16.4.09

catatan kaki

Kamu tahu berapakah umur sebuah ide itu?
Cuma seayunan tangan. Satu gelengan kepala. Satu kernyitan dahi. Satu kerjapan mata dalam diam.
Kadang satu dering telepon. Satu pergantian lagu baru playlist. Satu suara ketel mendidih. Satu ketukan pintu.
Bisa juga satu lirikan ke buku dengan halaman berwarna. Satu sandungan tak sengaja ke dvd baru. Satu tumbukan tangan terhadap rubik.
Satu kali suara perut yang lapar. Satu kali rasa kantuk hinggap di mata. Satu kali rasa pusing menyerang kepala.
Satu detik saja rasa malas berpikir, malas menganalisa, malas menulis, malas membuat sketsa, malas melihat.
Haihai. Sependek itu saja ternyata. Maka hati-hati. Karena gampang sekali sebuah ide terkubur dalam-dalam selamanya.
Saya lebih memilih menjadi tukang kubur mayat daripada tukang kubur ide.

13.4.09

Eh ada si Abang!



+ : Aku mau naik abang.
++ : Hah! Abang siapa??
+ : … *melongo

Jadi, gunung pendek di sebelah timur Danau Batur itu namanya Gunung Abang. Sedikit lebih tinggi sedikit dari Gunung Batur. 2153asl saja. Bedanya dengan Batur yang gersang adalah gunung ini masih punya vegetasi sampai puncaknya. Maklum, sudah pendek, gak aktif pula. Tanah merahnya yang subur, membuat semua tumbuh rimbun. Warna merah ini pulalah yang membuatnya diberi nama Abang.

Walau pendek (jarak ke puncak cuma butuh 3,5 jam saja), treknya benar-benar lumayan buat latihan. Trek naik untuk menguji dengkul, trek turun untuk menguji jantung. Kenapa?? Sebab jarak antar pijakan jauh. Kaki saya kan pendek:D. Menurut saya, trek hutan Gunung Agung masih lebih ramah lah.

Sayang kami naik di hari yang salah,. Begitu sampai puncak, kabut dimana-mana. Jadi, danau, gunung, dan desa Trunyan di bawahnya tak terlihat jelas. Padahal hari-hari sebelumnya cuaca cerah ceria. Haiks!

Ya sudah. Lain kali tinggal naik lagi aja. Gampang to. Cuma di halaman belakang rumah aja ini..(ya kan Lin??=>)

Eh, sapa yang monyet??!

Acara lancong pagi hari pun berlanjut. Ke dekat-dekat rumah saja. Maklum lagi kere. Hiks! Pilihan pun ditetapkan. To the famously creepy Sangeh Forest!

Saya pernah melewati pinggir hutan ini dan terpesona dengan rimbunnya pepohonan pala yang ada. Tapi, mengingat sudah bisa dipastikan betapa ramainya tempat ini karena terhitung terkenal, maka Hutan Sangeh tak pernah tercantum dalam daftar acara jalan-jalan saya. Sampai hari ini.

Kami sampai dengan status sebagai pengunjung paling pertama dan menjadi penyebab petugas terpaksa membuka loket tiket. Sampai satu setengah jam kemudian keberadaan kami di tempat ini, kami tidak bertemu satu pun pengunjung lain! Hahaha.

Sebenarnya, adalah sebuah kewajiban untuk berjalan-jalan didalam hutan penuh monyet ini dengan ditemani pemandu, mengingat monyet-monyet disini sedikit agresif. Tapi saya berhasil membuat si pemandu untuk meninggalkan kami dengan hanya bertanya satu pertanyaan saja:”Memangnya harus ya semua pengunjung ditemani guide??”. Beliau langsung balik badan meninggalkan saya yang terbengong-bengong sambil berpesan: ‘Jangan pegang-pegang monyet ya!’.

Memangnya mau pegang monyet yang mana, Pak?! Masih jam lapan pagi. Fakta menunjukkan bahwa monyet-monyet pemalas masih tidur di atas pohon. Jadilah kami sebagai si penguasa hutan. Hehehe. Untunglah tidak ada orang lain. Kalau ada pasti mereka akan terheran-heran melihat betapa narsisnya kami dengan kamera. Motret muka sendiri tentu saja. Who cares about the monkeys, ahaha:)).

Jadi, bisa dikatakan bahwa, yang hobi bangun siang itu tidak ada bedanya dengan monyet-monyet. Huahaha. Untung hari ini saya bangun pagi :D

Hidup Lancong!

Yak, saya berhasil menggaet Ina untuk main ke Pura Gunung Kawi bersama saya. Pagi-pagi pula. Saya tahu dia masih mengantuk berat waktu saya bangunkan. Lagipula rencana besarnya hari itu adalah menjadi warga negara yang baik dengan berpartisipasi dalam pemungutan suara. Sedangkan saya? Tidak sekalipun berusaha untuk mendapat hak suara. Ngikutin lewat tipi pun engga. Haiyah! Jangan ditiru ya anak-anak!:D

Pura Gunung Kawi terletak setengah jam perjalanan ke utara dari Ubud. Karena masih pagi, matahari yang belum terik dengan sinar yang masih kuning keemasan membuat perjalanan menyenangkan. Sampai di sana, loket tiket pun belum buka. Belum ada pengunjung sama sekali. Sewaktu bertanya pada orang sekitar tentang dimana kami bisa parkir motor, kami mendapat pertanyaan balik ‘Loh gak nyontreng??’ Saya jawab asal saja, ‘Ga bisa!’. Hihihi

Tapi memang mendapatkan tempat yang sepi adalah tujuan lancong pagi-pagi. Udara masih bersih, engga berisik, engga panas, hore sehat lah ya!

Di Pura Gunung Kawi terdapat candi yang dipahatkan langsung di dinding batu. Dijelaskan bahwa tempat ini merupakan bekas pertapaan dan petirtaan. Letaknya tepat di barat dan timur sungai Pakerisan. Menarik bagi saya karena selama ini saya mengenal masyarakat Bali memiliki budaya yang menganggap sungai sebagai halaman belakang saja, tempat dimana hal-hal kotor dan tidak baik berada (halaman belakang inilah yang kemudian dibeli murah oleh orang luar Bali untuk dimanfaatkan sebagai vila pribadi karena umumnya pemandangannya indah).

Dalam waktu dua jam acara wisata kami di sana, hanya kami berdualah turis lokal yang berkunjung. Hyaiyalah! Kan warga negara yang bandel cuma kita berdua saja:D. Eh ralat. Yang bandel cuma saya kok. Ina cuma terkena imbasnya:p.

ke Bromo numpang becak

Ceritanya kemarin saya ditraktir ‘paket liburan diskon besar-besaran’ ke Bromo oleh Tiko (pinjem istilah:D). Eits, saya gak maksa lho..Yaah mungkin manas-manasin aja. Sedikit. Banget. Hehehe

Saya baru sadar betapa beruntungnya saya bahwa saya memiliki rute harian Ubud-Payangan ketika saya melewati jalanan Pulau Jawa yang super membosankan. Toko-toko sepanjang jalan yang menjual hal yang sama, penuh dengan papan reklame dengan iklan produk yang sama, debu, sedikit saja hijau yang terlihat. Semua orang menggunakan gaya berkendaraan yang sama, tertutup jaket, slayer mulut, helem tersegel rapat dibalik kaca hitam, kaos tangan, sepatu atau minimal kaos kaki. Yup, my being easily distracted habit while on the road was a bit controllable :D.

Bromo dan sekitarnya memang menyenangkan untuk mata, seperti biasanya. Lansekapnya kaya, mulai dari kebun sayur, padang rumput, padang ilalang, cemara sampai padang pasir pun ada. Dan semuanya tertata apik. Subhanallah. Pas untuk dimasukkan dalam frame.

Nah, berhubung semua teman perjalanan saya narsis (ga sadar diri :p), walhasil hampir seluruh waktu perjalanan dihabiskan untuk poto-poto. Lima orang, tiga kamera, dua tripod. Cukup?? Engga donk! Buktinya saat ini, dua orang sisanya pun jadi kepincut beli kamera juga. (Lah, sekarang saya bingung. Kalau semua orang pegang kamera, trus yang jadi model siapa?? *garuk2 kepala)

Asiknya naik Bromo adalah engga pake acara capek segala. Mau ke puncak? tinggal naik tangga. Males jalan kaki? Tinggal naik kuda. Karena gampangnya, tempat ini jadi ramai sekali dikunjungi. Begitu sampai di Penanjakan untuk menikmati matahari terbit, saya bertanya-tanya dalam hati, ini di gunung apa di pasar Mambal yak?? Seperti tak ada bedanya.

Ketika saya memandang langit biru di Bromo, saya selalu merasa bahwa saya sedang memandangi langit selatan Bali, dan sesaat kemudian menemukan saya sedang mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya sedang berada di Pulau Jawa. Kenapa ya?

pulang

Pulang ke rumah itu sama dengan menyegarkan ingatan dan meluruskan tujuan. Apa yang dulu saya perjuangkan dan apa yang kini saya perjuangkan. Tak harus sama memang. Manusia harus berkembang.

Pulang ke rumah selalu menyenangkan. Walau komplain yang terdengar kurang lebih selalu terdengar sama, seperti ‘kok tambah item?’, ‘itu luka apa lagi?’, ‘itu potongan rambut apa?’. Itu berarti semua sayang saya. Saya memang patut dirindukan. Hahaha.

Pulang ke rumah berarti mendapati kenyataan. Pohon yang tumbuh di pagar bata samping jendela kamar saya, yang dulu ketika muncul pertama kali entah dari mana, saya berani bertaruh dia tak akan hidup lama, sudah dewasa sekarang. Batangnya, (yup! Dia punya batang sekarang!) sudah mampu menghasilkan bayangan yang menakut-nakuti saya kala malam tiba.

Anak-anak yang tumbuh dewasa. Orang-orang yang semakin tua. Rumah-rumah baru dengan penghuni baru. Rumah-rumah lama dengan wajah baru. Jembatan baru. Jalan raya baru. Toko-toko yang tutup, warung-warung yang baru buka.

Pagi hari saat saya tiba di Jogja, saya langsung disambut hujan lebat seharian. Hari ketika saya meninggalkan Jogja, saya pun kembali diantar oleh hujan. Saya kirim pesan pendek pada dua teman baik saya : ‘… mellow banget rasanya..’ Keduanya dengan kompak menjawab dengan cerita tentang pria pujaan hatinya dan bagaimana saya harus bersemangat tentang urusan cinta-pada-pria.

Hahaha!Saya benar-benar dibuat melongo ketika membacanya. Soalnya, mellow saya lebih karena hujan membuat urusan tak adanya duit di kantong saya ini makin jelas. Dimana sehari sebelum pulang Jogja, tiba-tiba saya bangkrut karena harus membayar biaya perbaikan dua motor sekaligus. Dan ketika saya mau pulang Bali ini, kartu atm saya hilang bertepatan dengan perbaikan sistem phone bankingnya sehingga uang di kantong saya hanya cukup untuk membayar pajak bandara dan bensin Kuta-Ubud.

Huaaa…! Langsung deh saya cari palu. Untuk nggetok kepala saya sendiri.

12.4.09

belajar

untuk teman.

yang sudah memperlihatkan pada saya tentang sabar.

yang sudah memperlihatkan pada saya tentang cinta mati.

yang sudah memperlihatkan pada saya tentang arti hidup.

terimakasih.

dan selamat jalan.

salam,
Srikandi:p