6.11.09

rinjani october 2009

"Eh apa itu?" menunjuk ke wajah saya
"Lagi tren, bos!" jawab saya sekenanya, sambil dalam batin mengomel. P e n t i n g banget ya bos, sampai harus dibahas di m e e t i n g ??

Wajah saya memang jadi topik pembahasan menarik semenjak pagi itu sampai hari ini. Soalnya benar-benar kocak, belang habis! Ada garis batas yang jelas di bawah mata. Setengah ke atas berwarna putih, setengah ke bawah berwarna hitam. Duh, badut pisaaan. Puas deh semua orang ngeledekin saya. Belang aneh itu disebabkan oleh kealpaan saya untuk memakai krim anti UV sewaktu jalan ke puncak Rinjani. Bagian yang tertutup kacamata tetap mempertahankan warna aslinya, sedangkan yang tidak terlindungi, buset :((, gosong terbakar (tapi terbukti kan, kacamata saya anti UV^o^).

Yoi! kesampaian juga cita-cita ke Rinjani setelah niatan semenjak berbulan-bulan yang lalu tertunda beberapa kali akibat pesertanya cuma dua melulu. Akhirnya Oktober kali ini berhasil mengumpulkan s.e.m.b.i.l.a.n peserta termasuk saya, huahahaha (tertawa puas)! Honorable mention untuk Mas Budi (plus Bunga Matahari) yang bersedia menyetirin kita semua sampai Sembalun dengan VW legendarisnya. Berasa roadtrip kayak di pilemnya Steve Carell aja ;)).


Rinjani trekking was full of precious moment, Subhanallah. Dimulai dari berjalan di padang savana di bawah taburan bintang-bintang terang. Lalu bangun di pagi berikutnya menunggu matahari terbit dengan pemandangan bersih 360 derajat tanpa gangguan apapun hasil peradaban manusia. Love it.

Berjalan lagi seharian, menanjak menuju Plawangan (tepi kawah) dibawah matahari yang puanasnya pol. (Seminggu setelah pulang dari Rinjani saya diajakin dua teman saya berjalan di Sunset Hill, dan benar2 merasa gak tahan dengan panasnya yang sebenarnya tidak ada apa2nya jika dibandingkan dengan Rinjani sambil berpikir 'kok bisabisanya sih saya sampai Plawangan hari itu) Diantara pasir dan debu, batuk pilek saya yang gak sembuh-sembuh juga itu berasa makin parah saja. Hari yang panjang diakhiri dengan kemping di tepi kawah, super dingin!

Mengawali summit attack pukul tiga pagi. Solat Subuh dengan pemandangan Gunung Barujari dibawah sana yang masih aktif memuntahkan lava (Bo' ngeri pisan, kebayang neraka seberapa panasnya!>>quoting Mimi). Lalu perjalanan tiada akhir, menanjak menuju puncak. Tanjakan terakhir merupakan tanjakan perjuangan. 45 derajat full kerikil, plus jauhnya jarak yang bikin ga tahan. Begitu sampai puncak, disambut matahari yang makin panas saja. But It's all worth it. All you get up there is a WOW view. The cloud, the lava, the lake....so speechless.

Lalu perjalanan turun, dengan ancaman jika terpeleset dikit saja, bisa membuat masuk jurang yang tak terlihat dasarnya (what the hell that you were doing, Okta?). Lalu kabut yang kadang datang kadang pergi. It makes the edelweiss looks like really belong there (so never pick it, yow! it's not beautiful anymore down there).

Perjalanan turun ke danau lebih seru lagi, karena penuh dengan pemandangan indah, dengan si danau biru sebagai artis utama yang selalu ada di depan mata. Diantara lembah dan bukit, sungai dan jalan setapak, Swiss mah kalah deh! (macam pernah kesana saja kau ini Ta')

Sebenarnya, sebelum memulai perjalanan, kami sudah diingatkan oleh penjaga pintu masuk bahwa kami dilarang kemping di pinggir danau mengingat gunungnya memang benar-benar sedang aktif. Tapi tetep, kami mendirikan tenda tepat di pinggir danau, tidur berpemandangan lava merah yang berpijar dengan backsound suara gemuruh, yang terjadi s e t i a p s a a t dalam jangkauan jarak yang sepertinya saya mampu melempar kerikil ke arah kalderanya. Saya baru sadar betapa bodohnya saya pada pukul tiga pagi dan terserang panik akibat membayangkan kalau tiba-tiba gunungnya meletus!

Ada untungnya juga kami datang saat si gunung sedang aktif. Udara jadi lebih panas. Sejuk tetapi engga dingin. Sampai tengah malam sekalipun kami masih betah duduk-duduk di luar tenda. Kebetulan tidak ada angin ataupun badai. Puas dah menikmati suasana.

Perjalanan pulang, menanjak menuju Plawangan Senaru dahulu, baru kemudian turun lagi ke Desa Senaru lebih seperti perjalanan tiada akhir. Dimulai jam sepuluh pagi lalu berakhir pukul sepuluh malam. Sepanjang perjalanan pulang hanyalah ada kasur empuk, makanan, dan air panas saja di kepala. Ditambah dengan dengan pemikiran 'Duh, gak mau lagi lah ke Rinjani'. Perjalanan paling lama yang pernah saya lakukan, total empat hari empat malam di gunung. Jalan melulu, tiada hari tanpa berjalan. Super duper capek. Tetapi begitu sampai kaki gunung, dan melihat langit malam yang luas dan cerah, langsung deh merengek-rengek...Wuaaaaa balik lagi yuuuuuuuukk!

I really miss that place while I'm writing this.

Viktor, Naomi, Lina, Ina, Anton, Mahe, Mb. Indah, P.Dirta. I definitely couldn't make it without you all. Many thanks :) Dan banyakbanyakbanyak terimakasih untuk Allah SWT atas harihari cerah tanpa hujan, temanteman yang baik hati dan pelajaranpelajaran yang tersirat.

Ngomong-ngomong, Okta, ingat janjimu yah!;)

3 komentar:

asty mengatakan...

sendalnya!

oax' mengatakan...

Sandal melulu yang dikomentarin. kreatip dikit nape,asty??! :p

Anonim mengatakan...

Kaos kakinya.. (wis bedho to..)