Ceritanya kemarin saya ditraktir ‘paket liburan diskon besar-besaran’ ke Bromo oleh Tiko (pinjem istilah:D). Eits, saya gak maksa lho..Yaah mungkin manas-manasin aja. Sedikit. Banget. HeheheSaya baru sadar betapa beruntungnya saya bahwa saya memiliki rute harian Ubud-Payangan ketika saya melewati jalanan Pulau Jawa yang super membosankan. Toko-toko sepanjang jalan yang menjual hal yang sama, penuh dengan papan reklame dengan iklan produk yang sama, debu, sedikit saja hijau yang terlihat. Semua orang menggunakan gaya berkendaraan yang sama, tertutup jaket, slayer mulut, helem tersegel rapat dibalik kaca hitam, kaos tangan, sepatu atau minimal kaos kaki. Yup, my being easily distracted habit while on the road was a bit controllable :D.
Bromo dan sekitarnya memang menyenangkan untuk mata, seperti biasanya. Lansekapnya kaya, mulai dari kebun sayur, padang rumput, padang ilalang, cemara sampai padang pasir pun ada. Dan semuanya tertata apik. Subhanallah. Pas untuk dimasukkan dalam frame.
Nah, berhubung semua teman perjalanan saya narsis (ga sadar diri :p), walhasil hampir seluruh waktu perjalanan dihabiskan untuk poto-poto. Lima orang, tiga kamera, dua tripod. Cukup?? Engga donk! Buktinya saat ini, dua orang sisanya pun jadi kepincut beli kamera juga. (Lah, sekarang saya bingung. Kalau semua orang pegang kamera, trus yang jadi model siapa?? *garuk2 kepala)
Asiknya naik Bromo adalah engga pake acara capek segala. Mau ke puncak? tinggal naik tangga. Males jalan kaki? Tinggal naik kuda. Karena gampangnya, tempat ini jadi ramai sekali dikunjungi. Begitu sampai di Penanjakan untuk menikmati matahari terbit, saya bertanya-tanya dalam hati, ini di gunung apa di pasar Mambal yak?? Seperti tak ada bedanya.
Ketika saya memandang langit biru di Bromo, saya selalu merasa bahwa saya sedang memandangi langit selatan Bali, dan sesaat kemudian menemukan saya sedang mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya sedang berada di Pulau Jawa. Kenapa ya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar