6.11.09

favemusee

Sabtu akhir pekan yang ini saya menemani Made Ari Kurnianingrum dan Made Sugiantara jalan-jalan keliling Ubud. Ceritanya saya jadi guidenya. Ting tong! Merasa ada yang aneh tak?? Haiks! Gimana sih ini? yang orang Bali aseli malah minta di guide-in sama orang Jawa. Ckckck. Untung mereka sadar :))

Salah satu yang dikunjungi adalah Museum Arma milik Agung Rai. Sebelumnya saya belum pernah mengunjunginya, males. Sepertinya membosankan. Tetapi yah, begitu masuk, langsung deh saya nyesel kenapa gak dari dulu-dulu saya berkunjung kesini.

Bangunannya sih biasa, tetapi koleksinya dahsyat. Setidaknya menurut saya :D. Pak Agung membagi koleksinya menjadi dua. Pertama adalah koleksi lukisan para pelukis Bali dari jaman jebot yang masih berbentuk ala kamasan (lukisan di atas kayu, biasanya dipajang sebagai bagian dari rumah) sampai yang kontemporer. Yang saya kagumi dari para pelukis Bali ini adalah kedetilannya. Saya, yang menyukai untuk berlama-lama mengagumi kedetilan sebuah lukisan, sampai capek sendiri. Gak sanggup deh mata saya untuk meneliti satu persatu lukisan yang ada.

Ada satu lukisan akrilik bercerita tentang kesibukan sebuah 'upacara' di Bali, menggambarkan banyak aktivitas, dilukis dengan detil ke-cil-ke-cil yang sangat ra-pi. Saya gak bisa ngebayangin deh seberapa kecil kuasnya dan gimana gigihnya si pelukis menggoreskanya. Ceritanya lukisan itu ditemukan tak sengaja sewaktu beliau berjalan-jalan ke desa. Pelukisnya adalah petani muda yang tidak bisa membaca.

Lalu kelompok kedua adalah kelompok lukisan dari pelukis modern kontemporer. Isinya, mulai dari Popo Iskandar, Raden Saleh, Richard Bonnet, Basuki Abdullah, Affandi, Made Wianta, Peter Dittmar dan nama-nama beken lainnya. Dan saya terpekik kegirangan waktu saya masih bisa mengenali karya Jeihan dari kejauhan. (Apa kabar beliau?apa karya terbarunya ya?).

Andalan museum ini adalah Walter Spies. Pelukis Rusia yang ambil bagian dalam mengenalkan Bali (dan Ubud tentu saja) sebagai Island of Paradise di negara Barat. Walau hanya satu karya asli yang dipamerkan disini, tetap repro-repronya mempesona. Saya selalu menyukai palet warnanya. Fancy colour but mysterious.

Sebelum pulang, saya sempat mengobrol dengan Pak Agung Rai. Museum ini dibangunnya untuk menyandingkan karya2 lokal dengan internasional. "Biar orang ga lupa dengan akarnya sendiri,"katanya. Saya sempat juga mendapat kuliah agak panjang tentang sejarah Bali, agak ruwet. Sekarang saja saya lupa sebagian besar yang beliau ceritakan. Dua kawan asli Bali saya itu pasang tampang kebosananan pengen pulang, waktu saya dan Pak Agung ngobrolin sejarah Bali. Semacam mengulang pelajaran sejarah sekolah sepertinya.

Ngomong-ngomong, enak yah jadi Pak Agung. Punya museum, waktunya sebagian besar dihabiskan untuk nemenin pengunjung museumnya jalan-jalan aja, ngobrol, cerita sana-sini. Santai, gak pusing. Haiya.....

Ps. Image terakhir dipinjam dari koleksi Sugi

4 komentar:

tellmewhat03 mengatakan...

ih.....aq ga di guide-in.....T.T

okta zaida mengatakan...

kan kemaren udah ada asisten guide, dilengkapi tele camera super canggih pulak ;))

Anonim mengatakan...

Dua kawan asli Bali saya itu pasang tampang kebosananan pengen pulang --> wah!! saya tidak terima ini..hahaha..Lho Ta, bukannya tampangmu yang kebosanan? makanya aku ikut2an..hahaha

okta zaida mengatakan...

sebenarnya waktu itu aku pasang tampang engga nge-dong. makanya beliau ga brenti2 kasih penjelasan :))