6.3.10

Nge-jus katamuwh?

Hari Sabtu menjelang sore. Nona Vebri datang ke kos saya, mengajak keluar makan dengan agak tergesa. Sudah lapar berat sepertinya. Bahkan diakuinya bahwa Pilo, anjing kecilnya, ditinggalkannya menangis begitu saja. Humm.. lapar akut.

Pertama, saya mengusulkan untuk mencoba tempat makan baru, di Warungnya Perpustakaan Pondok Pekak. Setelah diwarnai drama salah jalan yang diperparah dengan macetnya Ubud kala akhir pekan tiba, sampailah kami di tengah kota. Setelah parkir mobil, kamipun berjalan-kaki menyusuri alun-alun untuk kemudian pada akhirnya menemukan bahwa warungnya sedang di renovasi. Hukss! Semakin lemaslah kami. Kalau sudah ditengah kota begini, mana bisa menemukan makanan murah. Terpaksa alokasi dana untuk makan diperbesar :((.

Kamipun reroute ke Juice Ja yang berselang beberapa toko saja dari alun-alun. Harga masih terjangkau, dan dijamin sehat. Selain itu, saya suka sekali duduk lesehan di depan restoran kecil ini sambil duduk memandangi orang-orang yang lalu lalang.

Sayangnya, sesampainya di sana saya menemukan bahwa Juice Ja penuh sekali. Lesehan kesayangan saya pun sudah ditempati sekelompok orang. Terpaksa kami mencari tempat agak ke dalam.

Ah, saya terkejut! Ternyata restoran ini pun memiliki area makan di galeri kecil di sebelahnya. Pada beberapa kunjungan saya sebelumnya yang bisa dihitung jari itu, area galeri ini tidak pernah dibuka. Kemungkinan besar karena saya selalu datang saat pengunjung sedikit (yaitu seperti saat Ubud sedang kebagian mati lampu atau saat orang-orang lebih memilih menonton ogoh-ogoh daripada makan. Ah!Yaiyalah!) sehingga area makan tambahan ini tak perlu dibuka.


Kami menemukan kursi kosong di pojok ruangan. Huaa.. i love sitting here. I can look closely to all of pretty little things they sell! Accessories, potteries, and jeweleries. Walau begitu, payung yang saya bawa sempat membuat saya khawatir ketika jatuh menyenggol vas dan membuat kegaduhan di seantero ruangan. Lha wong memecahkan berarti membeli jeh! Bisa bangkrut saya kalau vas itu benar-benar pecah, mengingat semua yang ada disitu harganya mahal semua. Untuuuuung... *mengelus dada.



Kali ini saya memesan nasi campur yang rasa tempe bumbu ricanya mengalahkan nasi campurnya sari organik, serta wheat-grass juice. Sewaktu jus wheatgrass itu datang dalam porsi sangat sedikit (satu sloki saja), perasaan saya jadi engga enak. "Biasanya kalo porsinya kecil begini, pasti deh rasanya gak karuan," batin saya sambil teringat jus campuran bit, wortel, seledri dan lemon yang terakhir kali saya pesan dari restoran ini. Uuugh.

Ternyata wheat-grass juice memang engga enak. Berasa benar-benar rumput. Terserah deh! Mau dibilang minuman sehat sehat tujuh turunan, tetap saya engga akan meminumnya setiap hari (emm...kecuali kalau gratis tentu saja). Kayak gini kok diberi nama jus sih? Lebih mirip jamu :((. Untung disajikan bersama jeruk lemon. Rasa rumputnya jadi lebih tawar, membuat saya bisa sedikit jaim ketika meminumnya.

Setelah meminum si jus hijau kecil itu, saya buru-buru meminum air putih berteguk-teguk. Cukup untuk membuat piring berisi nasi campur saya yang harganya merogoh kocek dalam-dalam itu belum begitu kosong ketika saya sudah merasa kenyang. Huaaa...!!

Tidak ada komentar: