

Dari Taman Ayun perjalanan berlanjut ke utara. Tapi cerita lanjutannya jangan dipublish disini ah. Yang jelas, saya mau deh untuk ntraktir mereka berdua naik speedboat! Hihihi.

4.5.11

everything's magic*

Saya tidak bisa mendefinisikan mengapa saya menyukai bidang pekerjaan saya ini.

Mungkin karena saya suka mencorat-coret? Ah engga juga. Buku sketsa sudah lama tak penuh-penuh juga.
Mungkin karena saya suka mencipta? Bah, saya tak berbakat. Guru saya yang sering saya cela saja lebih mampu mengeluarkan konsep yang lebih brilian daripada saya.
Atau mungkin karena saya malas menghitung? sehingga pekerjaan saya yang lebih erat kaitannya dengan 'rasa' pun terlihat lebih menyenangkan daripada matematika ataupun fisika murni.
Sekedar salah masuk jurusan mungkin? Yup, saya dulu pernah pengen memperdalam ilmu biologi. Tapi tahulah, berhubung orangtua saya kenal seorang sarjana biologi yang ber IP tinggi yang akhirnya hanya bekerja sebagai pustakawan, maka sayapun tak mendapat ijin.

Saya ingat, saya pernah ditanyai 'mengapa saya menyukai arsitektur', oleh guru saya pada saat interview pekerjaan ini hampir empat tahun lalu. Jawaban saya kala itu adalah karena saya menyukai prosesnya. Seperti mempunyai 'gambaran akan akhir', lalu berusaha mati-matian untuk mendapatkan akhir sesuai gambaran di awal. Dan ketika benar2 mendapatkannya, wow perasaan lega dan bangga hinggap tak terkira. So true.

Dan ketika banyak teman di sekitar saya resign mengatasnamakan berbagai alasan, baik dari padepokan, atau bahkan dari 'arsitektur' itu sendiri, saya tetap tidak mempunyai gambaran lain tentang kehidupan saya selain berarsitektur sampai akhir hayat.

Jadi, mengapa saya menyukai arsitektur?

Hmmm...

Entahlah.

Mungkin... hanya sekedar karena saya menyukai sesi overtime, ditemani sunyi, ketika tangan saya yang lebih banyak kerja sehingga otak saya bisa berkelana memikirkan apa saja, terkadang sambil menangis galau, atau bernyanyi riang.

Semoga saya tidak terkena bronkhitis.

*AVA, I-Empire

12.4.11

the will to live

Dua pekan yang lalu, seorang teman lama mengirimkan pesan pendek, bertanya apakah saya sudah menonton film 127hours. "Cocok ama Okta loh", begitu iklannya. Saya baru menontonnya malam ini walaupun saya sudah mendapatkan keping dvdnya sejak akhir pekan itu juga. Dan dia benar, saya menyukainya!

Edit, saya menyukai bagian awalnya saja, terutama di bagian terjun ke air di antara celah canyon, hihihi. (Mauuuuuu!) Soalnya saya gak suka bagian (spoiler alert) potong tangan diakhir ceritanya. Sedih! T_T

Saya harus setuju dengan Danny Boyle. There is no more powerful force than a will to live. Seberapapun jauhnya dihempaskan kehidupan, dalamnya kesulitan, ataupun tingginya tantangan, selama masih ada keinginan untuk melanjutkan hidup, hendaklah semua dikerjakan dengan seratus persen.

Iya. saya tahu. Siapa sih saya? Sok teu. Kayak pernah dihadapkan dengan situasi yang sama saja. Saya benar2 tak punya bayangan apa yang bisa saya lakukan tanpa tangan kanan saya.

*tarik napas dalam-dalam

Memangnya, kalau dihadapkan di situasi yang sama, kamu bisa survive, nona?

*tarik napas lebih dalam


Sekarang, kena susah dikit aja masih hobi nangis-nangis. Payah.

*minum air

...

Saya tahu saya tak mampu. Maka saya berdoa semoga saya tak harus mengalami ujian seberat itu.

Doakan saya yaaa....


Ps. Hei kamu! I'm proud of you for still standing up today. Semangat ya^^. Lots of love from me.

11.4.11

Sudah saatnya.

Sudah saatnya jadi dewasa, nona kecil.

:)




Note.
Nobody's gonna help you. There's no such as Lucky Luke. But, it's okay. Cause it's just a life. And you're on your own.

1.4.11

Wah Hari Jumat!

inhale
exhale


Ya ya...terserah kamu aja deh.





Kali ini es cendolnya buat saya keknya XD