Saya pikir, hubungan antara orangtua dan anak adalah seperti kisah saya dengan siapapun yang membonceng motor saya akhir-akhir ini.
Jadi, akhir-akhir ini, semua pemakai motor saya, kecuali saya, mengeluh bermasalah dengan rem. Pertamanya rem belakang saja, belakangan rem depan juga ikut dikeluhkan. Blong, gak pakem, gak makan, apapun itu istilahnya.
Saya sendiri merasa tidak ada yang salah. Lha wong saya ngerasa tiap ngebengkel saya menggarisbawahi urusan rem pada mekaniknya. Kampas rem saja barusan diganti. Kalau kata kecengan saya, itu karena saya sudah terbiasa menggunakannya sehari-hari. Jadi sayalah yang sudah menyesuaikan dengan stelan rem motor saya. Hmmm jadi teringat kuliah teori dasar arsitektur yang pernah menyebut-nyebut bahwa 'kalau bukan bendanya yang diubah, ya manusianya yang berubah'. Yup, so it does.
Mpri : Rem mu kayaknya bermasalah deh
Okta : Ah masa sih?
William : Okta, rem mu gak makan. Tadi yang ibunya sebelah bilang "eeee...eeee" itu hampir nabrak dia
Okta : Ah masa sih?
Kamalia : Mbak rem-mu ra makan tenan
Okta : Ho oh po?
Setelah banyak sesi yang berbau ngeyel itu (ada Sm*sh di belakang nyanyi-nyanyi "you know me so weeeeelll"), saya pun mulai percaya bahwa rem saya memang bermasalah. Tapi ya, namanya juga saya. Sok sibuk. Ke bengkel selalu ntar-ntar atau last minute. Sudah begitu selalu malas lama2 nangkring disana. Walhasil, motor saya tetep begitu-begitu aja. Ckckck
Terakhir saya tidak berani membiarkan adik saya memboncengkan saya menggunakan motor saya itu. Tepos abis deh pantat saya ngeboncengin dia selama 3jam x 2. Komentar dia adalah, "mbak kamu kok berani banget sih. Ngeboncengin orang, jalan jauh, kelok-kelok, rame, remnya gak makan pula". Tapi nyampe kaaaaaaan? It's all about skill hehehe *sombong
Tetapi, waktu dia memboncengkan saya dengan motornya yang masih sehat walafiat, malah jadi saya yang dag dig dug. Berkali-kali mengingatkan supaya pelan-pelan saja. Padahal kalau dipikir-pikir, gaya mengemudinya baik-baik saja. Sumpah deh, saya jadi keinget orangtua saya yang cerewetnya minta ampun kalau lagi diboncengkan. Ada motor lain mendekat sedikit saja langsung panik. Ternyata saya sama aja (atau jangan-jangan saya yang sudah mulai menua??)
Intisari ceritanya adalah, kalau saya yang duduk di depan, semua diterabas habis gak pake mikir2 (mikir ding-tapi dikit :D). Kalau saya yang duduk di belakang, saya akan penuh kekhawatiran akan keselamatan.
Rumusnya : duduk didepan = anak. duduk dibelakang = orang tua.
Iya kan?
---
Atau cuma berlaku untuk saya dan orang tua saya saja? *nguk
18.6.11
5.6.11
Pizza
Setelah seminggu anjrot-anjrotan ngerjain proyeknya yang super duper luas, Neng Vebri pun mengajak saya makan siang di Ubud. Saya ditraktir, cihuiiiii! Katanya soalnya saya sempat bantuin sampai lembur-lembur sagala. Padahal saya kan bantuin emang karena permintaan pak bos. hihihi
Mau makan apa kita?
Aku pengen makan pizza nih!
Dimana? Pizza Bagus?
Ah bosen.
Trus, mau makan dimana?
Kemarin makan di pizza enak banget di Hindus. Tapi mahal banget.
Mau di Sari Organik?
Atau di Bunute?
Ada juga sih di Flava. Tapi gatau mereka masih sedia atau engga.
dan percakapan yang biasa terjadi setiap mau makan ini pun terus berlanjut. hihihi
Setelah muterin Ubud dan melewati Lotus Cafe di Jalan Monkey Forest,
"Naaah Veb! Cobain makan disini aja yuk! Harusnya enak pizzanya!"
Lotus Cafe terhitung restoran tua di Pulau Bali dan sudah tersebar di beberapa bagian pulau. Di Ubud sendiri ada dua cabang.

Ternyata kami datang di saat mereka baru saja buka. Maklum, hari itu ada Perayaan Kuningan. Jadi restoran buka di tengah hari. Sebenarnya mereka hanya membuka tempat makan bagian depan, tetapi mereka berbaik hati kepada kami yang ingin duduk di belakang, di dekat kolam lotusnya yang tenang. Hihihi.

Dan pizza Diavolo plus garden salad kami pun datang. Enak. Alhamdulillah, cepat habis! Hehehe
Oh ya, buat semua, dapet salam dari kodoknya Lotus! Hahaha *Halaaaaaaah
Makasih buat traktirannya ya Veb!
Ps. Buat yang janji nraktir Pizza Nanamia dari tahun lalu. Mana yaaaa traktirannya... ??
Mau makan apa kita?
Aku pengen makan pizza nih!
Dimana? Pizza Bagus?
Ah bosen.
Trus, mau makan dimana?
Kemarin makan di pizza enak banget di Hindus. Tapi mahal banget.
Mau di Sari Organik?
Atau di Bunute?
Ada juga sih di Flava. Tapi gatau mereka masih sedia atau engga.
dan percakapan yang biasa terjadi setiap mau makan ini pun terus berlanjut. hihihi
Setelah muterin Ubud dan melewati Lotus Cafe di Jalan Monkey Forest,
"Naaah Veb! Cobain makan disini aja yuk! Harusnya enak pizzanya!"
Lotus Cafe terhitung restoran tua di Pulau Bali dan sudah tersebar di beberapa bagian pulau. Di Ubud sendiri ada dua cabang.

Ternyata kami datang di saat mereka baru saja buka. Maklum, hari itu ada Perayaan Kuningan. Jadi restoran buka di tengah hari. Sebenarnya mereka hanya membuka tempat makan bagian depan, tetapi mereka berbaik hati kepada kami yang ingin duduk di belakang, di dekat kolam lotusnya yang tenang. Hihihi.

Dan pizza Diavolo plus garden salad kami pun datang. Enak. Alhamdulillah, cepat habis! Hehehe
Oh ya, buat semua, dapet salam dari kodoknya Lotus! Hahaha *HalaaaaaaahMakasih buat traktirannya ya Veb!
Ps. Buat yang janji nraktir Pizza Nanamia dari tahun lalu. Mana yaaaa traktirannya... ??
Label:
bali,
clueless tourism:),
daily life,
jajan,
ngUBUD
Ala Vietnam
Masih dalam episode cerita jalan-jalan makan-makan bersama Neng Vebri. Huhuhu I'm gonna miss her. Last week was her farewell party. Hope she'll get better life out there! Good luck Miss!Kali ini mengunjungi sebuah restoran Vietnam di atas Bintang Supermarket Ubud. Sewaktu kami mengunjunginya, tempat ini baru dibuka sehari sebelumnya. Jadi, servisnya belum seratus persen oke. Kami yang lagi super duper lapar, waktu itu harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan pesanan kami. Sempat juga pengunjung yang datang belakangan malah mendapat makanannya duluan. Hiks-hiks. Mulai deh, saat-saat menunggu dipakai untuk lirik2 interior restoran kecil ini.
Secara keseluruhan, saya menyukai ambiencenya. Warnanya biru ke turquoise-an. Enak di mata. Banyak cahaya masuk.
Bahkan disediakan tempat duduk di balkonnya sehingga bisa makan sambil melihat lalu lalang orang di bawah sana. Hanya, saya engga tahu pasti apakah nyaman untuk duduk di sana, berhubung balkonnya super sempit.
Saya naksir hood lampu gantungnya yang terbuat dari caping petani Vietnam! Lebih halus daripada caping2 yang biasa saya temukan disini. Tolong, ingatkan saya untuk membawa pulang satu jika lain kali saya ada kesempatan buat jalan2 ke Vietnam ya!
Saya juga naksir tanaman dalam toples ini! Cuma berupa selembar dua lembar daun, namun di ujungnya tumbuh akar langsung. Waktu saya tanya, mereka mendatangkannya langsung dari Vietnam. Huuuuh rasanya pengen ngantongin satu, trus bawa pulang deh *toyorOktaOh ya, saya juga naksir finishing kursi di background itu. Let's bookmark it!
Truuuss, saya naksir alas meja saya. Kolase keramik warna. Bukan barang baru sih. Tetapi saya suka perpaduan warnanya. Potongan-potongannya juga terlihat lebih 'mikir' dibanding bagaimana penjual di Tegalalang biasa membuat produknya.
Pesanan Veb datang duluan. A bog bowl of something. Slurp slurp.Mana nih punya saya?
Taraaaa, akhirnya makanan saya yang judulnya dalam bahasa aneh yang sudah tidak saya ingat pun datang! Dan reaksi saya adalah "Hah, cuma begini doang??". Hahaha. Maklum, laper abis plus nunggu lamak! So, ketika yang datang adalah bihun beras plus lumpia udang ala Vietnam maka saya pun jadi pengen pingsan *nguk.Tapi, tetep enak kok, Bu! Suer! (hihihi, antisipasi kali2 ibu pemilik restonya mampir ke halaman ini. biar saya gak dituntut:D) Rasanya sedikit berbeda. Agak asam. Mungkin, masakan Vietnam memang begitu kali ya. Cuman.... kurang buanyak! Yaaah ga sebanding lah sama harganya. FYI, saya menghabiskan sekitar 50rb untuk makan siang saya kali ini.
Tapi serius deh. Memang kurang banyak! Buktinya, bule yang tadinya duduk makan di belakang kursi saya sewaktu di dalam restoran, saya dapati dia tengah makan lagi di warung nasi campur yang juga ada di kompleks supermarket. Buahahaha...
Label:
bali,
clueless tourism:),
daily life,
jajan,
ngUBUD
sate lilit
Di pertigaan dekat tempat tinggal saya, tepatnya di belokan tajam menuju Panestanan di sebelah Museum Blanco, ada penjual sate yang satenya enyaaaak banget deh. Sewaktu kantor saya masih di Payangan, yang notabene saya akan melewati pertigaan ini, saya sering kehabisan. Promosi gak berlebihan kok. Cobain aja sendiri klo gak percaya! Seperti si non Vebri ini.
Kali ini, beliau memarkir mobilnya di kos saya setelah di beberapa kesempatan berikutnya urung membeli sate karena tidak menemukan tempat parkir di dekat tukang sate tersebut. Dari kos, kami cuma perlu berjalan kaki sekitar sepuluh menit saja*. Dan nampaknya, sepuluh menit berjalan kaki sudah cukup membuat saya lebih lapar. Huaaa

Mereka menjual dua macam sate. Sate lilit dan sate tusuk. Favorit saya adalah sate lilitnya. Menurut saya, ini sate lilit terenak yang pernah saya rasakan seantero Bali. Lebih banyak bumbu yang terlibat dan lebih tercampur. Adonan ikan yang sudah digiling bersama parutan kelapa dan bumbu-bumbu khas Bali lainnya....
dililitkan ke tusuk sate yang lebar...
lalu dibakar di atas arang deh!
Biasanya, saya cuma beli utuk bungkus bawa pulang. Tetapi, kali ini, ditemani tipat, kami pun makan di pinggir jalan, duduk di belakang ibu penjualnya sambil ngobrol ngalor ngidul.
Selain sate, si ibu pun menjual pepes ikan, plecing kangkung, dan nasi sela. Nasi sela adalah nasi yang dicampur dengan ketela. Peninggalan jaman jebot ketika harga nasi masih mahal. Jadi, terhitung lumayan beragam pilihan menu dari penjual jalanan semacam mereka.
Nyamnyam. Tambah minta bungkus buat di rumah aah. Kali-kali, energinya nanti habis setelah dipakai untuk jalan kaki pulang ke rumah. Hahaha.
* Tau gak sih? Ternyata dengan berjalan kaki saya menemukan banyak sudut yang baru saya lihat di sekitar tempat tinggal saya, padahal saya sudah tinggal di lingkungan ini lebih dari tiga tahun!
Kali ini, beliau memarkir mobilnya di kos saya setelah di beberapa kesempatan berikutnya urung membeli sate karena tidak menemukan tempat parkir di dekat tukang sate tersebut. Dari kos, kami cuma perlu berjalan kaki sekitar sepuluh menit saja*. Dan nampaknya, sepuluh menit berjalan kaki sudah cukup membuat saya lebih lapar. Huaaa

Mereka menjual dua macam sate. Sate lilit dan sate tusuk. Favorit saya adalah sate lilitnya. Menurut saya, ini sate lilit terenak yang pernah saya rasakan seantero Bali. Lebih banyak bumbu yang terlibat dan lebih tercampur. Adonan ikan yang sudah digiling bersama parutan kelapa dan bumbu-bumbu khas Bali lainnya....
dililitkan ke tusuk sate yang lebar...
lalu dibakar di atas arang deh!
Biasanya, saya cuma beli utuk bungkus bawa pulang. Tetapi, kali ini, ditemani tipat, kami pun makan di pinggir jalan, duduk di belakang ibu penjualnya sambil ngobrol ngalor ngidul.
Selain sate, si ibu pun menjual pepes ikan, plecing kangkung, dan nasi sela. Nasi sela adalah nasi yang dicampur dengan ketela. Peninggalan jaman jebot ketika harga nasi masih mahal. Jadi, terhitung lumayan beragam pilihan menu dari penjual jalanan semacam mereka.Nyamnyam. Tambah minta bungkus buat di rumah aah. Kali-kali, energinya nanti habis setelah dipakai untuk jalan kaki pulang ke rumah. Hahaha.
* Tau gak sih? Ternyata dengan berjalan kaki saya menemukan banyak sudut yang baru saya lihat di sekitar tempat tinggal saya, padahal saya sudah tinggal di lingkungan ini lebih dari tiga tahun!
Label:
bali,
clueless tourism:),
daily life,
jajan,
ngUBUD
2.6.11
just....nothing
Have you ever realized that world is just so appealing to be conquered? With all shared stories about how you can achieve almost everything. With the new value of 'be you want to be, fuck somebody else's desire of who they want you to be' spread all over new era media. Said, told, heard, sang legends who preserve their own idealism about making the world is a better place with their persistent attitude on what they believe.
Yes. The world is just so appealing to be conquered.
Yes, you can travel all over the place if that is really your dream. Buy magazine, enter web world, hang out on the neighborhood cafe and you'll read or hear success trip stories that is so easy for you to imitate even if you barely have no money.
Yes, you can be the greatest architect ever. Open your eyes, challenge yourself onto whatever milestone that you think is necessary. Work for experienced architect to cut those irreplaceable 30 years of knowledge into as short as possible learning time. Apply for an abroad scholarship to get international perspective and rise your level of competitions. Learns from the rights books, travel to award winning ouvre, hangout with your fellow architect, all to sharp your sense in this field. Even you can always enter architecture industry if all that you want is money.
Do you want to be as genius as Sciacia? Keep painting, keep working and you'll be matured by time.
Do you want to have your own cello concert? Try to invest 3hours of your day on it, well, just like Federer.
Do you want to be famous fashionista? try to hear from Diana Rikasari. It's all started from her love to shoes.
Do you want to famous on tv as so called 'artist'? Oh I don't. So save your time by not asking me how;)
Yes you can be whatever, get whatever, anytime! And it's all on your own finger! Beat that!
The world is just so appealing, sooo tempting.
It's funny though. I'm twentyseven and consider my self on 'young' group. Having the energy to conquer the world, so i believe. But what I want lately is only... that little eyes, little nose, little mouth, little fingers, little feet.....
I must be crazy
Yes. The world is just so appealing to be conquered.
Yes, you can travel all over the place if that is really your dream. Buy magazine, enter web world, hang out on the neighborhood cafe and you'll read or hear success trip stories that is so easy for you to imitate even if you barely have no money.
Yes, you can be the greatest architect ever. Open your eyes, challenge yourself onto whatever milestone that you think is necessary. Work for experienced architect to cut those irreplaceable 30 years of knowledge into as short as possible learning time. Apply for an abroad scholarship to get international perspective and rise your level of competitions. Learns from the rights books, travel to award winning ouvre, hangout with your fellow architect, all to sharp your sense in this field. Even you can always enter architecture industry if all that you want is money.
Do you want to be as genius as Sciacia? Keep painting, keep working and you'll be matured by time.
Do you want to have your own cello concert? Try to invest 3hours of your day on it, well, just like Federer.
Do you want to be famous fashionista? try to hear from Diana Rikasari. It's all started from her love to shoes.
Do you want to famous on tv as so called 'artist'? Oh I don't. So save your time by not asking me how;)
Yes you can be whatever, get whatever, anytime! And it's all on your own finger! Beat that!
The world is just so appealing, sooo tempting.
It's funny though. I'm twentyseven and consider my self on 'young' group. Having the energy to conquer the world, so i believe. But what I want lately is only... that little eyes, little nose, little mouth, little fingers, little feet.....
I must be crazy
9.5.11
komunikasi
Saya sedang berpikir, kenapa yah ilmu komunikasi sampai perlu dibuat subjek pembelajaran sendiri di universitas (Cheers untuk adik kecil saya, yang ternyata sudah besar, yang sedang mencoba masuk ke ke Jurusan Ilmu komunikasi).
Pada awalnya memang sesederhana menyampaikan isi kepala saja, seperti bercerita. Lalu berkembang dengan menjadi argumentatif, berbagi opini. Lalu berkembang untuk tujuan yang lebih persuasif. Seperti membuat orang mengambilkan barang untukmu, sampai membuat produkmu terjual keras di seluruh dunia. Dari sekedar berbahasa isyarat, hingga serumit berkomunikasi dengan media.
Urusan sesederhana menyampaikan isi kepala ternyata ada to do-not to do rules nya. Kalau tidak, buku Larry King tentu tidak akan menjadi best seller, Hermawan Kertajaya akan jadi wajah yang terlupakan ketika berpapasan di jalanan dan universitas di dunia tidak akan mengeluarkan subjek Komunikasi.
Dan tujuan utama dari semuanya adalah bagaimana caranya berkomunikasi tanpa menghasilkan konflik, bukan begitu?
Kalau semua orang bisa berkomunikasi dengan baik, tentu tidak akan ada pertentangan berarti antara tiga aliran terbesar dunia yang sama-sama mengimani Ibrahim aka Abram aka Abraham yang bermuara pada kekacauan dunia.
Pula tidak akan ada pertengkaran "Kenapa kamu tak pernah berusaha merebut aku dari Komang Suyasa?" yang dijawab dengan "Memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk melawan kehendak ayahmu. Kamu kira aku bisa hidup bahagia dengan gadis yang aku cintai sementara keluarganya menderita?" pada sebuah percakapan FTV di siang bolong.
Pula saya tidak akan mendengar teriakan-teriakan dari tetangga saya kepada anak perempuan ciliknya. Sekali waktu saya pernah diberitahu arti kalimat yang terucap yang membuat saya bersyukur saya tak mengerti bahasa Bali. (Please, please daddy. Don't shout to your daughter!)
Sebenarnya, saya tak pernah tertarik untuk mempelajari ilmu komunikasi lebih lanjut. Maksud saya, buat apa belajar menjadi seseorang yang bukan dirimu? It's like doing faking things. Tapi sepertinya, saya harus merubah cara berpikir saya. Mungkin, jika sekecil-kecilnya saya paham bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, saya akan mengurangi jumlah konflik dalam hidup saya, dan itu berarti akan berkurang pula energi dan waktu saya yang terbuang sia-sia.
Dan untuk seseorang yang pernah mendapat nilai kepribadian sosial setengah dari nilai IQ nya, saya benar2 membutuhkannya. Bukan begitu, nona?
Setidaknya saya tidak akan mendapat pertanyaan keras "Why are you so stubborn?" yang kemungkinan akan saya jawab dengan "Why are so pushy?" kalau saya tidak ingat itu keluar dari mulut orang yang menggaji saya.
Oh, hari ini belajar hal penting dalam sukses berkomunikasi. Kuncinya adalah, put yourself in his/her/its shoe aka masuklah ke dalam sudut pandang orang yang kau ajak berkomunikasi. Objek percobaannya adalah kucing yang berseliweran di balkon belakang saya. Kucing adalah makhluk yang tidak bisa diajak berbicara. Jadi untuk mengkomunikasikan keinginan saya agar dia tidak masuk ke dalam kamar adalah dengan bersuara keras, beradu pandang mata dengan mata tanpa berkedip sama sekali. Just show him that you're are the dominant alpha male on this place. Jadi, ketika kemudian saya mendapati dia tengah mencoba-coba masuk ke kamar saya, yang perlu saya lakukan adalah menaikkan volume suara saya atau berjalan mendekat. Dia pun akan segera berlari sambil memasang muka bersalah. Tanpa sapu ataupun pemukul temporer lainnya, maksudpun tersampaikan.
Again, I am just mumbling,need to get distracted against this back pain. You may not taking this post seriously.
Pada awalnya memang sesederhana menyampaikan isi kepala saja, seperti bercerita. Lalu berkembang dengan menjadi argumentatif, berbagi opini. Lalu berkembang untuk tujuan yang lebih persuasif. Seperti membuat orang mengambilkan barang untukmu, sampai membuat produkmu terjual keras di seluruh dunia. Dari sekedar berbahasa isyarat, hingga serumit berkomunikasi dengan media.
Urusan sesederhana menyampaikan isi kepala ternyata ada to do-not to do rules nya. Kalau tidak, buku Larry King tentu tidak akan menjadi best seller, Hermawan Kertajaya akan jadi wajah yang terlupakan ketika berpapasan di jalanan dan universitas di dunia tidak akan mengeluarkan subjek Komunikasi.
Dan tujuan utama dari semuanya adalah bagaimana caranya berkomunikasi tanpa menghasilkan konflik, bukan begitu?
Kalau semua orang bisa berkomunikasi dengan baik, tentu tidak akan ada pertentangan berarti antara tiga aliran terbesar dunia yang sama-sama mengimani Ibrahim aka Abram aka Abraham yang bermuara pada kekacauan dunia.
Pula tidak akan ada pertengkaran "Kenapa kamu tak pernah berusaha merebut aku dari Komang Suyasa?" yang dijawab dengan "Memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk melawan kehendak ayahmu. Kamu kira aku bisa hidup bahagia dengan gadis yang aku cintai sementara keluarganya menderita?" pada sebuah percakapan FTV di siang bolong.
Pula saya tidak akan mendengar teriakan-teriakan dari tetangga saya kepada anak perempuan ciliknya. Sekali waktu saya pernah diberitahu arti kalimat yang terucap yang membuat saya bersyukur saya tak mengerti bahasa Bali. (Please, please daddy. Don't shout to your daughter!)
Sebenarnya, saya tak pernah tertarik untuk mempelajari ilmu komunikasi lebih lanjut. Maksud saya, buat apa belajar menjadi seseorang yang bukan dirimu? It's like doing faking things. Tapi sepertinya, saya harus merubah cara berpikir saya. Mungkin, jika sekecil-kecilnya saya paham bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, saya akan mengurangi jumlah konflik dalam hidup saya, dan itu berarti akan berkurang pula energi dan waktu saya yang terbuang sia-sia.
Dan untuk seseorang yang pernah mendapat nilai kepribadian sosial setengah dari nilai IQ nya, saya benar2 membutuhkannya. Bukan begitu, nona?
Setidaknya saya tidak akan mendapat pertanyaan keras "Why are you so stubborn?" yang kemungkinan akan saya jawab dengan "Why are so pushy?" kalau saya tidak ingat itu keluar dari mulut orang yang menggaji saya.
Oh, hari ini belajar hal penting dalam sukses berkomunikasi. Kuncinya adalah, put yourself in his/her/its shoe aka masuklah ke dalam sudut pandang orang yang kau ajak berkomunikasi. Objek percobaannya adalah kucing yang berseliweran di balkon belakang saya. Kucing adalah makhluk yang tidak bisa diajak berbicara. Jadi untuk mengkomunikasikan keinginan saya agar dia tidak masuk ke dalam kamar adalah dengan bersuara keras, beradu pandang mata dengan mata tanpa berkedip sama sekali. Just show him that you're are the dominant alpha male on this place. Jadi, ketika kemudian saya mendapati dia tengah mencoba-coba masuk ke kamar saya, yang perlu saya lakukan adalah menaikkan volume suara saya atau berjalan mendekat. Dia pun akan segera berlari sambil memasang muka bersalah. Tanpa sapu ataupun pemukul temporer lainnya, maksudpun tersampaikan.
Again, I am just mumbling,need to get distracted against this back pain. You may not taking this post seriously.
ke Agung lagi!
Kata teman saya, orang yang suka pergi ke gunung itu orang yang galau. "Ah, masa sih?" jawab saya kemudian. Padahal, saya pergi ke gunung itu itu murni karena tergoda pemandangan yang cantik di atas sana.
Beneran loh. Saya engga bohong. Melihat bumi dari perspektif yang berbeda itu sangat menyegarkan. Makanya, waktu beberapa waktu yang lalu mbak Indah mengajak saya main ke Agung lewat rute Pasar Agung yang belum pernah saya lewati, saya pun langsung hore2. Bertiga bersama mas Ari yang jauh-jauh datang dari ibukota, kami pun naik pada tengah malam, pada cuaca yang Subhanallah cerah sekali. Malam berbintang, tanpa hujan padahal dalam musim penghujan, angin berhembus pelan, tanpa acara menggigil pula.
Sayangnya persiapan saya pribadi sangat kurang. Baru diberikabar dua hari sebelum jadwal pergi, pas saya lagi padat kerjaan di kantor, plus saya skip olahraga pagi selama seminggu sebelumnya *ketok Okta. Dan yang paling buruk adalah, saya lupa bahwa Agung itu gunung yang tinggi! Agak-agak nggaya gitu deh. Secara sebelumnya pernah sampai puncak lewat jalur Besakih yang lebih parah. Hahaha. Jadilah saya yang paling lambreta lamborgindang. "Hadoh, itu lampu Pura Pasar Agung (tempat kami memulai perjalanan) kok ya masih kelihatan terus sih " batin saya setiap kali menengok ke belakang.
Sempat muntah di awal perjalanan. Kaki kram melulu, padahal sebelumnya gak pernah. Freezing for no reason (oh how i miss my red jacket that i forgot i have it). Pusingpusing gak jelas. Sandal putus talinya. Pokoknya menderita deh. Sampai-sampai saya bikin janji, bakal telpon ayah ibu untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang sudah pernah saya perbuat *nguk. Untungnya mbak Indah dan mas Ari sabar sekali. Permintaan saya untuk ditinggalkan saja pun tidak dikabulkan. hihihi.
Sewaktu berhenti beristirahat, ketika mbak Indah membuat minuman, saya pun tertidur. Saya merasa bersalah, soalnya tidur lumayan lama, hampir satu jam. Begitu bangun, saya pun jadi segar dan bisa jalan agak lebih cepat. Woalah ternyata penyebabnya karena saya kurang tidur saja *pentung Okta. Pelajaran berharga, baik ketika menyetir ataupun naik gunung, jangan dalam keadaan mengantuk! Hehehe
Pagi hampir menjelang. Solat subuh di bebatuan rasanya menyenangkan sekali. Begitu selesai, salam ke kanan melihat langit, salam ke kiri melihat jurang. Waaaa, rasanya jadi beriman dalam seketika :D.
Ketika hari mulai terang, it's a wow view again.
Pura Pasar Agung nya mulai terlihat mengecil,
puncaknya mulai kelihatan.
Oh wait, saya salah. Setiap bebatuan yang tampaknya adalah puncak ternyata bukan puncak. Karena setelah didekati ternyata masih ada tempat yang lebih tinggi yang sebelumnya tak terlihat dari bawah. Hos hos hos. Untungnya saya menikmati merayap di bebatuan. Ditemani sinar matahari pagi, bikin ketagihan.
Apa yang disebut puncak di Pura Pasar Agung ternyata sempit sekali. Kalau kami datang bersepuluh, sudah dijamin gak ada bedanya dengan metromini dah! See, it's already fully occupied by two person sleeping under the sun! :)
Puncak dari jalur Besakih yang terlihat dari sini.
The cloud is on my eye level!
Jempol ane ijin nampang sebentar dulu ya sodara-sodara. Sekalian kenang2an buat sandal yang udah almarhum.
So, emang cantik kan di atas sana (ignore my toes, please:D) ? Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Alhamdulillah.
Thanks to this two! Dua orang yang berbahasa Jawa melulu sepanjang perjalanan. Logat Jawa saya pun disebutnya tidak mirip seperti orang Jawa. Kok iso to yo.... Tak njipuk kursus boso Jowo wae po yo?
Ps. Waktu sesudahnya saya beneran nelpon untuk meminta maaf, Ayah saya malah jadi bertanya-tanya curiga. "Lha ngopo to, nduk?" Saya jawab aja gakpapa. Kalau saya bilang saya ngos-ngosan di gunung, saya pasti langsung dilarang pergi lagi. Hahaha. Sssstt...
Beneran loh. Saya engga bohong. Melihat bumi dari perspektif yang berbeda itu sangat menyegarkan. Makanya, waktu beberapa waktu yang lalu mbak Indah mengajak saya main ke Agung lewat rute Pasar Agung yang belum pernah saya lewati, saya pun langsung hore2. Bertiga bersama mas Ari yang jauh-jauh datang dari ibukota, kami pun naik pada tengah malam, pada cuaca yang Subhanallah cerah sekali. Malam berbintang, tanpa hujan padahal dalam musim penghujan, angin berhembus pelan, tanpa acara menggigil pula.
Sayangnya persiapan saya pribadi sangat kurang. Baru diberikabar dua hari sebelum jadwal pergi, pas saya lagi padat kerjaan di kantor, plus saya skip olahraga pagi selama seminggu sebelumnya *ketok Okta. Dan yang paling buruk adalah, saya lupa bahwa Agung itu gunung yang tinggi! Agak-agak nggaya gitu deh. Secara sebelumnya pernah sampai puncak lewat jalur Besakih yang lebih parah. Hahaha. Jadilah saya yang paling lambreta lamborgindang. "Hadoh, itu lampu Pura Pasar Agung (tempat kami memulai perjalanan) kok ya masih kelihatan terus sih " batin saya setiap kali menengok ke belakang.
Sempat muntah di awal perjalanan. Kaki kram melulu, padahal sebelumnya gak pernah. Freezing for no reason (oh how i miss my red jacket that i forgot i have it). Pusingpusing gak jelas. Sandal putus talinya. Pokoknya menderita deh. Sampai-sampai saya bikin janji, bakal telpon ayah ibu untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang sudah pernah saya perbuat *nguk. Untungnya mbak Indah dan mas Ari sabar sekali. Permintaan saya untuk ditinggalkan saja pun tidak dikabulkan. hihihi.
Sewaktu berhenti beristirahat, ketika mbak Indah membuat minuman, saya pun tertidur. Saya merasa bersalah, soalnya tidur lumayan lama, hampir satu jam. Begitu bangun, saya pun jadi segar dan bisa jalan agak lebih cepat. Woalah ternyata penyebabnya karena saya kurang tidur saja *pentung Okta. Pelajaran berharga, baik ketika menyetir ataupun naik gunung, jangan dalam keadaan mengantuk! Hehehe
Pagi hampir menjelang. Solat subuh di bebatuan rasanya menyenangkan sekali. Begitu selesai, salam ke kanan melihat langit, salam ke kiri melihat jurang. Waaaa, rasanya jadi beriman dalam seketika :D.
Ketika hari mulai terang, it's a wow view again.
Pura Pasar Agung nya mulai terlihat mengecil,
puncaknya mulai kelihatan.
Oh wait, saya salah. Setiap bebatuan yang tampaknya adalah puncak ternyata bukan puncak. Karena setelah didekati ternyata masih ada tempat yang lebih tinggi yang sebelumnya tak terlihat dari bawah. Hos hos hos. Untungnya saya menikmati merayap di bebatuan. Ditemani sinar matahari pagi, bikin ketagihan.
Apa yang disebut puncak di Pura Pasar Agung ternyata sempit sekali. Kalau kami datang bersepuluh, sudah dijamin gak ada bedanya dengan metromini dah! See, it's already fully occupied by two person sleeping under the sun! :)
Puncak dari jalur Besakih yang terlihat dari sini.
The cloud is on my eye level!
Jempol ane ijin nampang sebentar dulu ya sodara-sodara. Sekalian kenang2an buat sandal yang udah almarhum.So, emang cantik kan di atas sana (ignore my toes, please:D) ? Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Alhamdulillah.
Thanks to this two! Dua orang yang berbahasa Jawa melulu sepanjang perjalanan. Logat Jawa saya pun disebutnya tidak mirip seperti orang Jawa. Kok iso to yo.... Tak njipuk kursus boso Jowo wae po yo?Ps. Waktu sesudahnya saya beneran nelpon untuk meminta maaf, Ayah saya malah jadi bertanya-tanya curiga. "Lha ngopo to, nduk?" Saya jawab aja gakpapa. Kalau saya bilang saya ngos-ngosan di gunung, saya pasti langsung dilarang pergi lagi. Hahaha. Sssstt...
Langganan:
Postingan (Atom)
