13.4.09

pulang

Pulang ke rumah itu sama dengan menyegarkan ingatan dan meluruskan tujuan. Apa yang dulu saya perjuangkan dan apa yang kini saya perjuangkan. Tak harus sama memang. Manusia harus berkembang.

Pulang ke rumah selalu menyenangkan. Walau komplain yang terdengar kurang lebih selalu terdengar sama, seperti ‘kok tambah item?’, ‘itu luka apa lagi?’, ‘itu potongan rambut apa?’. Itu berarti semua sayang saya. Saya memang patut dirindukan. Hahaha.

Pulang ke rumah berarti mendapati kenyataan. Pohon yang tumbuh di pagar bata samping jendela kamar saya, yang dulu ketika muncul pertama kali entah dari mana, saya berani bertaruh dia tak akan hidup lama, sudah dewasa sekarang. Batangnya, (yup! Dia punya batang sekarang!) sudah mampu menghasilkan bayangan yang menakut-nakuti saya kala malam tiba.

Anak-anak yang tumbuh dewasa. Orang-orang yang semakin tua. Rumah-rumah baru dengan penghuni baru. Rumah-rumah lama dengan wajah baru. Jembatan baru. Jalan raya baru. Toko-toko yang tutup, warung-warung yang baru buka.

Pagi hari saat saya tiba di Jogja, saya langsung disambut hujan lebat seharian. Hari ketika saya meninggalkan Jogja, saya pun kembali diantar oleh hujan. Saya kirim pesan pendek pada dua teman baik saya : ‘… mellow banget rasanya..’ Keduanya dengan kompak menjawab dengan cerita tentang pria pujaan hatinya dan bagaimana saya harus bersemangat tentang urusan cinta-pada-pria.

Hahaha!Saya benar-benar dibuat melongo ketika membacanya. Soalnya, mellow saya lebih karena hujan membuat urusan tak adanya duit di kantong saya ini makin jelas. Dimana sehari sebelum pulang Jogja, tiba-tiba saya bangkrut karena harus membayar biaya perbaikan dua motor sekaligus. Dan ketika saya mau pulang Bali ini, kartu atm saya hilang bertepatan dengan perbaikan sistem phone bankingnya sehingga uang di kantong saya hanya cukup untuk membayar pajak bandara dan bensin Kuta-Ubud.

Huaaa…! Langsung deh saya cari palu. Untuk nggetok kepala saya sendiri.

Tidak ada komentar: