Yak, saya berhasil menggaet Ina untuk main ke Pura Gunung Kawi bersama saya. Pagi-pagi pula. Saya tahu dia masih mengantuk berat waktu saya bangunkan. Lagipula rencana besarnya hari itu adalah menjadi warga negara yang baik dengan berpartisipasi dalam pemungutan suara. Sedangkan saya? Tidak sekalipun berusaha untuk mendapat hak suara. Ngikutin lewat tipi pun engga. Haiyah! Jangan ditiru ya anak-anak!:DPura Gunung Kawi terletak setengah jam perjalanan ke utara dari Ubud. Karena masih pagi, matahari yang belum terik dengan sinar yang masih kuning keemasan membuat perjalanan menyenangkan. Sampai di sana, loket tiket pun belum buka. Belum ada pengunjung sama sekali. Sewaktu bertanya pada orang sekitar tentang dimana kami bisa parkir motor, kami mendapat pertanyaan balik ‘Loh gak nyontreng??’ Saya jawab asal saja, ‘Ga bisa!’. Hihihi
Tapi memang mendapatkan tempat yang sepi adalah tujuan lancong pagi-pagi. Udara masih bersih, engga berisik, engga panas, hore sehat lah ya!
Di Pura Gunung Kawi terdapat candi yang dipahatkan langsung di dinding batu. Dijelaskan bahwa tempat ini merupakan bekas pertapaan dan petirtaan. Letaknya tepat di barat dan timur sungai Pakerisan. Menarik bagi saya karena selama ini saya mengenal masyarakat Bali memiliki budaya yang menganggap sungai sebagai halaman belakang saja, tempat dimana hal-hal kotor dan tidak baik berada (halaman belakang inilah yang kemudian dibeli murah oleh orang luar Bali untuk dimanfaatkan sebagai vila pribadi karena umumnya pemandangannya indah).
Dalam waktu dua jam acara wisata kami di sana, hanya kami berdualah turis lokal yang berkunjung. Hyaiyalah! Kan warga negara yang bandel cuma kita berdua saja:D. Eh ralat. Yang bandel cuma saya kok. Ina cuma terkena imbasnya:p.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar