Si warung rupanya memang terbukti sudah terkenal dari dahulu kala. Buktinya, interiornya jadul abis! Kursinya masih berupa kursi besi dengan sandaran dan dudukan dari vinyl warna merah. Dindingnya dipasangi keramik putih, ditambah foto pejabat yang berkunjung terpasang di dinding, etalase aluminum, serta pelayan yang berseragam batik. So old days.
Warung Satria menjual nasi ayam, mirip dengan nasi Kedewatan. Terdiri dari nasi, sate lilit, ayam suwir, lalapan, dan kacang. Bedanya, disini ditambah telur bumbu dan sup batang pisang campur ayam. Saya sedikit terkejut karena baru kali ini saya makan batang pisang di Bali. Bu Wayan yang sering sekali masak masakan lokal pun tidak pernah menggunakan batang pisang sebagai bahan masakannya. Karena itu saya jadi tidak familiar dengannya.
Menurut saya masakannya enak. Ada beberapa item yang lebih enak dari Nasi Kedewatan. Tuh lihat, si Gita saja menghabiskannya sampai bulir nasi terakhir (Oh, telur dan sate lilit itu memang disisakan untuk saat-sat terakhir. Kebiasaan.) Walau begitu, saya agak terheran-heran, karena sepi sekali. Hanya ada satu dua pembeli datang ketika kami makan. Warung terkenal dan masakannya enak begini kok bisa sepi sih?Ternyata saudara-saudara. Jawabannya ada pada saat membayar. Buseeeet satu porsi nasi aja harganya sembilan belas ribu. Ckckck pantas tidak seramai warung nasi ayam kebanyakan. Hihihi
Ps. Thanx for the talk, Gita. I miss you already :)

2 komentar:
heh ta kejadian saat itu adalah, ketika aku selesei menghabiskannya kamu baru memulai makan...dasar...malah sibuk merhatikan penjaga warung berbaju batik:p hooaaa okta bentar lagi aku tidak akan memakan nasi campur bali seperti ini lagi T_T
hehehe. makan kan untuk dinikmati, gita. pelan2 sajalah.
tenang git. nanti saya wakilkan untuk menyicipinya;)
Posting Komentar