
Satu hal yang menarik dari Panglipuran dan diluar dugaan saya adalah hampir semua atap rumah di sana terbuat dari bambu. Bambu dipotong2 dan ditumpuk sampai beberapa lapis hingga tebal dan mampu menahan air. Cara menyambung antar bambu pun unik, cuma disisipkan saja.

Ga cuma atap. Mulai kandang ayam, dinding lumbung desa, sampai tempat sampah pun seragam, pakai bambu.

Gak heran. Setelah menelusuri desa, ternyata di sisi utaranya, di belakang pura utama, adalah hutan bambu seluas 45 hektar.

Ternyata konsep sustainable city yang diagung2kan dunia setelah isu pemanasan global meluas sudah dipraktekkan desa di ujung Bali ini. Mereka menggunakan sumber daya alam paling dekat dengan tempat tinggal mereka sendiri untuk membangun rumahnya. Dan herannya lagi, warga desa ini tidak memungut bayaran sama sekali untuk pengunjung, alias mereka sendiri sudah mampu menghidupi diri sendiri tanpa mengandalkan orang luar.
Semoga tidak berubah sampai suatu saat saya kembali lagi mengunjungi desa ini.

6 komentar:
fotonya bagus-bagus.. lensa leica emang ok ya..
Pandai menebak lensa juga masnya ini.Tapi sebenarnya yang lebih berperan adalah orang di belakang lensa sih.... :p
oke, Ta... sepertinya bisa diangkat neh, kamu kurang detil sih tulisannya, kan bisa kuunduh kalo lengkap, hahahahha
putex.wordpress.com
lah yang wartawan kan situ,put! kok saya yang harus nulis dengan detil ;)
aduh ta...sustainable doesn't even existed...it's only nature....eh mau dong ke desa ini...hihiy....desember yak...
If nature is not sustainable, then why this earth ages 4,54 billion years? :)
Posting Komentar